Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Keputusan



Tara menatap seseorang didepannya dengan tatapan jengkel. Dia adalah Semesta, orang yang tidak ingin ditemuinya. Setelah kemarin mengembalikan ganci beruang miliknya, Semesta terlihat semakin menempel pada Tara. Si empunya badan terlihat risih dengan adanya Semesta di sana. Tak terkecuali Zhafira, ia juga menatap Semesta dengan raut wajah yang tidak enak untuk dipandang. Ia ingin Semesta pergi meninggalkan meja mereka.


"Kamu siapa? Sembarangan duduk bareng kita!" ketus Zhafira.


"Kenapa? Memangnya meja ini milik kalian? Milik umum kali, milik kantin sekolah. Jadi gue berhak duduk dimana pun gue mau," jawab Semesta yang membuat Zhafira semakin jengkel melihatnya.


"Hah...kita gak kenal samamu! Sok akrab banget jadi orang!"


"Gue emang gak kenal sama kalian tapi gue kenal sama Tara," jawab Semesta menyeringai sembari menoleh pada Tara.


"Yang benar Ra? Dia cuma bercanda kan? Seperti yang kamu bilang kemarin, dia cuma seseorang yang gak punya kerjaan yang sok dekat sok kenal samamu. Iya kan Ra?"


"I...iya awalnya gitu Zha. Tapi sekarang aku udah kenal sama dia, bahkan aku sudah kasi tahu namaku sama dia!"


"Yup, apa yang dibilang Tara benar. Jadi gue boleh gabung sama kalian karena gue sudah menjadi temannya Tara," tambah Semesta menimpali perkataan Tara.


"Temannya Tara, tapi kita enggak!" jawab Zhafira ketus.


"Gue heran, dari tadi yang sewot cuma lo doang. Kenapa? Lo terpesona sama ketampanan gue? Lo suka sama gue?" seru Semesta dengan penuh percaya diri.


"Pffttt...suka? Samamu? Jangan harap!" cetus Zhafira terkekeh.


"Benar tuh! Zha gak mungkin suka samamu, dia punya seseorang yang disukainya kali!" tambah Tara menimpali pernyataan Zhafira.


"Siapa?" Kali ini giliran Lintang yang angkat suara setelah sedari tadi bungkam menyendok makanannya dalam diam.


"Ada deh kak, rahasia. Tapi kakak jangan khawatir karena cowok itu bukanlah seseorang yang jauh dari lingkungan kita. Kakak juga kenal kok siapa orangnya," balas Tara seenaknya.


"Hah....siapa sih? Kok aku jadi penasaran?" Lintang bertanya lagi setelah rasa penasaran menenuhi dirinya.


"Santai kak, tenang. Meskipun Zha suka sama orang lain, aku tetap dukung kakak kok," jawab Tara lagi. Zhafira terbatuk-batuk mendengar perkataan Tara.


"Oh iya Sa, nanti pulang sekolah temani aku ke toko buku ya. Ada yang mau aku beli," ucap Tara pada Nusa yang sedari tadi memilih bungkam, ia merasa tidak nyaman dengan semua keramaian ini terlebih lagi Semesta ada di sana.


"Gue aja yang temani lo Ra," sahut Semesta dengan tidak tahu malunya.


"Apaan? Aku ajak Nusa kenapa malah kau yang nyahut?"


"Apa bedanya gue sama dia?"


"Beda lah, bedanya jauh banget!"


"Sadar diri sedikit, kehadiranmu di sini gak diharapkan sama siapapun," Zhafira mengungkapkan kekesalannya yang telah menumpuk.


"Apa sih? Suka-suka gue lah. Gue mau di sini pokoknya."


"Pergi gak lo?" Zhafira bangkit dari tempat duduknya, mengangkat botol saos dan ingin melemparnya pada Semesta. Zhafira benar-benar tersulut emosi.


"Coba aja kalau lo bisa usir gue dari sini," cetus Semesta mengangkat satu kakinya ke atas kursi.


Zhafira dan Semesta terus beradu argumen sedangkan Tara dan Lintang berusaha melerai mereka berdua. Evan dan Nusa sama-sama tidak peduli, mereka memilih menyantap makanan mereka dalam diam, terlebih lagi Nusa. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan kantin tanpa pamit. Tara yang menyadari kepergian Nusa ikut menyusulnya.


"Sa, kamu mau kemana?" tanya Tara setelah berhasil menyusul Nusa.


"Kamu gak nyaman ya sama mereka?"


"Aku gak nyaman sama cowok itu."


"Sama, aku juga. Gak cuma aku aja sih, Zha juga gak suka tuh sama dia. Dia menyebalkan, aku heran kenapa dia tiba-tiba muncul di sekitar kita entah dari mana. Kalau aja dia gak menemukan ganci punyaku, aku juga gak mau membiarkan dia dekat-dekat dengan kita," cerocos Tara tanpa henti.


