Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Juni, Hari Istimewa



Tara dan Nusa beranjak dari pelabuhan, berniat pulang sembari ditemani cahaya senja kemerahan. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi mereka berdua terutama Tara meskipun hanya duduk di dermaga dan hanya melayangkan pesawat kertas tapi itu cukup membuat Tara melayang bahkan Tara tahu akan satu hal penting yang Nusa sendiri belum pernah memberitahukannya pada siapapun.


"Oh iya Sa, tapi apa gak papa kita menerbangkan pesawat kertas kaya gitu? Apa gak mencemari lingkungan?" tanya Tara ditengah-tengah perjalanan mereka.


"Iya, aku juga tau akan hal itu. Sebenarnya aku juga baru satu atau dua kali menerbangkan pesawat kertas di laut atau pantai meskipun kertasnya melebur tapi tetap mencemari lingkungan atau bahkan merusak ekosistem. Tapi tenang saja karena itu hanya sebagai ungkapan kebahagiaanku saja, lagipula aku memakai tinta yang berbeda dalam menulis surat. Aku menggunakan pena yang bertintakan gurita atau cumi yang jika terkena air akan cepat melebur dan tidak akan merusak alam," jelas Nusa yang disambut anggukan dari Tara.


"Tapi kan Sa tetap aja itu merusak lingkungan, kalau boleh apakah kamu bisa untuk tidak menerbangkan pesawat kertas lagi terutama di laut?"


"Untuk tidak menerbangkannya di laut aku akan melakukannya karena memang selama ini aku jarang melakukan hal itu. Tapi untuk tidak menerbangkan pesawat kertas rasanya tidak mungkin karena itu adalah satu-satunya caraku untuk mengungkapkan emosiku, baik senang, sedih, marah atau hal lainnya. Jadi, tak apa kan jika aku menerbangkan pesawat kertas sesekali?"


"Hah...kalau memang begitu aku tak akan berkomentar lagi."


"Iya, kamu tau apa yang akan kamu lakukan jika ingin menyampaikan sesuatu pada orang yang sangat jauh?"


"Jauh? Bukannya sekarang zamannya udah canggih ya, kita bisa chattingan lewat media sosial atau video call."


"Bukan jauh yang seperti itu. Jauh, sangat jauh sampai kamu tidak bisa menggapainya lagi."


"Jangan bilang ingin menyampaikan sesuatu pada orang yang telah tiada?"


"Iya. Kalo aku, akan ku titipkan pada angin. Semua yg ingin kusampaikan, semua yg ingin aku ceritakan kutuliskan dalam sebuah surat terus kulipat jadi pesawat kertas dan kututipkan pada angin. Aku cuma bisa berharap suatu hari bisa tersampaikan. Itulah satu-satunya alasanku menerbangkan pesawat kertas."


"Kenapa gak berdoa aja?"


"Setiap detik hembusan napasku, aku selalu berdoa demi mereka yang telah memberikan kehidupannya padaku. Tapi aku perlu sesuatu yang nyata agar hatiku merasa lega ketika semua itu dilepaskan. Cara seperti ini Ibu yang bilang, sampai akhirnya aku melakukan ini untuk Ibu, untuk keluargaku. Aku bercerita pada mereka dan berharap pesanku tersampaikan."


"Iya, aku paham apa maksud kamu Sa. Oh iya, pena ini untukku ya," pinta Tara pada pena yang sedari tadi dipegangnya sejak kepergian mereka dari dermaga.


"Yaudah ambil, aku tau kamu kepengen banget sampai dipegangi gitu sejak dari dermaga. Sebenarnya tanpa kamu minta pun akan aku beri. Simpan dan jaga baik-baik ya, karena pena itu juga berharga, dia yang selalu menemaniku dalam menyampaikan pesan," balas Nusa yang ditanggapi tawa oleh Tara.


"Hehe iya, aku akan menjaga pena ini seperti boneka panda itu. Aku akan menjaga baik-baik semua pemberianmu," balas Tara dengan senyum yang mengembang.


Kini mereka berdua sudah sampai di depan rumah Tara. Terlihat keluarga Tara tengah duduk bersantai di halaman depan. Papa dan Mama Tara bercerita entah tentang apa yang membuat Karina sampai tertawa terbahak-bahak begitu sedangkan Sean sedang menyibukkan diri dengan gitarnya, mengatur senar.


"Kamu gak mau masuk dulu?"


"Enggak usah. Lihat, keluarga kamu di sana terlihat bahagia sekali, aku tak ingin menjadi pengganggu. Sejujurnya aku iri akan hal itu, jadi jangan pernah sia-siakan waktu kebersamaanmu dengan keluarga. Aku pulang ya," pesan Nusa mengacak-acak rambut Tara sebelum akhirnya ia pamit pada keluarga Tara.


