
"Hahahaha.....hehehehe....."
Zhafira merasa merinding mendengar wanita tertawa dengan keras dan menggelegar. Diliriknya ke sebelah kanan, tepat di sana ada Tara yang sedari tadi senyum-senyum dan ketawa tanpa sebab. Mungkin saja dia kemasukan mbak kun yang biasa nongkrong di pohon mangga taman belakang sekolah. Perlahan, cewek berkepang dua itu menjauh dari tempat duduknya, meninggalkan Tara yang tengah dirasuki setan namun langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang.
"Mau kemana kamu Zha?" tanya Tara normal seperti biasanya.
"Aku mau pergi, kalau kelamaan di sini nanti ketularan gila lagi," terang Zha yang mendapati jitakan di jidatnya.
"Awwww....sakit tau! Kebiasaan deh jitakin jidatku, lama-lama ni jidat licin kaya daun talas," serungut Zha memegangi jidatnya.
"Lahh, emang apa hubungannya jidat sama daun talas? Aneh banget sih Zha."
"Dia sendiri yang aneh malah bilangin orang lain yang aneh, emang ada orang normal yang ketawa-ketawa sendiri tanpa sebab selain kamu Ra?"
"Itu karena aku senang, akhirnya Nusa bolehin aku untuk dekat dengan dia ya meskipun dia belum mau sih temenan sama aku. Dia bolehin aku bareng sama dia loh Zha tapi syaratnya aku harus diam," girang Tara dengan mata berbinar.
"Yeeeee.....itumah sama aja kamu ada namun dianggap tiada. Kaya gitu aja udah girang banget, gimana kalau kamu jadi pacarnya Nusa, mati kegirangan kamu nanti Ra."
"Hah... kamu ngomong apa sih Zha, hubungan aku dan Nusa tuh terlalu jauh untuk sampai kesana. Udah ah, aku mau pergi ketemu Nusa Mahendra Zachery, bye,"
Tara berlalu meninggalkan Zhafira dengan membawa kotak bekal makanan tampaknya ia dan Nusa akan makan bersama pantas saja Tara begitu riang karena pasalnya Nusa tak pernah sekalipun didapati dekat dengan orang lain apalagi untuk makan bersama.
"Hehe, udah nungguin aku dari tadi ya Sa?" tanya Tara begitu sampai di taman belakang sekolah dan langsung menghampiri Nusa yang tengah duduk di bangku panjang.
"Enggak tuh, siapa bilang aku nungguin. Padahal aku berharap kamu gak datang kemari," balas Nusa ketus dengan wajah tanpa dosa.
"Ihhhh...kok gitu, kan udah janji kalau aku boleh dekat samamu. Laki-laki gak boleh ingkar janji loh."
"Ya....ya, tapi kamu harus diam sedangkan sedari tadi ngomong terus bikin sakit kuping tau gak," ketus Nusa lagi yang sukses membungkam mulut Tara, tanpa menunggu aba-aba ia langsung duduk di samping Nusa dan menyantap mie goreng pedas yang pagi tadi dimasaknya.
Hening, Nusa dan Tara hanya diam dalam kebisuan sampai mereka berdua menyantap habis bekal masing-masing dan berlalu begitu saja saat bel berbunyi pertanda jam istirahat telah usai. Nusa melangkahkan kakinya gontai meninggalkan Tara di belakangnya yang masih tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Nusa yang lebar.
"Zha, gimana sih caranya supaya aku bisa dekat sama Nusa?"
"Ya gimana, aku juga gak tau kan kita semua tau sendiri kalau Nusa itu memang orang yang sangat tertutup. Aku heran deh liat dia yang bisa bertahan dengan kesendirian kaya gitu, apa sebelumnya dia juga selalu menyendiri dan menghindari kontak dengan orang lain ya. Apa sebenarnya dia punya masalah yang membuat dia jadi tertutup kaya gitu," Zhafira menerka-nerka sembari mengunyah keripik kentang kesukaannya.
"Iya sih bisa jadi, tumben pinter Zha. Kira-kira apa ya masalah yang dihadapi sama Nusa sampai dia jadi kaya begitu. Apa dia gak kesepian dengan kesendiriannya itu?"
