Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Es Krim



Hehehe...


"Kenapa kamu Ra?"


"Gak papa, aku senang karena akhirnya kita bisa makan bareng bukan sebagai teman lagi tapi sebagai dua orang anak manusia yang menjalin kasih," terang Tara dengan senyum yang terus menerus mengembang di sudut bibirnya bahkan saat mereka keluar dari kelas.


"Iya, udah kamu jangan senyum-senyum dan ketawa gak jelas kaya gitu nanti kamu kesambet lagi!"


"Gak bisa Sa, aku terlalu senang sampai mulutku pun pegal karena senyum terus tapi entah kenapa aku gak bisa untuk berhenti senyum apalagi ketawa," jelas Tara yang membuat Nusa hanya menggeleng kepala.


"Kamu tuh ada-ada aja, gak masuk akal!"


"Biarin!" cetus Tara singkat dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


Tara berjalan menghampiri pohon mangga, ia menatapnya lekat-lekat seakan ia adalah seekor elang yang siap menerkam mangsa.


"Kamu ngapain Ra?" tanya Nusa heran dengan tingkah laku pacarnya itu.


"Gak ngapa-ngapain. Liat deh Sa, ada mangga yang hampir matang nanti ambilkan untukku ya," pinta Tara dengan mata berbinar.


"Aku gak mau!"


"Loh kenapa? Kamu ambilin dong, kan gak hari ini matangnya palingan juga dua hari lagi."


"Enggak! Ini pohon punya sekolah jadi kita gak berhak untuk mengambilnya. Lagian, buahnya jauh di atas sana yang mana jika aku atau siapapun memanjat, kemungkinan besar seragam kita akan kotor," jelas Nusa membeberkan alasan agar ia tidak memanjat pohon mangga tersebut.


"Justru karena pohonnya milik sekolah jadi semua orang yang ada di sini berhak untuk mengambil buahnya. Untuk apa sekolah ditanami banyak pohon kalau buahnya gak boleh diambil."


"Yaudah terserah kamu, tapi jangan harap kalau aku bakal manjat pohon itu!" terang Nusa mengemasi kotak bekalnya.


"Hmm....yaudah nanti aku panjat sendiri aja," balas Tara mengikuti Nusa yang sudah mendahuluinya kembali ke kelas.


Semenjak resmi berpacaran, Tara jadi lebih sering mengikuti Nusa dan malah semakin lengket bagai odol dan sikat gigi. Bagi Tara, tiada hari tanpa Nusa.


"Sa, tungguin aku! Kamu kenapa jalannya cepat banget udah kaya ngejar setoran aja," cetus Tara jengkel menyusul Nusa yang beberapa meter jauh di depannya.


"Kamu aja yang lelet, lambat kaya siput!" cetus Nusa santai tanpa merasa bersalah.


"Jahat banget sih, masa kamu bilang aku kaya siput!" gerutu Tara memanyunkan bibirnya.


"Yaudah, kamu mau apa sekarang?" tanya Nusa membalikkan badannya menghadap Tara.


"Apa ya, aku mau makan es krim."


"Tadi siang aku lihat kamu makan es krim dan sekarang mau es krim lagi?"


"Iya, aku pengen makan es krim di cafe baru yang ada di dekat toko roti itu. Aku pengen coba kesana, kamu ikut ya," pinta Tara dengan penuh harap.


"Hah....oke," jawab Nusa singkat yang mana ia merasa heran kenapa semua permintaan yang dilontarkan dari mulut Tara itu tak bisa ditolaknya. Entah apa yang telah Tara lakukan, tapi dia selalu berhasil membujuk Nusa untuk menuruti apa yang diinginkannya.


Nyam! Nyam!


"Pelan-pelan dong Ra, kamu makannya belepotan gini kaya anak kecil," ucap Nusa menyeka secuil es krim yang ada di sudut bibir Tara.


"Enggak Ra, kamu aja yang makan."


"Masa kamu kesini cuma ngeliatin aku makan doang. Setidaknya kamu pesan apa gitu kek Sa, makanan atau minuman kamu gak lapar atau haus apa?"


"Enggak, aku udah kenyang lihat kamu makan."


"Mana ada yang kaya gitu. Aku merasa gak enak karena kamu kesini cuma untuk menemani aku ditambah yang bayar kan kamu aku lebih-lebih merasa gak enak," Tara menundukkan kepalanya, merasa bersalah.


