Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Februari, Luka yang Mengudara



Sudah sepuluh hari sejak pertama kali Tara diperbolehkan untuk makan bersama dengan Nusa tapi dengan syarat dia harus diam. Meskipun sedikit menyiksa tapi Tara dapat bertahan selama sepuluh hari ini untuk menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena jika tidak Nusa pasti akan marah dan tidak akan mengizinkannya lagi untuk dekat dengannya apalagi duduk berdampingan seperti sekarang ini.


"Nusa mana yah, cepat banget ngilangnya padahal bel istirahat baru berbunyi. Padahal kan pengen makan bareng, udah hari kesebelas semoga ada kemajuan. Aamiin," harap Tara dalam hatinya.


Tara berjalan gontai menuju lapangan belakang sekolah namun Tara harus menelan pil pahit karena Nusa tidak didapati berada di sana.


"Nusa kemana sih? Kalau gak di sini terus dia dimana lagi coba, kan cuma ini satu-satunya tempat favoritnya.


Karena tidak mendapati batang hidung Nusa di halaman belakang, Tara berusaha mencarinya diberbagai tempat yang dirasa cukup sepi dan jarang didatangi orang lain. Setelah sepuluh menit berputar di lingkungan sekolah mulai dari kantin, taman, lapangan, ruang guru, toilet, akhirnya Tara menyerah melemaskan kakinya yang sedari tadi pegal setelah berkeliling. Tara duduk di bangku taman, tanpa sengaja ia mendapati sosok tidak asing di atas atap.


"Ehhh..itu Nusa bukan ya. Kayaknya sih iya tapi apa benar itu Nusa ya, gak kelihatan jelas dari sini, tapi kayaknya iya deh itu Nusa," gumam Tara berkutat dengan pikirannya sendiri. Coba samperin aja deh. Batin Tara bangkit dari tempat duduknya lalu ia mengurungkan niatnya sesaat setelah Nusa menerbangkan sebuah pesawat kertas.


"Lah, ngapain Nusa menerbangkan pesawat kertas segala, dia kira ini waktunya untuk bermain apa," cetus Tara sedikit kesal.


"Tapi pesawatnya jatuh dimana ya, kayanya di semak-semak taman dekat gudang," gumam Tara lagi berlari menuju taman dekat gudang, dimana taman tersebut tidak terurus karena terpampang sebuah pamflet besar yang bertulisan taman terbengkalai, barang siapa yang membersihkannya akan dikenakan denda lima juta rupiah berbeda dengan taman satunya lagi, yaitu taman depan yang tampak rapi dan bersih ditumbuhi banyak tanaman dan bunga yang beraneka warna. Memang, kepala sekolah SMA Negeri 1, pemikirannya agak unik dan tak ada seorangpun yang berani untuk membantahnya.


"Ini dia pesawat kertas yang diterbangkan Nusa," girang Tara saat pesawat kertas itu berada di tangannya. Tunggu, kenapa juga harus kegirangan begini, emangnya dapat hadiah umroh makanya harus kesenangan kaya gini. Sadar Ra, Nusa itu terpaksa membiarkanmu untuk dekat dengannya," Tara menepuk-nepuk kedua pipinya, menyadarkan dirinya yang hanya sebatas teman makan bareng bagi Nusa, tidak lebih.


"Ada tulisannya, berarti bukan sembarang pesawat kertas biasa," batin Tara lagi begitu melihat pesawat kertas yang diterbangkan Nusa ternyata adalah surat yang dibentuk menjadi sebuah pesawat.


Februari, Luka yang mengudara


Sudah sepuluh hari sejak pertama kali Tara diperbolehkan untuk makan bersama dengan Nusa tapi dengan syarat dia harus diam. Meskipun sedikit menyiksa tapi Tara dapat bertahan selama sepuluh hari ini untuk menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena jika tidak Nusa pasti akan marah dan tidak akan mengizinkannya lagi untuk dekat dengannya apalagi duduk berdampingan seperti sekarang ini.


