Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Penolakan



Tara menatap dari kejauhan, memperhatikan Nusa dengan seksama, mengamati setiap jengkal dirinya tanpa ada yang luput dari pandangan. Tara mengumpulkan kadar keberaniannya, mencoba memenuhi termometer keberanian yang dia punya. Kadar keberaniannya saat ini adalah 70%, Tara mencoba sekuat tenaga untuk tenang.


"Oke, apapun hasilnya yang penting aku sudah mencoba," batin Tara mengepalkan tangannya semangat.


Tara melangkahkan kakinya, langkah pertama ia masih ragu, langkah kedua dan seterusnya ia merasa tingkat kepercayaan dirinya telah penuh 100%, kini ia siap datang menghadap Nusa.


"Hai Sa," sapa Tara senormal mungkin.


Seperti biasa, Nusa hanya diam tanpa kata. Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menjauhi Tara.


"Maafin aku Sa, aku gak bermaksud untuk lancang, tapi apapun tentangmu aku gak bisa untuk menutup mata dan menghindar begitu saja karena semua tentangmu selalu membuatku penasaran. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi Sa," Tara mengucapkan apa yang selama ini tersimpan di hatinya, ia hanya berharap agar Nusa menjadi pribadi yang lebih terbuka, memliki teman dan merasa bahagia bukan seperti sekarang, ia kesepian bahkan mungkin ia tidak bahagia; terjebak di masa lalu.


"Untuk apa? Untuk apa kamu peduli denganku? Tidak bisakah kamu menghiraukanku seperti orang lainnya? Kenapa perlu repot-repot untuk dekat denganku? Satu yang harus kamu tau, gak ada untungnya bagimu untuk dekat denganku, karena aku bisa saja mendatangkan masalah yang mungkin tak akan pernah terbayangkan," balas Nusa masih membelakangi Tara.


"Aku sendiri juga gak tau kenapa aku pengen selalu berada di dekatmu. Tapi satu yang aku tau adalah kalau aku gak bisa melihatmu yang selalu sendiri dan merasa kesepian. Rasanya hatiku seperti tersayat, sakit."


"Aku gak butuh belas kasihan darimu. Lebih baik kamu menjauh sebelum aku melakukan suatu hal yang tak di inginkan."


"Gak! Sampai kapanpun aku gak bakal nyerah untuk dekat dan menjadi temanmu!" tegas Tara dengan semangat yang menggebu.


"Kenapa keras kepala banget sih! Aku gak butuh belas kasihanmu itu, aku gak merasa kesepian. Jangan pernah ganggu aku lagi, ngerti," tegas Nusa dengan wajah yang memerah dan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Maaf Sa, aku gak bisa. Semenjak aku ketemu surat yang berbentuk pesawat kertas itu, aku jadi lebih ingin mengenalmu. Aku ingin menjadi orang yang mengobati sedikit luka di hatimu itu dan menjadi orang pertama yang akan menyemangati di kala kamu bersedih nanti."


"Hah...., Terserah! Aku gak perduli!" Nusa meninggalkan Tara yang masih berada di taman belakang sekolah dengan keterpakuannya.


Grab! Langkah Nusa terhenti, saat ia menyadari bahwa seseorang telah merengkuh dirinya, memeluknya erat dari belakang, ya siapa lagi yang akan melakukan itu selain Tara. Semua orang tau bahwa Tara adalah orang yang keras kepala dan berpendirian teguh, jika ia berkata iya maka ia tak akan goyah dan jika berkata tidak maka Tara tetap memegang teguh apa yang diyakininya itu.


"Apaan sih, lepas," berontak Nusa mencoba melepaskan diri dari cengkraman Tara.


"Enggak, aku cuma mau menjadi temanmu Sa, apa susahnya sih untuk menerimaku menjadi temanmu? Cuma itu yang aku harapankan saat ini."


"Enggak, gak akan pernah. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi temanku, ataupun untuk dekat denganku. Lepas, aku mau balik ke kelas," ucap Nusa lagi mencoba melepaskan diri dari pelukan Tara yang cukup erat.


"Enggak mau!" tolak Tara dengan tegas.


"Ku bilang lepas ya lepas!" Nusa berontak dengan kasar, membuat Tara kehilangan keseimbangan dan terjerembab di tanah.