"Ra, aku capek dengan semua kebisingan ini. Aku harap kamu jangan bahas apapun soal dia. Aku ingin ketenangan setelah menghadapi banyak keributan di kantin tadi."


"M...maaf ya Sa. Aku gak bermaksud bahas cowok iblis. Aku gak tahu kalau kamu benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran dia di sana," ucap Tara menampilkan raut wajah sedih.


"Jangan berekspresi seperti itu. Aku hanya tidak suka dengan kehadiran dia."


"Kamu cemburu Sa?"


"Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku cemburu, kenapa sekarang malah bertanya? Ra, jangan dekat-dekat dengan dia lagi," cetus Nusa yang dibalas anggukan cepat dari Tara.


Hari demi hari telah berlalu, Semesta dengan tidak tahu malunya terus-terusan datang dan bergabung dalam meja Tara. Semua mendengus kesal saat orang itu datang. Namun apa boleh buat, Semesta memang orang yang tidak punya malu sama sekali. Meksipun ditolak, keesokan harinya ia akan tetap datang dan bergabung dalam satu meja bersama Tara dan yang lain.


"Datang lagi ni orang. Pergi gak! Pergi!" cetus Zhafira kesal pada Semesta yang berjalan menuju meja mereka.


"Oke, gue akan pergi. Tapi sebelum itu, gue mau kasi lihat sesuatu sama Tara. Kalau Tara suka, gue tinggal di sini, hari ini, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, sampai seterusnya tapi kalau Tara gak suka, yaudah gue pergi sekarang juga." Tara mengernyitkan keningnya saat mendengar pernyataan dari Semesta.


"Kenapa harus aku?" tanya Tara memiringkan kepala bingung.


"Ya memang harus lo. Siapa lagi coba?" Semesta membalas dengan pertanyaan.


Tap!


"Ini, di dalam buku ini ada kumpulan dedaunan kering yang di kumpulkan sama bokap gue. Di dalamnya ada daun semanggi, maple, daun apa lagi gue gak tau namanya, tapi gue yakin lo tau. Sebelum memutuskan, gue kasi lo waktu lima detik untuk melihat-lihat buku tersebut. Kalau lo mau, lo boleh pinjam yang artinya gue akan menjadi teman lo dan setiap hari gue akan ikut gabung makan bersama kalian di sini. Kalau lo gak mau, yaudah gue pergi. Gue gak akan ganggu lo dan teman-teman lo lagi," jelas Semesta duduk di depan Tara, ia yakin jika Tara akan tertarik dengan apa yang dibawanya.


Tara berkelahi dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, ini merupakan kesempatan baik untuknya menyingkirkan Semesta tapi di sisi lain, ia juga penasaran pada apa yang ada di dalam buku tersebut. Sebelum mengambil keputusan, Tara membuka buku yang diberi Semesta, benar-benar ada kumpulan dedaunan kering yang bahkan ada daun-daun yang tidak diketahui apa namanya.


"Ra, ini kesempatan bagus buat kita menyingkirkan dia," seru Zhafira membuat Tara menoleh padanya.


Tara melihat bukunya lagi, benar-benar membuat rasa penasarannya bangkit. Tara menoleh pada Lintang, terlihat biasa saja. Dia percaya pada keputusan yang akan diambil Tara, terlebih lagi ia tidak mempermasalahkan kehadiran Semesta sama sekali. Tara melirik pada Evan, dia mengisyaratkan agar Tara tidak menerima tawaran Semesta sedangkan Nusa seperti biasa menatap dengan wajah datarnya. Tara tidak dapat menebak sama sekali apa yang diinginkan Nusa, tapi ia yakin bahwa Nusa juga menginginkan Semesta pergi mengingat tempo hari dia berkata bahwa dia tidak nyaman dan cemburu pada Semesta.


"Hah....oke aku terima tawaranmu."


"Apa? Kamu gak salah ngomong Ra? Yang benar aja?" pekik Zhafira tidak percaya pada keputusan yang diambilnya.


"Kau boleh berteman dengan kami, tapi dengan satu syarat. Bersikap sopan dan sewajarnya pada kita," jelas Tara yang mendapat anggukan setuju dari Semesta.


"Oke, gue terima."


Tara mengedarkan pandangannya pada semua orang yang memenuhi meja. Zhafira terlihat sangat kecewa pada keputusannya termasuk Evan. Lintang, dia bersikap netral.


"Maaf Sa," batin Tara menatap Nusa yang memilih mengarahkan menik matanya pada kumpulan siswa/i yang tengah memadati warung bakso Wak Bejo.


~Bersambung~