
"Ra, udah yuk pulang. Ini udah hampir jam 11 malam loh, besok kamu sekolah kan?" ucap mama Tara menepuk-nepuk punggung anaknya.
"Enggak Ma, Ra mau di sini sampai Nusa sadar karena semua ini terjadi gara-gara Ra Ma. Ra merasa bersalah banget sama Nusa," ungkap Tara menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir deras.
"Ini belum tentu salah Ra, kita gak atau apakah Nusa ada riwayat penyakit tertentu atau karena kelelahan makanya dia sampai pingsan begitu. Pulang dulu yuk, besok kita kemari lagi jenguk Nusanya, dan semoga aja Nusa sudah sadar," bujuk Mama pada Tara yang masih merasa bersalah pada Nusa.
"Benar ma besok kita jenguk Nusa lagi?"
"Iya sayang, besok kita jenguk Nusa dan semoga Nusanya sudah sadar."
"Aamiin, yaudah yuk ma kita pulang," ajak Tara pada namanya dan berjalan mendahului mamanya dengan langkah lesu.
✓✓✓
"Ra, kamu kenapa lesu gitu sih?" tanya Zha heran melihat temannya lemah, lesu dan tak bertenaga.
Tara hanya diam tanpa menanggapi perkataan Zha. Ia masih berjibaku dengan rasa bersalahnya sendiri pada Nusa.
"Apa berhubungan dengan Nusa yang gak hadir hari ini?" Zha mencoba menerka-nerka.
"Hah....iya Zha, aku merasa bersalah banget sama dia," terang Tara menundukkan kepalanya.
"Merasa bersalah karena apa? Emang kamu berbuat sesuatu hal yang salah sama Nusa Ra?"
"Iya, jadi kemaren aku sama Nusa udah resmi temanan dan bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke 16, otomatis aku ajak dia jalan-jalan sebagai perayaan hari pertemanan kita dan hari ulang tahunnya. Kita jalan-jalan dari siang sampe malem, kita ke sea world, kebun binatang, bahkan ke taman bermain dan yang terakhir kita naik bianglala sebelum pulang. Awalnya Nusa udah ngajakin pulang tapi aku bersikeras pengen naik bianglala, sampai akhirnya aku bilang ke dia kalau aku tuh senang banget menghabiskan waktu bareng dia, dan dia pun bilang hal yang sama bahkan katanya dia lebih senang melebihi aku. Terus setelah dia itu dia pingsan, aku panik banget Zha, aku takut banget dia kenapa-kenapa dan sampai sekarang dia masih dirawat dan belum sadarkan diri juga."
"Ya ampun Ra, aku gak tau mau senang atau sedih karena akhirnya kau berhasil membuat dia menjadi temanmu dan sedihnya adalah Nusa sampai sekarang masih belum sadarkan diri juga. Tapi yang jelas ini bukan kesalahanmu Ra, kita gak tau kan apakah Nusa punya penyakit atau apa," Zha mencoba menenangkan Tara dengan pikiran positif.
"Iya Zha aku tau, cuma kan bisa aja dia pingsan karena kecapekan aku ajak jalan-jalan. Aku merasa bersalah banget Zha."
"Udah dong jangan sedih, pulang sekolah nanti kita jenguk Nusa ya di rumah sakit," ajak Zhafira mengelus punggung Tara mencoba menenangkannya.
Dap! Dap! Dap!
Tara berjalan dengan langkah cepat setengah berlari menuju ruang perawatan Nusa. Zhafira mencoba mengikuti langkah kaki Tara yang panjang, ia sedikit lelah karena Tara benar-benar bejalan dengan cepat bahkan seperti berlari. Di depan kamar pasien, Tara mendapati seorang wanita berusia 30 tahunan. Tara tidak tau itu siapa, yang jelas bukan ibunya Nusa mungkin kerabatnya.
"Maaf, apakah Tante kerabatnya Nusa?" tanya Tara mendekat dengan ragu.
"Iya, saya adik ibunya Nusa. Kamu siapa ya?"
"Saya temannya Nusa Tante, nama saya Tara," Tara menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita cantik berkerudung merah muda itu.
"Saya Rena," balas wanita itu dengan senyum lembut.
"Ra, kenapa kamu jalannya cepat banget sih! Itu jalan atau lari, aku capek tau gak mengejar kamu!" cetus Zhafira dengan napas yang putus-putus.
"Hushhh...jangan keras-keras ngomongnya, ini rumah sakit tau!" peringat Tara dengan penuh penekanan di setiap kata yang diucapkannya.
"Iya gak papa, kalian mau jengukin Nusa kan? Alhamdulillah dia baru saja sadar beberapa saat yang lalu, kalian datang di saat yang tepat. Lebih baik kalian masuk saja, tapi ingat jangan sampai Nusa merasa terganggu ya."
