
"Turun Ra!"
"Enggak Sa, ini udah hampir dapat loh tanggung."
"Terlalu tinggi, nanti kamu jatuh Ra. Udah biar aku aja yang naik."
"Dikit lagi kok, lagian kemaren kamu kan yang gak mau manjat! Sekarang giliran aku naik, kamu malah suruh aku turun!"
"Iya, sekarang udah kamu turun!"
"Iya deh iya, bawel!"
Tara dengan berat hati turun dari pohon mangga, menuruti apa yang dikatakan oleh Nusa. Lagipula saat ini Tara malas berdebat dengan Nusa meski hati kecilnya merasa kesal karena sedikit lagi Tara hampir berhasil mendapatkan buah mangga yang di idamkannya dua hari yang lalu. Saat hanya dua meter lagi menuju tanah, kaki Tara tergelincir batang pohon yang agak basah setelah diguyur hujan kemarin.
Gedubrak!
"Aduuh..sakit," ringis Tara memegangi bokong dan lututnya yang menghujam tanah.
"Tuh kan aku bilang juga apa, nanti kamu jatuh. Belum juga beberapa menit aku ngomong kamu udah jatuh aja. Ceroboh banget sih kamu," Nusa mengomeli Tara tanpa peduli bahwa Tara tengah meringis kesakitan memegangi lutut dan sikunya yang berdarah.
"Iya maaf aku salah," ucap Tara tertunduk lesu.
Tara melihat cahaya matahari yang sedari tadi menyorotinya hilang tertutup oleh sesuatu. Tara mendongakkan kepalanya, ia mendapati Nusa yang menyodorkan tangannya. Tanpa basa-basi Tara menyambut tangan itu dan berdiri secara perlahan. Nusa memperhatikan setiap inchi Tara yang membuatnya diam tak berkomentar apapun.
"Kamu memang merepotkan," komentar Nusa melihat luka yang terpampang di lutut dan sikunya.
"Naik!" Nusa berjongkok membelakangi Tara, memerintahkannya naik ke punggungnya.
"Mau ngapain Sa?" tanya Tara bingung.
"Gendong lah. Kamu gak bisa jalan kan?"
"Iya," Tara menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum akhirnya ia digendong Nusa menuju UKS.
Selama perjalanan dari taman terbengkalai menuju UKS, mereka menjadi pusat perhatian yang membuat semua siswa berbisik-bisik entah apa. Nusa melewati mereka begitu saja tanpa peduli apa yang mereka bicarakan sedangkan Tara menenggelamkan kepalanya di balik punggung Nusa. Ia malu pada semua orang, ia berharap agar teman-teman sekelasnya tidak tahu terutama Zhafira si mulut ember itu.
Tok! Tok! Tok!
"Bu, tolong obati luka yang ada di lutut dan siku Tara," ucap Nusa tanpa basa-basi memasuki ruang UKS dimana Bu Andini tengah memakan bekal makan siangnya.
"Oh iya, Tara duduk di ranjang terlebih dahulu Dan kamu boleh tunggu di luar," ucap Bu Andini merapikan kotak bekal makan siang yang baru dimakan setengah.
Nusa menurut tanpa berkomentar apapun, ia duduk di bangku panjang di depan ruang UKS. Nusa seharusnya tidak perlu khawatir karena toh luka yang didapat Tara hanyalah luka kecil namun entah mengapa dadanya terasa sesak. Nusa mencoba menenangkan diri, apakah ini yang namanya ikatan batin? Tara yang mendapati luka tapi Nusa yang merasa sesak.
Ceklek!
Saat knop pintu bergerak, Nusa langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendapati Tara yang sudah berdiri di depan pintu.
"Tara tidak apa-apa, hanya luka kecil. Sebaliknya kalian kembali ke kelas karena jam istirahat telah selesai," ucap Bu Andini yang disambut anggukan oleh mereka berdua.
"Kamu bisa jalan?" tanya Nusa di tengah-tengah perjalanan mereka menuju kelas.
"Bisa, cuma ya agak susah dan lambat," jawab Tara melihat luka yang tertutup perban di lututnya yang lumayan besar.
"Maaf ya Sa, kalau aja aku turuti kamu lebih cepat mungkin aku gak akan luka kaya gini," ucap Tara tertunduk lesu merasa bersalah.
"Gak usah dipikirin, lain kali kamu harus lebih berhati-hati dan jangan melakukan hal-hal aneh lagi. Ra, jangan buat aku khawatir lagi," ucap Tara dengan tatapan mata sendu yang membuat Tara merasa sesak seketika.
"Iya, aku janji gak akan buat kamu khawatir lagi," balas Tara menyunggingkan senyum terbaik yang dia punya.
Zrashh....
