
Tara berjalan menuju taman dengan langkah riang, menuju pepohonan yang tumbuh di lingkungan sekolah. Seperti biasa, ia akan segera mengumpulkan sepuluh dedaunan kering dari setiap pohon yang berbeda. Mengapa sepuluh? Karena di sekolahnya hanya ada sepuluh pohon yang membuat Tara harus mengumpulkan satu dedaunan kering dari setiap pohon tersebut. Sekolah Tara termasuk sekolah yang asri dan luas bangaimana tidak sekolahnya bahkan memiliki beberapa taman mulai dari taman bunga yang ada di halaman sekolah, taman belakang tempat biasa anak-anak ekstrakurikuler berlatih, bahkan taman terbengkalai juga ada sebagai tempat untuk riset dan penelitian bagi anak-anak IPA.
Lima menit lagi bel akan berbunyi, dan Tara sudah mengumpulkan tujuh lembar daun kering yang dimana ia harus pergi ke taman terbengkalai untuk mengambil tiga daun yang lainnya, yaitu daun dari pohon ceri, sawo, dan asam Jawa. Tara memungut satu persatu dedaunan kering yang berjatuhan, tampak di taman terbengkalai ada beberapa tanaman hasil percobaan yang dilakukan anak-anak IPA yang memakai metode cangkok, penyambungan dan lain-lain. Di saat Tara tengah fokus dan asyik memungut dedaunan, ia dikagetkan dengan tepukan seseorang di pundaknya sontak Tara menoleh.
"Masuk Ra, udah bel nanti kamu dihukum lagi," ujar seseorang yang menepuk pundaknya tadi yang membuat Tara membulatkan kedua bola matanya.
Bukannya menjawab, Tara malah cengengesan gak jelas begitu tau yang ada di hadapannya adalah Nusa.
"Malah cengengesan, yuk balik ke kelas," Nusa meraih pergelangan tangan Tara menyeretnya meninggalkan taman terbengkalai.
"Tunggu Sa, aku mau ambil satu daun lagi yaitu daun dari pohon asam Jawa," tolak Tara melepaskan tangannya dari Nusa.
"Yaudah sana cepetan," Nusa mengizinkan Tara untuk mencari satu daun lagi. Tara mengais-ngais dedaunan yang berserakan mencari daun dari pohon asam Jawa, tampaknya tercampur dengan dedaunan kering yang lain.
"Ini," Nusa menyerahkan satu daun yang membuat Tara girang bukan main. Nusa menemukan daun asam Jawa yang Tara cari dimana Tara akan menyimpan daun itu sebaik mungkin karena itu adalah pemberian dari Nusa.
"Makasih Sa," ucap Tara tersenyum lebar sebelum mengikuti Nusa bejalan kembali menuju kelas.
Sejak memasuki kelas, Tara tak henti-hentinya tersenyum sumringah seperti orang gila. Zhafira yang duduk di sampingnya merasa takut akan sahabatnya yang aneh, ya meskipun Tara memanglah orang aneh namun kali ini lebih aneh lagi. Masa iya dia senyum-senyum sendiri tanpa sebab, kerasukan setan kali ya, pikir Zhafira dalam hati.
"Ra, bisa gak berhenti untuk senyum-senyum gaje kaya gitu? Ngeri tau lihatnya," akhirnya Zha jengah dan merasa tak nyaman melihat pemandangan tak biasa tepat di sebelah kanannya.
"Aku lagi senang tau," balas Tara masih dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Senang sih senang cuma lihat situasi dan kondisi dong. Kalau orang lain lihat kamu kaya gini, benar-benar dikira gila kamu Ra. Di masukin ke RSJ baru tau rasa."
"Ehh....Zha, doanya kok kaya gitu. Gak boleh tau gak! Lagian aku senang banget karena tadi pagi Nusa bantuin aku mencari daun kering dari pohon asam Jawa dan tanpa basa-basi dia langsung kasi daun itu ke aku, padahal aku sama sekali gak minta bantuan dia. Kalau aja gak ada dia, mungkin aku bakalan telat masuk kelas dan di hukum. Pokoknya aku senang banget karena Nusa tuh baik banget gak seperti yang kita kira sikapnya juga manis lagi," jelas Tara panjang lebar yang hanya disambut anggukan oleh Zha karena ia tak mau menanggapi perkataan Tara karena ia yakin apapun yang akan dikatakannya nanti pasti tak berlaku bagi orang yang sedang kasmaran seperti Tara ini.
