Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Janji



Tara dan Nusa berjalan berdampingan dalam diam, tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Tara yang sedari tadi ingin sekali bertanya, akhirnya mengurungkan niatnya takut kalau Nusa akhirnya membatalkan niatnya pergi bersama Tara. Sudah sepuluh menit mereka berdua berjalan, entah kemana tempat tujuan mereka yang pasti Tara akan tetap mengikuti Nusa.


"Sudah sampai," Nusa berhenti di sebuah taman bermain anak-anak yang letaknya tak begitu jauh dari sekolah mereka.


Taman itu cukup luas dan terdapat bukit kecil sebagai tempat bersantai atau piknik dengan keluarga. Nusa duduk di bukit kecil tersebut dan Tara pun mengikutinya.


"Sewaktu kecil, aku sama kak Zidan sering banget main kesini setelah pulang sekolah atau hari libur. Aku selalu bermain sampai lupa waktu, akhirnya ketika kami sampai di rumah kami mendapati omelan dari Ibu. Tapi kami tak pernah kapok, keesokan harinya kami melakukan hal yang sama lagi dan alhasil kami mendapati ceramah panjang," ucap Nusa menatap jauh taman bermain yang kosong.


"Pasti saat itu kamu senang sekali ya Sa."


"Iya, aku senang sekali. Tapi semenjak kak Zidan meninggal aku gak pernah datang lagi ke taman ini karena mengingatkan aku tentang kenangan dengan kak Zidan yang pasti akan membuka kembali luka hatiku."


"Sekarang, kamu mau apa datang kesini? Bukannya kamu akan semakin terluka?"


"Aku sadar, sudah saatnya aku menghadapi rasa ketakutan itu. Kak Zidan pasti sangat senang jika aku datang kembali kesini karena selama ini aku benar-benar menolak untuk datang. Saat cowok tadi mengajakmu pulang bersama, aku merasa tak rela jika kau mengiyakan ajakannya."


"Kenapa?"


"Entahlah, aku cuma mau kamu melakukan apa yang kamu inginkan tanpa ada paksaan dari orang lain. Ra, bisakah aku berharap agar kamu tidak akan pergi meninggalkanku? Aku sudah cukup merasakan kehilangan, ditinggalkan keluarga yang membuat hidupku hampa. Aku hidup, namun jiwaku telah mati bersamaan dengan kepergian seluruh anggota keluargaku. Meski sekarang aku memiliki keluarga baru, namun mereka tidak akan pernah bisa menggantikan posisi keluargaku yang sebenarnya. Ra, bisakah kau berjanji satu hal itu saja?" Nusa berucap dengan wajah penuh kesakitan, kesepian.


Melihat Nusa yang memasang wajah sedih begitu, Tara diam untuk beberapa detik, menarik napasnya dalam-dalam.


"Iya, aku janji gak akan pernah meninggalkan kamu Sa."


"Aku harap kamu tak akan mengingkari janji itu seperti yang sebelumnya."


"Iya aku janji dan gak akan pernah mengingkarinya seperti yang terakhir kali," ucap Tara mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Nusa.


"Terimakasih Ra," Nusa tersenyum lebar saat Tara berjanji untuk tidak meninggalkannya. Meskipun itu hanyalah sebuah janji yang mungkin saja bisa diingkari tapi Nusa memutuskan untuk percaya pada Tara.


"Uhh..jangan senyum naapa Sa," ucap Tara menundukkan pandangannya pada rerumputan.


"Bukannya kamu berharap agar aku tersenyum? Kenapa sekarang malah aku gak boleh tersenyum?" seru Nusa memasang wajah bingung.


"Soalnya terlalu manis sih, aku jadi pengen peluk," ungkap Tara menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya.


"Sebegitu seramnya kah aku kalau gak senyum sampe sekali senyum aja kamu pengen peluk kaya gitu."


"Gak seram sih, cuma aku kok merasa gak rela ya kalau kamu senyum kaya gitu ke orang lain. Janji ya, kamu hanya boleh senyum kaya gitu hanya di depanku doang, yang lain gak boleh lihat," Tara mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Nusa.


