Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Makan Bersama



Tara memasuki rumahnya dengan was-was, bersiap untuk mendapatkan ceramah panjang dari Karina. Nusa yang berniat pulang setelah mengantar Tara akhirnya ikut masuk juga karena merasa bertanggung jawab karena telah mengajak Tara pergi.


"Ra, kamu tau gak kalau kita semua khawatir karena sekarang telah lewat jam pulang sekolah kamu?" ucap Karina serius.


"Iya ma maaf. Tadi sekolah pulangnya cepat terus Ra pergi bareng Nusa, karena Ra kira cuma sebentar Ra gak kasi kabar ke Mama atau yang lain. Tau-taunya Ra pulang telat dari jam sekolah biasa. Ra benar-benar minta maaf," ucap Tara menyesal, menundukkan kepalanya.


"Yaudah lain kali jangan diulangi lagi. Kalau mau pergi kemana-mana, kasi kabar dulu sama orang rumah biar kita gak khawatir," tegas Karina masih melipat kedua tangannya di dada.


"Maaf Tante, tapi ini bukan salah Tara sepenuhnya karena saya yang mengajak dia pergi," Nusa akhirnya angkat bicara.


"Jadi kamu ya yang namanya Nusa?" Karina berujar dengan wajah serius.


"I...iya Tante," balas Tara sedikit gelagapan.


"Gimana? Kamu udah sehat kan?"


"Hah? Maksudnya gimana ya Tante?"


"Kemaren kamu kan sempat masuk rumah sakit, terus sekarang keadaannya gimana? Udah baik kan? Gak ada yang sakit-sakit lagi?" tanya Karina khawatir.


"Ohh....Tante tau? Alhamdulillah saya sudah sehat."


"Iya Tante tau, kemaren Tante sempat nemenin Ra di rumah sakit. Tau gak waktu kemaren kamu pingsan dan di rawat di rumah sakit, Ra itu khawatir banget bahkan nangis terus karena merasa bersalah. Katanya kamu pingsan gara-gara dia ajak jalan-jalan," jelas Karina yang membuat Tara langsung berkomentar.


"Ihhh.... Mama kenapa ngomong kaya gitu?"


"Tapi memang benar kan?"


"Enggak kok Tan, kemaren itu saya pingsan bukan karena Tara. Jadi gak usah merasa bersalah kok," seru Nusa yang hanya dibalas anggukan kompak oleh Karina dan Tara.


"Ma, Tara kemana kok gak ketemu-ketemu? Udah aku cari ke sekolah, ke rumah teman-temannya, bahkan keliling kompleks. Dia kemana coba Ma?" panik Sean memasuki rumah.


Sean memasuki rumah dengan rasa khawatir takut kalau adiknya pergi entah kemana dan terjadi apa-apa dengannya sehingga ia tidak melihat bahwa di sana ada Tara. Karina yang ingin memberitahukan hal itu pada anak sulungnya akhirnya mengurungkan niat karena beberapa saat kemudian Sean sadar bahwa Tara telah pulang ke rumah.


"Nah....ini dia orangnya. Kemana aja lo Ra? Capek gue tau gak keliling buat nyarin lo doang mana gak digaji lagi. Tau-taunya lo udah sampe sini aja," kesal Sean mengomel pada tara.


"Ya maaf Bang, tadi cuma main ke taman yang gak jauh dari sekolah."


"Lahh....di taman itu? Tau gitu gue gak usah khawatir, percuma aja dah," Sean berucap jengkel merasa usahanya mencari Tara sedari tadi hanya sia-sia dan membuang waktunya.


"Makan yuk Ma, Sean dah laper," ajak Sean pada Karina setelah mencoba mendinginkan kepalanya.


"Ayuk, Nusa juga sekalian ikut kita makan ya," ajak Karina pada Nusa yang hendak berpamitan pulang.


"Gak usah Tante terima kasih, saya harus pulang," tolak Nusa sopan.


"Halahhh...udah ikut makan siang bareng kita aja. Pasti lo belom makan kan?"


"Gak papa bang, aku pulang aja," tolak Nusa lagi.


"Makan yang banyak ya Sa, Tante lihat kamu kok kurus kaya gitu," ucap Karina menyendok sayur dan meletakkannya pada piring Nusa.


