Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Dua Pesawat Terbang Bersama



"Kasih sayang? Maksudnya Sa?" tanya Tara masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nusa.


"Bukan apa-apa. Lihat aku bagaimana caranya untuk membuat pesawat kertas yang baik dan benar."


"Memang ada gitu prosedur resminya untuk membuat pesawat yang sempurna?"


"Ada, makanya perhatikan dan lihat aku dengan saksama."


Tara memperhatikan Nusa dengan saksama, awalnya ia fokus memperhatikan Nusa yang yang tengah melipat kertas namun akhirnya pandangannya terfokus pada wajahnya. Tara selalu suka dengan wajah itu meskipun selalu datar tanpa ekspresi.


"Tau cara terbaik untuk menerbangkannya?" tanya Nusa setelah selesai melipat pesawat kertas miliknya sedang Tara hanya menggeleng pelan.


"Coba pejamkan matamu, anggap kamu sedang berada didalam pesawat itu dan kini sedang lepas landas berkeliling dunia, bebas. Saat selesai berhitung sampai tiga, kita terbangkan pesawat ini bersama agar mereka tidak kesepian agar pesawat yang satunya dapat menjadi batu sandaran dikala pesawat yang satunya lagi sedang bermasalah. 1.......2.......3....... Sekarang!"


Nusa selesai dengan hitungannya. Kini pesawat miliknya dan Tara terbang berdampingan mengarungi lautan biru. Tak berlangsung lama, pesawat milik Tara jatuh terlebih dahulu, tenggelam jauh ke dasar lautan sampai akhirnya pesawat milik Nusa ikut tenggelam, sudah waktunya ia untuk mendarat.


"Kamu ingat dengan hati hitam yang tergambar pada pesawat milikmu? Aku yakin sekarang hitamnya telah lebur terbawa air. Hati itu kuberi padamu. Simpan ya, dan jangan pernah kembalikan."


"Maksudnya gimana ya Sa? Aku gak paham," Tara berucap jujur bahwa ia sulit mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Nusa.


"Seperti yang tertulis di sana, ada namaku dan namamu yang akan menjadi kita. Aku cinta kamu, Tara," bisik Nusa dengan lembut di telinga Tara yang membuatnya mematung seketika.


1....2....3....4.....5.....


Sudah lima detik, namun Tara masih membatu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tara menoleh ke sebelah kanannya, terlihat Nusa tersenyum dan Tara membalas senyuman itu dengan ragu.


"Aku tak pernah terpikir sama sekali bahwa kamu akan berkata demikian Sa," ucap Tara dengan mata berkaca-kaca.


"Aku juga, tapi kehadiranmu benar-benar berarti bagiku. Tak hanya kamu, tapi keluarga kamu juga. Aku hanyalah orang asing yang datang tanpa diundang ikut makan bersama keluarga kalian, bahkan di saat aku tiba-tiba menangis, Mamamu merengkuhku dalam dekapannya, yang mengingatkan pada pelukan Ibu. Ra, janji waktu itu kamu gak akan mengingkarinya kan? Kamu gak akan pernah meninggalkan aku kan? Karena kalau sampai hal itu terjadi aku benar-benar tak tau lagi apakah aku masih bisa berdiri tegak, aku sudah cukup kehilangan Ra. Aku harap kamu jangan menghilang dari pandangan. Ra, apakah aku terlalu egois memintamu jangan pergi dariku? Padahal aku sendiri tau kalau kamu tidak akan mungkin melakukan hal itu, karena kamu memiliki kehidupan bersama keluarga ataupun teman," ungkap Nusa menundukkan kepalanya sembari melempar bebatuan kecil ke lautan.


"Aku janji gak akan meninggalkanmu Sa, aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkanku. Kamu bilang kamu egois? Gak papa, aku malah suka. Lagian wajar kan kalau kamu egois dengan orang yang kamu sayangi," jelas Tara membawa wajah Nusa menatapnya.


"Tapi Ra aku masih belum yakin bahwa kamu akan bahagia saat bersamaku karena aku tidak tau banyak hal tentang hubungan lebih dari sekedar pertemanan."


"Kamu bicara apa sih Sa. Mana mungkin aku gak bahagia bersama orang yang aku sayangi? Jauh sebelum kita berteman, aku selalu menantikan hari dimana kita makan berdua di taman belakang dalam keheningan. Satu hal sederhana yang membuatku sangat bahagia, jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi," ungkap Tara dengan yakin dan serius.


Pluk!


"Aku ingin waktu berhenti saat ini juga agar kamu tetap berada di sini, tidak bisa pergi kemanapun. Meskipun kamu berjanji tidak akan meninggalkanku, tapi kita tak tau apa yang akan terjadi ke depannya karena aku benar-benar lelah ditinggalkan. Tapi aku memutuskan untuk percaya padamu dan itu sudah membuatku cukup bahagia," seru Nusa memejamkan matanya.