"Iya siap Tante," kompak Zhafira dan Tara memasuki ruangan Nusa dengan perlahan takut-takut kalau mengganggu Nusa.
✓✓✓
"Hai Sa, gimana keadaanmu udah lebih baik?" sapa Zhafira sok akrab dengan Nusa padahal selama ini ia belum sekalipun berbincang dengan Nusa.
"Iya, jauh lebih baik. Ohh...iya kau Zara ya?" tanya Nusa mencoba mengingat-ingat nama teman sekelasnya itu.
"Bukan, Zhafira! Masa gak ingat sih samaku, aku temannya Tara, nih orangnya sembunyi dibelakang ku. Yaudah kalau gitu kalian ngobrol berdua ya, pasti banyak hal penting yang harus kalian berdua obrolin," Zha keluar tanpa basa-basi lagi, meninggalkan Tara yang masih tertunduk lesu dan Nusa yang memasang wajah bingung.
"Hmmm....itu Sa, aku minta maaf ya," cetus Tara ragu sembari meremas ujung seragamnya.
"Maaf buat?" tanya Nusa dengan polosnya.
"Ya karena telah membuatmu jadi pingsan dan masuk rumah sakit kaya gini. Aku benar-benar takut kalau kamu kenapa-kenapa, jadi sekali lagi aku minta maaf ya Sa. Lain kali aku gak akan ajakin kamu jalan-jalan sampe malam kaya gitu lagi, janji deh," Tara membentuk huruf v pada jarinya.
"Gak papa, ini bukan salahmu kok Ra."
"Tapi kan karena aku sehingga kamu pingsan kaya gini."
"Iya memang aku pingsan saat bersamamu tapi itu bukan karenamu karena pada dasarnya aku punya suatu penyakit yang menyebabkan hal itu terjadi."
"Penyakit? Kamu sakit apa Sa?"
"Untuk sekarang aku gak bisa cerita samamu Ra, tapi yang pasti aku pingsan bukan karenamu. Ingat saat aku bilang bahwa aku senang melebihi rasa senangmu kemarin? Setelah sekian lama, kemarin adalah hari cerah berawan diantara hari-hari mendung yang biasa aku lewati. Kemarin adalah cerita baru dalam lembaran kehidupanku, itu adalah kali pertama aku merasakan kebahagiaan setelah sekian lama aku dirundung kesedihan. Terima kasih telah menggantikan satu hari kelabu menjadi cerah seperti langit biru."
"Huhu, kenapa kamu masih bisa ngomong manis kaya gitu sih. Aku semakin merasa bersalah melihatmu yang pucat dan lemah kaya gitu. Ternyata kamu gak seperti yang aku dan orang-orang lain bayangkan ya, kamu bukanlah cowok kutub, melainkan cowok matahari yang bersinar dan menyenangkan."
"Gak, aku mungkin saja cowok kutub atau cowok kelam, atau mungkin dark mode? Tapi untuk menjadi matahari, aku tak akan pernah sampai di sana karena kamu belum mengenalku sepenuhnya Ra, aku gak semenyenangkan yang kamu kira, akan ada risiko yang mungkin akan mendatangimu cepat atau lambat. Jadi, saat itu terjadi, aku mohon pergilah secepat yang kau bisa. Larilah sekuat tenaga, merangkak lah jika kakimu membatu, dan teriaklah jika semuanya sudah mustahil. Ada satu opsi lagi, pukul aku dengan apapun yang ada disekitarmu saat itu."
"Kamu ngomong apa sih Sa, jangan ngelantur deh. Emang risiko apa yang akan aku hadapi kalau aku terus dekat denganmu?"
"Sudah aku bilang, aku tak akan cerita sekarang. Tiba saatnya nanti kamu akan tau semuanya."
"Hahhh...iya deh iya. Tapi Sa, untuk sekarang aku akan menjulukimu cowok matahari karena kau sangat menyenangkan dan gak membosankan seperti cowok kelam atau cowok kutub yang misterius," ucap Tara memasang wajah serius.
"Sudah aku bilang, aku tidak cocok dengan itu semua. Terkadang aku bisa menjadi semuanya."
"Kalau begitu, gimana kalau bintang? Bintang yang bersinar terang digelapnya malam. Kan kamu tuh kadang-kadang bisa menyenangkan, terang kaya matahari terus bisa dingin, cuek, serta misterius disaat yang bersamaan sama seperti malam yang sejatinya menyimpan banyak rahasia. Kalau kamu gak bisa menjadi salah satu diantaranya kamu bisa jadi bintang karena ia melengkapi keduanya, terang di tengah kegelapan," celetuk Tara panjang lebar yang sukses membuat Nusa merekahkan bibirnya.
~Bersambung~