✓✓✓
"Ra, aku pulang duluan ya. Besok jadikan kita kerja kelompoknya?"
"Iya Zha jadi di rumahku. Yaudah sana pulang, hati-hati yo," Tara melambaikan tangannya pada Zhafira yang sudah di jemput oleh kakaknya.
Seperti biasa Tara selalu menunggu angkot yang lewat di dl halte. Sudah menjadi hal wajib bagi Tara untuk mendengarkan musik lewat smartphonenya atau sekedar mendengar radio yang biasanya terdapat ramalan zodiak yang selalu ditunggu-tunggu olehnya.
"Gak usah Van, ntar lagi angkotnya juga datang kok," tolak Tara pada tawaran Evan.
"Ayolah Ra, biar aku antar aja ke rumah sekalian ketemu sama Tante Karina dan om Gavin, bang Sean juga," paksa Evan yang membuatnya merasa tak nyaman.
"Makasih Van, tapi serius sebentar lagi angkotnya bakalan dateng kok. Lagian kamu telat nawarinnya, seharusnya dari tadi kan aku gak perlu capek-capek nungguin angkot. Sekarang mah udah tanggung kalau aku pulang sekarang," jelas Tara masih menolak.
"Yahh....padahal aku mau main ketempat mu udah lama juga. Kagen," seru Evan memasang wajah kecewa.
"Tapi serius angkotnya beneran datang? Kok kayanya sepi ya sedari tadi gak ada tuh angkot yang lewat."
"Iya emang gitu, angkot lumayan lama kesini."
"Udahlah Ra, daripada menunggu ketidakpastian angkotnya datang atau gak, mending aku anterin pulang aja. Kalau dari tadi kita pergi, kamu mah udah sampe rumah," paksa Evan lagi yang membuat Tara semakin tidak nyaman.
"Anda paham kan apa yang diucapkan oleh Tara? Dia tidak ingin pulang bersama anda, tolong dimengerti. Jangan paksa dia, lihat dia sudah merasa tak nyaman dengan anda yang ingin sekali mengajaknya pulang. Tara bukan anak kecil lagi, dia bisa pulang sendiri dan lagi memang benar angkotnya sebentar lagi akan segera datang. Anda tidak perlu khawatir dengan Tara karena ia selalu baik-baik saja ketika sampai di rumah," ucap Nusa pada Evan yang tiba-tiba datang menghampiri Tara yang duduk di halte.
"Aku duluan ya Ra, lain kali kita pulang bareng," ucap Evan tancap gas tanpa melirik Nusa sama sekali, tampaknya ia sangat kesal mendengar ucapan Nusa.
"Makasih ya Sa, aku gak tau cara nolak dia gimana. Dari tadi maksa terus ,meskipun dia itu teman masa kecilku tapi gak sepantasnya kan dia maksa aku kaya gitu," terang Tara menghela napas lega.
Seperti biasa, Nusa irit suara. Ia hanya diam menatap Tara yang masih fokus mendengarkan ramalan zodiaknya lewat headsetnya.
"Yuk ikut aku."
"Kemana?"
"Kemana aja, bilang sama orangtuamu kalau kamu pulang telat hari ini," terang Nusa membuat Tara semakin bingung.
"Kamu mau ajak aku jalan-jalan ya Sa? Tapi aku lagi gak pengen, mau ngerjain tugas yang udah numpuk," tolak Tara dengan berat hati.
"Kita kerjain bareng. Lagipula kita gak pergi jauh-jauh kok. Udah yuk pergi," Nusa menarik pergelangan tangan Tara tanpa menunggu jawaban darinya sedangkan Tara hanya ikut saja kemanapun Nusa membawanya pergi. Nusa menjadi sangat keren di mata Tara yang membuatnya seperti terbang jauh ke angkasa.
~Beraambung~