"Kenapa gak enak? Kamu kan yang mau makan es krim? Aku bawa kamu kesini supaya kamu bisa menikmati es krim dengan tenang dan nyaman. Aku gak pesan makanan atau minuman karena memang aku tidak ingin karena melihat kamu yang senang kaya gini karena sebuah es krim aku juga ikut senang," jelas Nusa yang membuat Tara merasakan pipinya memanas, dan Tara langsung berhambur memeluk Nusa tanpa peduli di sana tengah ramai-ramainya orang berdatangan mengunjungi cafe.


"Ra, kenapa tiba-tiba meluk? Lepas gak, di sini lagi banyak orang," Nusa mendorong Tara untuk menjauh darinya, mencoba melepaskan pelukannya.


"Enggak, aku pengen peluk kamu sekarang," Tara menggelengkan kepalanya, menolak melepaskan pelukannya yang kini bertambah erat.


Nusa hanya bisa pasrah karena sekeras apapun ia mencoba melepaskan Tara, ia yakin bahwa pelukan Tara akan semakin erat. Semua orang yang ada di cafe melirik ke meja mereka dimana Nusa menolak peduli akan tatapan mereka, meskipun begitu ia tetap malu dan menundukkan pandangan sambil sesekali menyuruh Tara untuk segera menghabisi es krimnya sebelum meleleh. Tara akhirnya luluh juga, ia melepaskan pelukannya namun ia tidak kembali pada tempat duduknya semula. Tara mengambil es krim dan tasnya kemudian duduk di samping Nusa dan menyendok es krim dengan santai.


"Sa, kamu bantu aku dong habiskan es krimnya karena sebagian udah meleleh," terang Tara menatap nanar gelas es krimnya.


"Kamu aja yang habiskan Ra," jawab Nusa lembut.


"Enggak ah, sebelum aku sempat menghabiskannya, es krim ini keburu habis karena cair. Nih," Tara menyendok es krim dan menyuapi Nusa tanpa meminta izin terlebih dahulu. Nusa yang merasakan mulutnya mendapati benda dingin mau tak mau menelannya juga.


"Kamu kok sengaja masukin es krim ke mulutku!" cetus Nusa mengelap sudut bibirnya yang dipenuhi es krim, lengket.


"Hehe, kamu juga harus cobain. Enak kan?"


"Ya enak lah, namanya juga makanan. Yaudah sini kalau kamu gak mau biar aku aja yang habiskan," cetus Nusa menyambar gelas yang ada di tangan Tara.


"Ehh....aku juga masih mau," Tara menatap sedih es krimnya yang dimakan dengan cepat oleh Nusa.


Tara benar-benar merasa tidak rela jika es krimnya dihabiskan oleh Nusa. Tara menyambar sendok yang hendak mendarat dalam mulut Nusa dan memasukkan es krim tersebut ke dalam mulutnya. Es krim yang awalnya hanya untuk Tara seorang kini habis di lahap oleh mereka berdua. Saat hendak membayar, sang petugas kasir bertanya pada mereka berdua.


"Maaf jika saya lancang, apakah kalian berdua pacaran?" tanya mbak-mbak kasir agak ragu takut menyinggung mereka berdua.


"Iya mbak, kenapa ya?" balas Tara cepat mengingat Nusa terlihat sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan tak berfaedah yang di lontarkan mbak-mbak kasir karena sekarang ini yang ada di dalam pikiran Nusa hanya ingin pulang dan merebahkan diri pada kasur kesayangannya.


"Gak papa, saya hanya ingin memberi kalian berdua gantungan kunci pasangan ini sebagai ucapan terima kasih sekaligus promosi karena cafe ini baru dibuka beberapa hari yang lalu," jelas mbak-mbak kasir menyerahkan dua gantungan kunci berbentuk beruang yang berbeda warna.


"Wahh..lucu banget, makasih ya mbak," ucap Tara girang mengambil gantungan kunci itu dengan cepat.


"Iya sama-sama, semoga lain waktu kalian dapat berkunjung kesini lagi dan jangan lupa promosikan pada teman-temannya ya mbak," ucap mbak-mbak kasir itu lagi dengan senyum bisnis yang merekah di bibinya.


"Siap mbak, kita pasti akan promosikan tempat ini karena memang es krimnya enak banget," sambung Tara sebelum mereka berdua keluar dari cafe tersebut yang mendapat ucapan terima kasih banyak oleh mbak-mbak kasir.


"Sa, ini untuk kamu ganci beruang yang warna biru simpan baik-baik ya," Tara menyerahkan gantungan kuncinya yang mana Nusa tidak terlihat tertarik sama sekali.


"Untuk kamu aja," tolak Nusa singkat.


"Ini kan couple Sa, kamu harus punya dan simpan baik-baik ya," seru Tara lagi yang langsung menyematkan gantungan kunci tersebut pada tas Nusa.