"Iya Tante makasih, memang dari dulu badannya segini doang," ucap Nusa sopan.


Tara menyantap makanannya dalam diam, tidak seperti Tara yang biasanya saat di sekolah yang selalu berisik. Apa memang Tara seperti ini di rumah atau karena adanya Nusa yang ikut makan siang bersama keluarganya?


"Oh iya Sa, lo gak jengah apa temenan sama adek gue?" Sean membuka suara memecah keheningan di antara mereka berlima.


"Hmmm....," Nusa tampak berpikir saat ingin menjawab pertanyaan dari Sean, mencari kalimat yang tepat untuk di ucapkan.


"Udah gak usah pake mikir segala. Jawab aja langsung, jujur aja gak papa. Bilang aja kalau memang adek gue ini nyebelin atau apa," ucap Sean lagi yang mendapat cubitan dari Tara.


"Ya, awalnya sih Tara memang menyebalkan dan kepo sama urusan orang lain. Dia selalu gangguin aku apalagi saat pertama kali ketemu dia makan sosis kentang kesukaanku, ditambah itu yang terakhir. Awalnya aku tak suka dengan kehadirannya, tapi lambat laun aku merasa nyaman juga karena selama ini tidak banyak orang yang mau berteman dengan orang sepertiku. Aku harap, Tara akan tetap menjadi temanku meskipun nanti dia tau seperti apa yang sebenarnya," jelas Nusa yang membuat semua orang ada di meja makan diam, mencoba mencerna pernyataan dari Nusa.


"Ahh...maaf kalau saya ngomongnya kelewatan atau menyinggung. Tanpa sadar saya jadi berbicara seperti itu," ucap Nusa menundukkan pandangan, merasa bersalah.


"Gak papa, santai aja. Lagian apa yang lo bilang itu bener kok," balas Sean santai.


Kali ini, meja makan yang sempat diam beberapa saat yang lalu akhirnya berisik dengan cerita-cerita lucu yang dibawakan oleh Gavin. Ada juga Sean yang mencoba bercerita tentang kisah horor namun berakhir gagal karena Sean sama sekali tak berbakat membuat orang lain takut, membuat orang lain kesal memanglah satu-satunya kelebihan yang dia punya. Meskipun itu hal yang tidak memiliki manfaat sama sekali, malah membuat orang lain mendapat penyakit, darah tinggi.


Tara melirik meja makan, tampak di sana ada satu ayam goreng lagi yang tersisa. Dengan cepat, ia mengambil ayam yang ada di atas piring, namun ada satu tangan lagi yang mengincar ayam goreng tersebut.


"Punya aku bang, aku duluan yang ambil tadi," ucap Tara menarik piringnya.


"Gak, gue duluan yang ambil, tangan gue duluan yang ada di piring ini jadi ayam goreng ini punya gue," tegas Sean menarik Pring ke arahnya.


"Punya ku!" teriak Tara tak mau kalah.


"Punya gue!"


"Punya ku!"


"Punya gue!"


"Punya ku!"


Tara dan Sean terus menerus menarik piring, keduanya tidak mau kalah sama sekali. Karina yang melihat kedua anaknya bertingkah kekanakan akhirnya jengah juga, di jitaknya kedua kening anaknya yang sukses membuat mereka berdua meringis kesakitan.


"Aduh Ma, sakit!" Tara mengelus-elus jidatnya yang perih.


"Kok di jitak sih Ma, salah Ra tau! Ngapa Sean yang di jitak juga," kesal Sean tak terima dirinya di jitak oleh Karina yang alhasil ia akhirnya mendapat hadiah berupa satu jitakan lagi yang lebih keras yang membuat jidatnya merah dan Sean berakhir dengan menutup mulutnya, mungkin kali ini ia mengomel dalam hati.


Tes!


Butiran bening itu jatuh ke meja makan, memuat semua yang ada di sana mengalihkan pandangannya pada Nusa. Tara yang sedari tadi memegangi jidatnya yang perih, merasa panik mengapa Nusa tiba-tiba meneteskan air mata? Apakah ia sakit lagi seperti yang terakhir kali? Tara memikirkan hal-hal aneh, takut-takut kalau ia pingsan seperti saat berada di bianglala waktu itu.


~Bersambung~