
"Ra, kamu ngapain di luar? Masuk yuk, tidur. Besok kita banyak kegiatan, nanti kesiangan lagi," ucap Zhafira pada Tara yang tengah duduk diluar sendirian.
"Ra, kamu dengar aku gak?"
"Iya aku dengar kok Zha," jawab Tara tanpa melihat wajah orang yang mengajaknya bicara.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatikan, kamu terlihat aneh, gak kaya biasanya."
"Zha, aku benar-benar bodoh ya."
"Hah...maksud kamu apa Ra?"
"Aku bodoh banget Zha. Maafin aku ya Zha karena buat kamu dan yang lain khawatir," ucap Tara dengan mata berkaca-kaca.
"Iya gak papa, tapi jangan diulangi lagi ya Ra. Kamu tau, Nusa sangat khawatir sama kamu."
"Iya aku tau, tadi dia udah ngomong semuanya. Semua yang menjadi unek-uneknya sudah dikeluarkannya tadi dan aku sama sekali gak bisa menyangkal atau bahkan membalas ucapannya," lirih Tara menenggelamkan kepalanya di antara dua kaki yang dirapatkan.
"Nusa ngomong apa sama kamu?"
"Dia bilang aku egois, aku gak peduli dengan orang-orang yang sayang sama aku. Aku seperti mempermainkan nyawa, mempermainkan hidupku padahal orang lain ingin mendapatkan kehidupan. Gitu kata Nusa tadi," jelas Tara dengan air mata yang tidak dapat dibendung lagi.
"Aku gak tau mau merespon seperti apa, tapi kali ini aku setuju sama Nusa. Bukan karena apa tapi kamu memang seperti mempermainkan hidupmu Ra, aku tahu kamu orang yang bersemangat dan tak kenal rasa takut cuma kamu terlalu nekat dengan ambisi kamu itu dan melupakan risiko terburuk yang mungkin saja terjadi. Aku harap kamu belajar dari kejadian ini Ra karena apa yang dikatakan oleh Nusa itu benar, dia mengatakan hal itu karena dia sayang sama kamu. Lebih baik kamu menenangkan diri, merenungkan apa yang telah kamu perbuat, aku harap kamu mengerti dengan maksud dan tujuan Nusa berkata demikian. Aku masuk dulu ya Ra, kamu jangan lama-lama di sini, nanti kamu sakit," jelas Zhafira meninggalkan Tara memasuki tenda.
Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri Tara telah menunjukkan pukul 23:05 wib, tapi Tara masih duduk di sebuah batang pohon yang sudah mati, ia termenung, mencoba mencerna semua ucapan Nusa tadi siang serta Zhafira yang setuju dengan ucapannya. Tara tidak menampik bahwa dia salah, namun yang paling menjadi beban saat ini adalah ia selalu membuat orang lain khawatir, ia merasa bersalah pada semua orang mengingat dirinya adalah orang ceroboh yang selalu terluka, terluka secara fisik tentunya.
"Hah... sebaiknya aku minta maaf sama Nusa besok," gumam Tara menatap langit yang gelap gulita, tanpa bintang ataupun sinar bulan.
"Tara, kamu ngapain di luar?" ucap seseorang yang membuat Tara langsung menoleh pada sumber suara.
"Ehh...kak Lintang, kakak belum tidur?"
"Kenapa nanya balik? Seharusnya kakak yang nanya kaya gitu ke kamu. Udah malem loh, tidur gih."
"Ra gak bisa tidur kak."
"Kenapa? Kamu harus banyak istirahat biar badan kamu kembali fit pasti pegal-pegal tuh karena menabrak pepohonan."
"Iya sih kak, cuma Tara belum ngantuk. Kak, temani Tara ya, Tara mau cerita dan minta pendapat kakak."
"Boleh, tapi jangan lama-lama ya besok kita harus bangun pagi," terang Lintang duduk di samping Tara.
Tara menceritakan semua yang dilaluinya tadi siang dengan detail tanpa terlewat satu pun. Lintang yang mendengar cerita Tara hanya diam mendengarkan dengan saksama. Sesaat setelah Tara menyelesaikan ceritanya termasuk Nusa yang meluapkan unek-uneknya, Lintang akhirnya angkat bicara.
"Gimana bilangnya ya Ra, tapi kakak setuju loh sama Nusa."
"Hah....kakak itu orang kedua yang setuju sama ucapannya Nusa."