"Nusa mana yah, cepat banget ngilangnya padahal bel istirahat baru berbunyi. Padahal kan pengen makan bareng, udah hari kesebelas semoga ada kemajuan. Aamiin," harap Tara dalam hatinya.


Tara berjalan gontai menuju lapangan belakang sekolah namun Tara harus menelan pil pahit karena Nusa tidak didapati berada di sana.


"Nusa kemana sih? Kalau gak di sini terus dia dimana lagi coba, kan cuma ini satu-satunya tempat favoritnya.


Karena tidak mendapati batang hidung Nusa di halaman belakang, Tara berusaha mencarinya diberbagai tempat yang dirasa cukup sepi dan jarang didatangi orang lain. Setelah sepuluh menit berputar di lingkungan sekolah mulai dari kantin, taman, lapangan, ruang guru, toilet, akhirnya Tara menyerah melemaskan kakinya yang sedari tadi pegal setelah berkeliling. Tara duduk di bangku taman, tanpa sengaja ia mendapati sosok tidak asing di atas atap.


"Ehhh..itu Nusa bukan ya. Kayaknya sih iya tapi apa benar itu Nusa ya, gak kelihatan jelas dari sini, tapi kayaknya iya deh itu Nusa," gumam Tara berkutat dengan pikirannya sendiri. Coba samperin aja deh. Batin Tara bangkit dari tempat duduknya lalu ia mengurungkan niatnya sesaat setelah Nusa menerbangkan sebuah pesawat kertas.


"Lah, ngapain Nusa menerbangkan pesawat kertas segala, dia kira ini waktunya untuk bermain apa," cetus Tara sedikit kesal.


"Tapi pesawatnya jatuh dimana ya, kayanya di semak-semak taman dekat gudang," gumam Tara lagi berlari menuju taman dekat gudang, dimana taman tersebut tidak terurus karena terpampang sebuah pamflet besar yang bertulisan taman terbengkalai, barang siapa yang membersihkannya akan dikenakan denda lima juta rupiah berbeda dengan taman satunya lagi, yaitu taman depan yang tampak rapi dan bersih ditumbuhi banyak tanaman dan bunga yang beraneka warna. Memang, kepala sekolah SMA Negeri 1, pemikirannya agak unik dan tak ada seorangpun yang berani untuk membantahnya.


"Ada tulisannya, berarti bukan sembarang pesawat kertas biasa," batin Tara lagi begitu melihat pesawat kertas yang diterbangkan Nusa ternyata adalah surat yang dibentuk menjadi sebuah pesawat.


*Februari datang lagi, menyapa insan yang tengah patah hati. Luka itu masih terasa hingga saat ini, luka yang tak akan mungkin sembuh meski telah berlalu enam tahun lamanya. Nusa, nama yang indah bukan? Nama pemberian orangtua yang kini sudah berada di surga. Aku bersyukur masih bisa berdiri tegak di sini, menjalani hari-hari sendiri;sepi.


Sejak kejadian itu aku menjadi pribadi baru, menjauhkan diri dari hiruk pikuk manusia, bukan tak ingin tapi demi kebaikan mereka. Angin, sudah berapa banyak pesawat kertas yang kulayangkan? Entahlah, aku sendiripun tidak pernah menghitungnya. Luka itu kutuangkan dalam sebuah kertas lewat goresan pena, kulipat menjadi pesawat dan kutitipkan semua keluh dan kesah lewat angin yang mengudara, biarkan ia membawa luka ini pergi meski hanya sesaat.


Pada akhirnya pesawat itu akan mendarat juga, ada yang langsung jatuh menghantam tanah, mengudara dan jatuh saat terkena hujan, tak jarang ada yang tenggelam jauh ke dasar lautan. Meski sesaat, cukup membuat lega dan mengobati sedikit luka yang masih menganga. Angin, jangan pernah merasa bosan menerbangkan luka seorang anak manusia bernama Nusa. Dia berdiri sendiri, menapaki dunia tanpa punya tempat untuk berbagi. Selamat atas enam tahun luka yang masih terasa.*


Tes! Tanpa memberi aba-aba, butiran bening itu membasahi pipi Tara. Entah mengapa, hatinya merasa sakit saat membaca surat tersebut. Rasanya ia sedikit mengerti kenapa Nusa bersikap demikian, dibalik sikap dingin dan cueknya, dia memiliki luka hati yang mungkin sangat sulit untuk disembuhkan. Berbeda halnya dengan luka fisik yang mudah disembuhkan, perihal hati siapapun tak dapat menangani bahkan dokter terhebat sekalipun belum tentu bisa mengobatinya.