"Entahlah Ra, kalau jadi Nusa aku gak bakalan sanggup terus sendirian kaya gitu. Jangankan terus sendirian dalam waktu yang lama, ke toilet aja aku masih minta ditemenin samamu kan."
"Iya bener, aku juga gak bakal sanggup kalau jadi Nusa. Pokoknya aku harus mencari tau apa penyebab sehingga Nusa menjadi demikian, aku gak akan menyerah untuk lebih mengenal Nusa," ucap Tara mengepalkan tangannya dengan semangat membara.
"Iya aku masih mau dicuekin sama Nusa, daripada berdiam diri dihantui dengan rasa penasaran. Nih ya Zha, aku tuh pengen banget dekat sama Nusa, pengen kenal dia lebih jauh lagi, pengen temenan sama dia juga. Rasanya kaya ada suatu hal yang mendorongku untuk dekat dengannya tapi aku gak tau itu apa. Jadi intinya, aku gak bakalan nyerah."
"Iya deh iya, aku doain semoga kau berhasil ya Tara Nesya Ningrum," Zhafira menyerah dengan semangat Tara, yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah mendukung, meskipun itu hal yang sangat mustahil untuk terwujud mengingat Nusa yang selama ini selalu tak acuh terhadap Tara.
✓✓✓
"Sip. Baju udah rapi, badan udah wangi, rambut juga gak berantakan, bekal udah stay di dalam tas, buku pelajaran juga udah oke. Sip, saatnya berangkat sekolah dan ketemu dengan Nusa," semangat Tara berada di depan cermin dengan wajah sumringah dan berseri-seri.
Tara menuruni setiap anak tangga dengan htai riang gembira, melangkahkan kakinya menuju meja makan, di sana sudah ada Karina, mamanya, Gavin, papanya, serta Sean, abangnya yang paling nyebelin sedunia.
"Morning Pa, Ma," sapa Tara mendudukkan pantatnya di kursi.
"Pagi juga sayang, kamu mau sarapan apa?" tanya Karina lembut.
"Roti aja Ma, Tara udah siapin bekal untuk di sekolah."
"Hah...ada angin apa nih sampe lo bawa bekal ke sekolah? Biasanya juga gak pernah mau kalau Mama nawarin bawa bekal," Sean yang sedari tadi menyantap nasi gorengnya dalam diam akhirnya angkat bicara.
"Terserah lah bang, Ra yang pengen bawa bekal kenapa Abang yang sewot?" balas Tara pada abangnya yang membuat moodnya sedikit memburuk.
"Halahhh.... palingan lo minta masakin bibi kan?"
"Enggak ya, Ra masak sendiri tau! Abang aja yang gak tau, molor mulu sih kaya kebo!"
"Udah jangan ribut, makan yang bener," Gavin yang sedari tadi diam akhirnya jengah juga melihat kedua anaknya ribut yang membuat gendang telinganya sedikit terusik.
"Yaudah deh, Ra berangkat dulu ya Pa, Ma," Tara mencium kedua punggung tangan kedua orangtuanya sebelum meninggalkan meja makan.
"Iya hati-hati, apa gak kecepatan kamu perginya Ra? Ini baru jam tujuh lewat lima menit loh," heran Karina.
"Enggak Ma, ini udah pas kok. Ada hal yang harus Tara lakuin saat sampai di sekolah dan itu cukup memakan waktu, jadi ini waktu yang tepat untuk pergi, gak kepagian kok."
"Halahhh... palingan juga mau ngumpulin sepuluh dedaunan kering dari setiap pohon yang berbeda kan," sanggah Sean sebelum Tara menyelesaikan perkataannya.
"Ihhhh...biarin! Bang Sean rese deh, udah ah Ra mau berangkat sekarang nanti ketinggalan angkot lagi," ungkap Tara sebelum benar-benar berlalu dari hadapan keluarganya terutama Sean orang paling rese dan nyebelin sedunia yang sukses membuatnya kesal pagi-pagi buta begini. Sedang kedua orangtuanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak mereka yang selalu tidak akur saat bersama namun sering merindu saat keduanya terpisah jauh.
~Bersambung~
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ☺️