Tara membiarkan keheningan mengelilingi mereka berdua. Senja datang dengan cahaya kuning kemerahan khas milikinya. Suasana hangat terjalin diantara mereka ditambah suara deburan ombak yang cukup menenangkan dan memberi rasa nyaman.


"Sa, kamu tidur?" tanya Tara memastikan setelah menyadari Nusa memejamkan matanya lebih dari sepuluh menit.


"Enggak, aku hanya mencoba untuk menenangkan diri dan hati," jawab Nusa membenarkan posisi duduknya, kini ia menghadap Tara.


"Menenangkan diri dan hati? Untuk apa?" tanya tanya memiringkan kepalanya bingung.


Tanpa menjawab, Nusa meraih tangan Tara, meletakkannya di dada sebelah kiri. Tara terperanjat dengan apa yang dilakukan oleh Nusa sampai akhirnya ia menyadari satu hal bahwa jantung Nusa tidak berdetak. Tara tak merasakan adanya detak jantung Nusa. Tara mulai panik namun ia mencoba untuk menenangkan diri dan mencoba berpikir positif bahwa Nusa hanya menjahilinya. Sampai Tara akhirnya benar-benar sadar bahwa jantung Nusa tidak berdetak, tidak mungkin Nusa dapat menahan napasnya selama lebih dari tiga menit.


"Hahaha....jangan bercanda deh Sa, itu detak jantungnya kamu kemanain?" histeris Tara panik menjauh dari Nusa dan bangkit dari tempat duduknya bahkan ia hampir kehilangan keseimbangannya.


"Menakutkan ya," balas Nusa lesu melihat Tara yang menjauh sampai sebegitunya.


"Bu....bukan! Kamu jangan bercanda deh Sa. Kalau lama-lama menahan napas kaya gitu, kamu bisa kehabisan oksigen tau gak. Kamu mau mencabut nyawa? Jangan kaya gitu Sa, mending langsung lompat ke lautan sana," terang Tara kesal.


"Aku gak bercanda, aku berbeda dengan orang kebanyakan. Jantungku akan berhenti berdetak saat aku merasakan emosi yang terlalu berlebih. Bahkan di saat aku merasa bahagia, aku harus bahagia dalam batas normal agar jantungku tidak berhenti berdetak. Tapi sekuat apapun aku mencoba, aku tidak bisa mengontrol diri untuk tidak merasa terlalu bahagia saat berada di dekatmu," jelas Nusa singkat yang membuat Tara merasa bersalah dan sedih mengingat Nusa harus mengalami hal yang orang lain tidak alami.


"Maaf Sa, aku gak tau," balas Tara tertunduk lesu.


"Ra, apa aku tidak berhak untuk bahagia?"


"Hah... Siapa bilang? Kamu berhak bahagia, kamu berhak merasakan hal yang sama seperti orang lainnya. Kamu adalah orang yang istimewa, orang yang Allah pilih dari sekian banyak orang yang ada di dunia. Kamu tidak bisa merasakan emosi yang berlebih agar kamu dapat memporsikan semua emosi itu. Bukankah yang berlebihan itu tidak baik? Bukankah disaat kamu mencintai seseorang secara berlebihan, kamu akan menderita jika mendapat luka dari orang yang kamu cintai itu? Menjadi berbeda tidak salah kan? Bukan kamu yang meminta menjadi seperti ini, tapi Allah yakin kalau kamu akan berhasil melalui ini semua," jelas Tara dengan yakin dan semangat sampai akhirnya ia tersadar akan satu hal penting lain.


"Hah? Harusnya kamu ke rumah sakit, kenapa malah mendengarkan aku yang ceramah panjang lebar? Kita ke rumah sakit sekarang! Aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ajak Tara menarik tangan Nusa namun Nusa hanya bergeming, tampaknya ia enggan beranjak dari sana.


"Kenapa diam aja Sa? Ayo pergi!"


"Aku gak papa Ra, ini sudah biasa dan aku masih bisa mengontrolnya tapi jika aku sampai berteriak kesakitan atau bahkan pingsan, itu baru aku butuh ke rumah sakit," jelas Nusa tersenyum yang membuat Tara luluh seketika.


Tara masih merasa khawatir namun ia mencoba mempercayai Nusa seperti Nusa yang mempercayainya. Kini, Nusa tengah berbaring dengan paha Tara yang menjadi bantalannya. Tara masih mengingat jelas saat Nusa berkata bahwa jika kamu adalah racunnya maka kamu lah yang menjadi obat penawarnya. Dimana kata-kata itu masih terus terngiang dalam pikiran Tara.


~Bersambung~