Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Berbeda



"Ra, tadi kamu gak ke tempat biasa," seru Nusa menghampiri Tara yang duduk di kursinya sambil mendengarkan musik.


"Ohh...iya Sa, aku lupa. Maaf ya."


"Oh, kukira kamu kenapa-kenapa karena gak biasanya kamu gak datang kesana."


"Kamu nungguin aku ya Sa?" tanya Tara dengan mata berbinar saat mengetahui bahwa kehadirannya di tunggu oleh Nusa.


"Enggak, si...siapa bilang? Siapa juga yang nungguin kamu, justru aku bersyukur karena gak ada yang gangguin aku makan," balas Nusa sedikit gelagapan tidak seperti biasanya.


"Halahhh....bohong, bilang aja nungguin aku, atau mungkin kamu rindu?"


"Gak, udah ah aku mau balik ke tempatku," Nusa berlalu meninggalkan Tara yang tersenyum sumringah melihat Nusa yang menurutnya bertingkah lucu.


"Hah... ngapain ngikutin aku? Sana gih balik ke tempatmu," seru Nusa merasa terganggu saat Tara mengikutinya.


"Enggak, aku hari ini mau duduk di sini. Nemenin kamu biar gak kesepian lagi," Tara langsung duduk di kursi sebelah Nusa yang kosong. Selama ini ia selalu duduk sendirian di sana, dikarenakan ia murid baru dan jumlah siswa yang ganjil.


"Siapa yang kesepian coba? Udah sana balik ke tempat dudukmu nanti Zhafira nyariin lagi."


"Udah tenang aja Sa, Zhafira gak masalah kok kalau aku gak bareng sama dia. Lagian untuk hari ini aja aku mohon biarin aku duduk di sini."


"Yaudah terserah," cetus Nusa cuek dan langsung duduk di tempatnya sedangkan Tara dengan girang mengambil tasnya di tempat duduknya.


Tara duduk di dekat jendela, bukannya memperhatikan pak Dodo yang menjelaskan di depan kelas ia malah asyik menatap ke luar jendela, menatap jauh pada lapangan yang kosong. Tak sampai di situ saja, ia juga menghitung setiap tetesan air hujan yang jatuh dari dedaunan. Yap, hari ini hujan turun membuat siapa saja malas untuk beraktivitas sedangkan pak Dodo dengan semangatnya menjelaskan di depan kelas meski hanya satu dua orang yang memperhatikan dengan saksama termasuk cowok di samping Tara, Nusa.


"Sa, kamu serius banget sih emang ngerti apa yang disampaikan sama pak Dodo?"


"Ngerti lah, emangnya aku kaya kamu yang loadingnya lama banget? Jaringan di otak kamu tuh baru 2G kali ya makanya lelet," balas Nusa tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis.


"Enak aja kamu bilang aku lelet. Gini-gini aku pintar loh," Tara membanggakan dirinya yang membuat Nusa menahan tawanya agar tidak pecah mengganggu ketenangan kelas.


"Pintar apa coba? Pintar gangguin orang lain? Pintar bikin orang kesel? Itu yang kamu sebut pintar?" balas Nusa meremehkan Tara.


"Ya bukan itu, tapi pokoknya aku pintar. Ingat itu ya."


"Tapi duduk di sini enak juga ya Sa, bisa melihat pemandangan di luar dan di saat hujan kamu orang pertama yang bisa menikmati melodi dari setiap tetesan air hujan. Aku paling suka mendengarkan suara hujan, menenangkan."


"Dasar aneh, ngomongnya ngelantur kemana-mana. Kerjain tuh soal di papan tulis, aku gak akan berbelas kasih memberikan kamu contekan ya Ra," tegas Nusa membuat Tara mengerutkan keningnya dan memanyunkan bibirnya beberapa cm.


"Ihhhh....pelit."


✓✓✓


"Ngapain kesini?" Tara berkomentar saat Evan datang dan mengganggu obrolannya dengan Zhafira. Zhafira yang berada di sana langsung memasang wajah kecut karena kehadiran Evan membuatnya merasa tak nyaman.


"Oh iya Ra, aku balik ke kelas ya, ada yang ketinggalan," seru Zhafira berlalu meninggalkan Tara dan Evan berdua saja.