"Siapa yang pertama?"
"Zha," jawab Tara singkat.
"Jadi, Tara benar-benar salah ya kak?"
"Iya, kamu sendiri sadar kan apa yang telah kamu lakukan itu salah? Kamu tahu risikonya tapi tetap melakukan itu demi menuruti kemauan keras yang ada dalam dirimu. Lihat akibatnya apa sekarang, kamu membuat orang-orang yang sayang sama kamu sedih. Jika keluarga kamu tahu, mereka pasti khawatir dan cemas, ditambah bisa-bisa mereka berpikiran kalau kami tidak bisa menjaga kamu dengan baik selama di sini."
"Iya ya kak, Ra gak kepikiran sampai kesana. Kalau hal itu terjadi, Ra akan bilang sama orangtua Ra dan Bang Sean kalau hal ini terjadi karena ulah Ra sendiri, gak ada sangkut pautnya dengan orang lain."
"Iya, makasih ya kak karena cerita sama kakak, Ra merasa lebih baik dan rencananya juga Ra mau minta maaf sama Nusa besok."
"Itu tindakan yang benar."
"Hehe...iya, andai aja kakak itu kakaknya Ra, bukannya bang Sean."
"Lohhh..kenapa dengan Bang Sean? Dia kan sayang sama kamu."
"Apanya yang sayang kak, bang Sean tuh ngeselin selalu cari gara-gara sama Ra. Mending kak Lintang, baik dan pengertian."
"Bukannya gak sayang, Bang Sean menunjukkan rasa sayangnya dengan cara itu. Jauh di dalam lubuk hatinya dia pasti sayang sama kamu kok, saat kamu ada masalah atau disakiti sama seseorang dia pasti jadi orang pertama yang menghibur dan melindungi kamu."
"Hmm...kalau Bang Sean aku kok gak percaya ya kak. Kalau misalnya ada yang nyakitin Ra dia paling jadi orang pertama yang tertawa paling keras."
"Suudzon kamu mah. Udah tidur gih, dari tadi ngobrol terus kita."
"Oke siap kak, kakak juga ya, jangan keluyuran," ucap Tara memasuki tendanya.
✓✓✓
"Ra, bangun oyy"
"Ra, bangun udah siang nih!"
"Taraaaaaa......," teriak Zhafira yang membuat Tara langsung bangun seketika.
"Hah....apa?" seru Tara celingak-celinguk dengan mata setengah terbuka.
"Bangun Ra, udah siang nih. Mandi terus sarapan, sebentar lagi kita mau berangkat."
"Hah... kenapa kamu baru bangunin aku sekarang sih Zha?" pekik Tara berhambur keluar dari dalam tenda.
"Kamunya aja yang tidur kaya kebo Ra!" teriak Zhafira.
"Aduuh..kenapa kamu teriak-teriak sih Zha?" ketus Sisy yang sedang berbenah.
"Hehe....sorry."
"Saya harap kalian segera berbenah sebelum kita pergi melanjutkan agenda kegiatan kita," seru Pak Rendy mengakhiri pesan singkatnya.
Semua siswa/i sibuk beberes mengemasi tenda, merapikan barang pribadi atau sekedar memungut sampah yang kemungkinan tanpa sadar mereka buang secara sembarangan. Tara telah selesai mengemasi barang-barang pribadinya, begitu juga dengan Zhafira, Sisy, dan Milka. Mereka kini tengah merapikan tenda yang tempo hari dibantu oleh Evan untuk mendirikannya.
"Nah....ini kok gampang banget merubuhkan tendanya, gak seperti saat mendirikannya," cetus Milka kesal saat tempo hari mereka kesulitan mendirikan tenda.
"Iya ya, memang menghancurkan lebih mudah dari mendirikannya," sahut Sisy.
"Udah semua nih, gak ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Tara setelah selesai mengemasi semua barang bawaannya.
"Udah kok Ra, semua perlengkapan kita rame-rame sampai barang-barang pribadi udah selesai dikemasi bahkan sampah-sampah yang berserakan juga sudah kita bersihkan tadi," sambung Milka.
"Iya, yaudah yuk kita kumpul sama yang lain," ucap Tara melangkahkan kakinya meninggalkan tempat mereka mendirikan tenda, tempat dimana mereka bermalam yang diikuti Milka, Zhafira dan Sisy.
~Bersambung~