"Ya mana aku tau, kamu aneh-aneh aja sih Zha. Emang aku tangan kanannya malaikat Mikail makanya aku tau kenapa tiba-tiba turun hujan kaya gini?"
"Yee...biasa aja kali Ra gak usah sewot kaya gitu!"
"Bukannya sewot Zha, tapi pertanyaan kamu itu loh ganggu pendengaran aku tau gak, masa iya nanya ke aku kenapa datang hujan?"
"Gak gitu juga sih Ra, aku cuma bilang bukan nanya," cetus Zhafira mencoba membela diri.
"Assalamu'alaikum wr.wb. Siang anak-anak. Saya di sini ingin mengingatkan bahwasanya besok kita akan pergi karya wisata. Saya harap, kalian menyiapkan apa yang diperlukan dan ingat bahwa kita pergi bukan hanya untuk bermain tapi juga untuk belajar. Besok, pukul 07:00 wib, saya harap kalian semua sudah berkumpul di sekolah. Sekian informasi dari saya, kalian boleh pulang lebih awal. Namun karena sedang hujan sebaiknya kalian menetap di sini sampai hujannya reda. Sekian informasi dari saya, wassalamu'alaikum wr. wb," jelas pak Andre berlalu meninggalkan kelas.
"Ra, aku nanti nginap di tempat kamu ya. Tau sendiri kan orang rumah pada sibuk takutnya aku kesiangan nanti dan gak ada yang bangunin. Bik Nah lagi pulang kampung dan kak Melly mana bisa diharapkan, kerjaannya molor aja kalau lagi libur," ucap Zhafira menyikut lengan Tara.
"Yaudah, kamu mau langsung ke rumahku?"
"Enggak lah Ra, aku pulang dulu ke rumah siap-siapin barang yang perlu dibawa untuk besok terus aku langsung ke rumah kamu kalau udah selesai."
"Oke," jawab Tara singkat.
✓✓✓
"Maaf ya Tante jadi ngerepotin."
"Gak ngerepotin sama sekali kok Zha, justru tante senang karena kamu ada di sini. Ya udah, Zha naik aja langsung ke atas, Ra ada di kamar," jelas Karina ramah.
"Oke siap Tante," balas Zhafira berlalu meninggalkan Karina yang tengah menonton tv.
Di kamar, Tara tengah sibuk menyiapkan semua barang yang perlu dibawanya besok. Tara mengobrak-abrik lemarinya, mencari obat luka kalau-kalau ia mendapat luka saat di sana. Namun jangankan besok saat kegiatan karya wisata, sekarang pun Tara telah mendapatkan luka.
Dor!
Zhafira mengangetkan Tara yang tengah sibuk mencari obat luka tersebut yang dengan spontan Tara meloncat kaget dan melempar beberapa baju secara sembarang pada sumber suara.
"Isshh...kenapa kamu lempar aku sih Ra!" gerutu Zhafira kesal mendapat sambutan yang tidak mengenakkan.
"Siapa suruh kamu mengangetkan aku!"
"Iya deh aku salah, tapi kenapa kamar kamu kaya kapal pecah begini Ra? Kaya habis diserang kapal perompak aja."
"Itu, aku lagi cari obat luka," jelas Tara singkat tanpa menghentikan aktivitasnya mencari obat luka tersebut.
"Ohh...., Semangat deh kalau kaya gitu," ucap Zhafira merebahkan diri pada kasur empuk milik Tara.
"Bukannya bantuin malah tiduran. Tamu gak beradab ya gini," ucap Tara kesal melihat tingkah Zhafira yang dengan seenaknya tidur-tiduran sedangkan si pemilik kamar tengah kerepotan.
"Yee...kamu kali tamu yang gak beradab! Asal ke rumah, bukannya duduk dulu atau apa, malah nyelonong ke dapur, buka lemari sama kulkas," balas Zhafira yang membuat Tara tidak berkutik.
"Hehe....ya maaf aku lupa kalau aku suka seenaknya saat di rumah kamu," balas Tara cengengesan sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kamu cari obat luka? Bukannya ini ya Ra?" Zhafira menunjuk botol kecil bewarna kuning.
"Lahh...iya, kamu dapat dimana Zha?" pekik Tara berhambur mengambil obat luka tersebut dari tangan Zhafira.
"Ini dibawah baju-baju, mungkin saat kamu mengobrak-abrik lemari, obatnya ikut nyangkut karena kecil jadi gak kelihatan," jelas Zhafira dengan spekulasi masuk akalnya.
"Iya ya, makasih Zhafira sahabat terbaik akuuuuu," cetus Tara berhambur memeluk sahabatnya yang sering membuatnya kerepotan itu namun sesekali Zhafira cukup membantu Tara, seperti saat ini misalnya.
~Bersambung~