Grab!


Tara terperanjat saat surat yang dipegangnya dirampas oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Nusa. Ia tampak terengah-engah, sepertinya Nusa berlari sekuat tenaga saat menyadari ada orang yang memungut suratnya. Namun Nusa kalah cepat dari Tara, karena semua isi dalam surat tersebut telah dibaca tanpa terlewat satu patah kata pun. Wajah Nusa kini merah padam, entah karena kecapekan berlarian dari atap sekolah menuju taman, entah karena emosi yang sudah memuncak. Entahlah, siapa yang tau karena kini tampaknya Nusa benar-benar ingin melenyapkan Tara, gadis yang mengganggu ketentraman kehidupan sekolahnya.


"Maaf Sa, aku gak bermaksud lancang untuk membaca surat itu," Tara berucap gelagapan.


"Jangan pernah dekat-dekat samaku lagi. Mulai hari ini dan seterusnya jangan pernah makan barengku lagi, jangan datang ke taman belakang lagi, jangan pernah mempunyai niat untuk mendekatiku karena sekeras apapun kamu mencoba, aku akan dengan tegas menolak dan menghindar," tegas Nusa meninggalkan Tara begitu saja.


Tara yang ditinggal Nusa, hanya bisa berdiam diri mencoba mencerna semua ucapan dari Nusa. Seharusnya Tara senang karena baru kali ini Nusa berbicara sebanyak ini dengannya namun kali ini Tara patutlah bersedih. Mulai hari ini dan seterusnya Nusa tidak akan mengizinkan Tara untuk dekat dengannya, lalu apa yang harus Tara lakukan sekarang? Nusa adalah orang yang membuatnya semangat saat berada di sekolah, meski ditolak ia tak akan menyerah sama sekali namun kali ini berbeda karena Tara telah melakukan kesalahan yang mungkin tak akan bisa dimaafkan oleh Nusa.


"Zha, Nusa marah samaku, dia gak mau aku dekat-dekat dengannya lagi," ucap Tara dengan wajah murung.


"Loh kok bisa?"


"Tenyata benar kalau Nusa itu punya masalah, kayanya ada suatu kejadian yang membuat dia jadi kaya sekarang ini. Kemaren aku menemukan surat yang berbentuk pesawat kertas yang diterbangkan Nusa dari atap, terus aku cari surat itu dan aku baca. Nusa marah karena aku lancang membaca isi surat itu, dan dia bilang aku harus jauh-jauh darinya. Sejujurnya aku gak nyesal telah membaca surat itu karena akhirnya aku tau sedikit alasan kenapa dia menjadi pribadi yang tertutup kaya gini malah aku kepengen bantuin Nusa supaya dia bisa mengobati luka hatinya itu. Tapi gimana caranya Zha, Nusa benar-benar gak mau kenal sama aku lagi, bahkan tadi pagi aja dia menghindar sebelum aku menyapa dia."


"Aku tau kamu orang yang pantang menyerah, kalau memang niatnya pengen membuat Nusa menjadi lebih baik lagi, setidaknya mengobati sedikit luka hatinya itu, aku akan dukung kamu kok Ra. Soal ditolak, bukannya Nusa hampir selalu menolak kedatangan kamu, jadi bukan masalah kan untukmu mengatasi hal itu?"


"Iya Zha, kamu bener aku akan tetap semangat untuk mendekati Nusa lagi. Karena sejak awal, aku ingin sekali dekat dengannya, ditambah kejadian kemarin aku ingin ada di sampingnya disaat dia merasa sedih dan menjadi orang pertama yang memberinya semangat."


~Bersambung~