Di tengah perjalanan menuju kelas, Zhafira melihat Lintang yang tengah membuat video pembelajaran, mungkin tugas akhir bagi kelas XII yang sebentar lagi akan lulus. Zhafira sebenarnya tak ingin mengganggu keberlangsungan proses pembuatan video tersebut, tapi apa boleh buat ia harus melewati mereka karena memang itulah satu-satunya jalan yang paling dekat menuju kelas. Melihat kondisi yang sudah kondusif, Zhafira melewati kerumunan anak kelas XII beserta Lintang di dalamnya.


"Zhafira," panggil Lintang yang membuat Zha kaget karena sekarang ini ia tak ingin bertemu dengan Lintang.


"Mau kemana kok buru-buru sampai gak lihat kanan kiri?" Lintang bersuara yang membuat Zha mau tak mau harus menghentikan langkah kakinya.


"Mau balik ke kelas kak, ada yang mau di ambil."


"Yaudah aku temenin."


"Gak usah kak, lagian cuma mau ke kelas aja kenapa harus dianterin segala. Lagian aku cuma mau ambil headset doang kok kak," Zha membuat alasan seadanya berharap agar Lintang segera membebaskan dirinya dari kerumunan anak kelas XII itu, ia merasa tak nyaman.


"Udah gak papa, ayo," Lintang menarik tangan Zha tanpa meminta izin terlebih dahulu, menyeretnya menuju kelas.


"Kak lepasin, aku bisa sendiri," berontak Zhafira malu karena ia sedari tadi dilihat oleh banyak orang.


"Maaf, yaudah sana kamu ambil gih. Aku tungguin di ruang musik ya."


"Kenapa aku harus kesana kak? Aku gak punya kepentingan untuk datang kesana."


"Udah datang aja, aku tungguin loh ya," ucap Lintang berlalu meninggalkan Zhafira yang memasang wajah bingung.


Zhafira hanya membuat alasan untuk mengambil headset karena ia ingin menghindari Evano. Entah kenapa, Zhafira selalu merasa tak nyaman saat Evan dekat-dekat dengan Tara karena pasalnya Evan selalu saja muncul di hadapan Tara tanpa henti. Bayangkan saja, di kantin dia ada, di perpus juga ada, taman apalagi, yang gak ada ya cuma di toilet. Zha saja yang teman akrab Tara tak pernah selalu menempel dengan Tara kemanapun ia pergi, sedangkan Evan selalu saja muncul dimanapun dan kapanpun yang membuat Tara tak memiliki waktu untuk Nusa, sudah beberapa hari ini Tara tak pernah terlihat mengikuti Nusa, malah sekarang dirinya sendiri yang diikuti oleh Evan, ya meskipun dia adalah teman semasa kecil Tara, tapi terlalu berlebihan sampai Tara tak memiliki waktu pribadi sendiri.


"Zha, kamu lihat Tara gak? Katanya dia mau cicip tempe mendoan yang aku bawa."


"Tara ya Sa? Dia di taman tuh sama sih Evan," Zhafira berkata jujur dengan tangan yang masih sibuk merogoh isi tasnya mencari benda kecil yang selalu nyempil dan terkadang sulit ditemukan jika diperlukan, headset kesayangannya.


"Evano? Siapa?" Nusa memasang wajah bingung.


Bagaimana bisa ia tak tau Evano? Padahal sejak kepindahannya kemari si Evan itu selalu datang ke kelas saat bel istirahat berbunyi. Itu matanya Nusa yang siwer atau ia yang gak terlalu perduli dengan keadaan sekitar makanya ia tak tau siapa Evano itu?


"Teman semasa kecilnya Tara," jawab Zhafira singkat, malas bertanya mengapa ia sendiri tak tau siapa Evano, padahal ia selalu berkunjung ke kelas mereka untuk bertemu dengan Tara.


"Ohh..berarti aku gak perlu ya menyisakan tempe mendoan ini buat dia," Nusa menatap kotak bekal makanannya lamat-lamat entah kenapa ada rasa aneh dalam hatinya yang ia sendiri tak tau pasti itu apa.


~Bersambung~