"Tunggu," cegah Tara pada Nusa saat keluar dari gerbang rumah.


"Ya?" Nusa menghentikan langkah kaki, berbalik pada Tara yang kini sudah ada di hadapannya.


Tara melirik pada keluarganya, ia mengajak Nusa untuk sedikit menjauh dari keluarganya, membawa Nusa yang kini sudah ada di pinggir jalan, dibawah pohon jambu air milik keluarga Tara.


"Iya aku baik-baik saja. Kenapa?"


"Serius? Jantung kamu gimana? Masih gak berdetak juga?"


"Ohh....udah berdetak kok sekarang. Aku sudah bisa mengontrol diri agar tidak terlalu gembira," ucap Nusa dengan santai.


"Aku gak percaya!" balas Tara melipat kedua tangannya di dada.


"Coba aja rasakan sendiri," Nusa menarik tangan Tara, meletakkannya di dada sebelah kiri agar Tara dapat merasakan jantungnya yang tengah berdetak yang semakin lama detakannya semakin kuat.


"Wahh... iya berdetak, ternyata kaya gini ya detakan jantung kamu. Kaya lagi pesta gitu ya, detakannya kuat juga," komentar Tara yang membuat Nusa berdehem ringan sebelum akhirnya ia benar-benar pamit dan pergi dari sana, berlalu pada jalanan panjang ditemani cahaya lampu jalan yang sedikit redup.


✓✓✓


"Kenapa Nusa gak mampir Ra? Kamu usir ya?" ujar Karina berspekulasi seenaknya.


"Ya enggak lah Ma, mana mungkin Ra usir. Nusanya yang mau pulang katanya gak mau menganggu kebersamaan keluarga kita," jawab Tara sesuai dengan apa yang dikatakan Nusa beberapa saat yang lalu.


"Lah, padahal gak papa yakan Ma Nusa gabung sama kita lagian Abang juga senang kalau ada dia ya meskipun kita belum ada ngobrol tapi kayaknya orangnya asik," sambung Sean yang sedari tadi hanya berkutat dengan gitar kesayangannya.


"Asik? Mungkin kali ya bang. Yaudah kalau gitu Ra masuk dulu mau ganti baju," seru Tara berlalu memasuki rumah.


Setelah selesai bebersih, Tara berjalan menuju teras depan rumah. Di sana terlihat seluruh anggota keluarga tengah menunggunya untuk makan malam bersama. Kali ini, mereka ingin menciptakan suasana baru dimana mereka biasanya selalu makan di dalam rumah, kini beralih menjadi di luar rumah.


"Sayang sekali Nusa langsung pulang tadi. Padahal kan kita bisa makan malam bareng kaya gini," ucap Karina menyendok sayur ke piringnya.


"Gak usah disesali gitu kali Ma. Mungkin kan Nusa memang harus pulang ke rumahnya. Kapan-kapan kita kan bisa makan bareng," jawab Sean menyahuti perkataan Karina sedangkan Tara dan Gavin memakan makanan mereka dalam diam.


"Oh iya Ra, kemana dan ngapain aja tadi pergi bareng Nusa?" tanya Sean tiba-tiba yang membuatnya terdesak.


"Uhukk....uhukk.... Bang Sean ngangetin tau gak! Ra lagi menghayati makan malah ditanyain kaya gitu," protes Tara pada Sean yang hanya dibalas senyum yang menjengkelkan di mata Tara.


"Ya kan gue cuma nanya. Emang apa salahnya?" balas Sean membenarkan tindakannya.


"Ya gak salah sih bang, cuma kan kita lagi makan gitu loh. Kalau mau ngomong ya nanti-nanti aja," balas Tara masih berpendirian teguh pada apa yang diyakininya bahwa yang salah adalah Sean.


Tara memasuki kamarnya dengan langkah ringan, memasukkan buku pelajaran ke dalam tasnya sesuai dengan loster yang ada. Tara mendapati pena di atas meja. Pena pemberian dari Nusa yang disuruhnya untuk dijaga baik-baik. Pena bertintakan gurita yang jarang di temukan olehnya. Tara merebahkan dirinya di kasur yang empuk setelah setelah selesai beberes dan mengerjakan beberapa pr untuk dikumpulkan esok hari.


Tara mengambil boneka panda pemberian Nusa tempo hari, dilihatnya boneka itu sambil senyum-senyum sendiri. Tara memutar kembali adegan kebersamaannya dengan Nusa sore hari tadi. Ia masih terus terngiang-ngiang dengan semua kejadian yang baru dilaluinya beberapa jam yang lalu, membuat sudut bibirnya terangkat sampai akhirnya ia membenamkan diri pada boneka panda itu dan terlelap dalam buaian mimpi.


~Bersambung~