"M...maaf," Nusa berucap gemetar saat melihat Tara yang telah terduduk di tanah.


"Maaf aku gak bermaksud membuatmu terluka," ucap Nusa lagi dengan tangan yang sedikit gemetaran dan langsung kabur meninggalkan Tara dengan keterpakuannya.


"Sebenarnya apa yang telah kamu lalui selama ini Sa? Kenapa sampai gemetaran kaya gitu?" batin Tara bertanya-tanya dengan apa yang baru dilihatnya barusan.


✓✓✓


"Hyuga"


"Hadir"


"Mitsuki"


"Hadir"


"Maira"


"Hadir"


"Nusa"


Di saat Bu Vanty memanggil nama Nusa, tidak ada yang menyahuti sama sekali. Kelas hening untuk sesaat, tempat duduknya juga kosong, Nusa entah berada dimana. Mungkin dia bolos, tapi untuk seseorang seperti Nusa tidaklah mungkin baginya untuk melewatkan pelajaran apalagi sampai membolos.


"Nusa Mahendra Zachery," panggil Bu Vanty lagi.


"Maaf Bu, sepertinya Nusa pulang lebih awal. Tasnya tidak ada, mungkin dia izin untuk pulang," ucap ketua kelas setelah mengecek meja Nusa.


"Apakah dia sakit sampai izin untuk pulang lebih awal?" tanya Bu Vanty lagi mengingat Nusa adalah siswa yang rajin tak sekalipun ia tak datang ke sekolah.


"Tidak Bu, mungkin Nusa telah mendapati izin pulang dari guru yang bersangkutan."


"Baiklah, urusan Nusa biar saya yang akan yang mengatasi. Sekarang, buka buku kalian halaman 165," ucap Bu Vanty mencoba menangani suasana yang sedikit berisik.


Bu Vanty seperti biasa, jika mengajar ia akan terbawa suasana dan berbicara lebih banyak dari yang seharusnya. Hari ini mereka belajar tentang drama, tak ketinggalan Bu Vanty bercerita tentang masa lalunya saat ia menjadi ibu peri dalam kisah Cinderella. Hari itu, Bu Vanty merasa sangat malu karena ia terpeleset dan terjerembab di atas panggung pertunjukan. Tapi itu bukanlah masalah besar karena Bu Vanty dengan cepat menangani masalah itu dengan sifatnya yang ceria dan bersemangat.


Jika itu adalah Tara, mungkin ia akan lari sejauh mungkin menghindari panggung dan menyembunyikan diri di dalam lemari, lalu keesokan harinya ia gak akan datang ke sekolah untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Saat itu, semua orang menikmati drama Cinderella yang dimainkan oleh kelas Bu Vanty, sampai ia dinobatkan menjadi aktris yang penuh percaya diri. Bu Vanty adalah guru bahasa yang sangat Tara sukai, biasanya ia dengan fokus mendengarkan cerita motivasi Bu Vanty tapi tidak untuk saat ini, pikiran Tara entah ada dimana, ia sangat berharap bahwa Bu Vanty akan segera menghentikan dongengnya. Setiap kata yang keluar dari guru favoritnya itu keluar begitu saja bagai angin lalu karena saat ini yang ada di dalam pikiran Tara adalah Nusa. Nusa Mahendra Zachery.


"Sa, apa benar kamu sakit?" Aku harap kamu berada di rumah sekarang dan sedang beristirahat," batin Tara menatap kosong pintu kelas.


"Ra, kamu dipanggil sama Bu Vanty tuh. Tolong bawain semua buku latihan kita," ucap Zhafira membuyarkan lamunan Tara.


"Hah...apa Zha?" tanya Tara dengan kaget saat pundaknya di teluk oleh Zhafira.


"Kamu melamun ya dari tadi? Lagi mikirin apa sih? Nusa ya?" tanya Zhafira dengan tatapan penuh selidik.


"Iya, aku penasaran sekarang Nusa sedang apa? Apakah dia benar-benar ada di rumah sekarang? Yah aku harap semoga Nusa baik-baik saja, berbaring di tempat tidurnya yang empuk dan menikmati waktu istirahatnya," ucap Tara yang tertangkap di telinga Zhafira hanyalah ocehan yang tak masuk akal yang merepotkan juga membosankan.


~Bersambung~