"Gak mau! Masa iya aku harus menuruti ucapanmu itu. Lagipula kan kamu sendiri yang bilang agar aku mempunyai teman, ya otomatis saat itu terjadi mau gak mau pada suatu kejadian aku bakal senyum," balas Nusa tidak menyetujui pernyataan dari Tara.


"Hmm....," Tara menggelembungkan kedua pipinya dan memasang wajah cemberut yang membuat Nusa ingin menjahilinya.


Toel! Toel!


Nusa menekan-nekan pipi Tara yang menggelembung menggunakan jari telunjuknya. Tara yang jengah akhirnya meletakkan kedua tangannya pada kedua pipi yang sedari tadi ditekan-tekan oleh Nusa, ia kira pipi Tara bapao kali ya.


"Iya kaya bapao, gembung dan lembut," Nusa berucap dengan santai sedang Tara merasakan pipinya memanas dan langsung melepaskan tangan Nusa.


"Pipimu merah Ra, sakit?" tanya Nusa dengan tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Enggak," jawab Tara singkat mencoba bersikap seperti biasa.


"Oh iya Sa, aku boleh pegang rambut kamu gak?" Tara mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Untuk?"


"Ya gak untuk apa-apa sih, cuma aku pengen pegang aja kayaknya lembut banget gitu," ucap Tara dengan mata berbinar.


"Ada aja sih kamu Ra, mana ada rambut yang lembut, emang kue?


"Boleh tapi kan? Please," Tara memohon sambil merapatkan kedua tangannya."


Nusa yang merasa tak enak hati akhirnya menyerah juga, mengangguk tanda setuju. Ia sendiri heran mengapa ia selalu saja kalah terhadap Tara? Di saat Tara menginginkan suatu hal meskipun itu aneh, Nusa tetap tidak bisa untuk menolak.


"Wahh....beneran lembut. Gak kalah sama bantal. Jadi pengen tidur di sana deh," ungkap Tara masih memegangi rambut Nusa bahkan sekarang Tara berakhir dengan mengacak-acak rambut Nusa tanpa sadar membuat Nusa yang tadinya anteng akhirnya membuka suara.


"Aduuhhh.... Ra, rambutnya jangan diacak-acak dan ditarik kaya gitu. Sakit tau!"


"Ya ampun, maaf-maaf aku gak sengaja," Tara langsung melepaskan tangannya dari rambut Nusa yang katanya empuk.


"Lihat nih, jadi berantakan kan," gerutu Nusa merapikan kembali rambutnya yang sudah tak berbentuk lagi.


"Curang ah Sa, masa iya rambut kamu yang acak-acakan kaya gitu masih aja keren. Gak adil tau gak!"


"Terus salahku gitu kalau aku masih tetap keren?" Nusa berucap dengan santai seperti cowok berandalan yang tengah tebar pesona.


✓✓✓


"Makasih ya Sa, aku senang karena kamu mau berbagi sedikit cerita tentang hidupmu. Aku benar-benar senang, lain kali cerita lebih banyak ya terus kita main deh di taman bermain itu."


"Memangnya kita anak kecil apa? Malu sama umur Ra."


"Ya gak papa kan? Supaya kamu menciptakan kenangan baru agar kamu tak merasa sedih lagi saat melihat taman bermain dan mengingat kakakmu. Terus kita datang kesana sewaktu pulang cepat kaya tadi biar gak ada anak-anak yang main di sana," seru Tara dengan semangat yang membuat Nusa tak tau harus berkata apa.


"Yaudah kalau gitu aku masuk ya Sa," Tara berbalik, berniat masuk ke dalam rumahnya.


Baru satu langkah ia memasuki area taman rumahnya, ia di kagetkan dengan Karina yang sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang terlipat di dadanya. Tara yang melihat pemandangan itu hanya bisa menelan salivanya dengan kasar tampaknya kali ini ia akan mendapat ceramah panjang dari Karina.


~Bersambung~