
"Yessss.....kita akhirnya menang. Yuhuuuu.....," girang Zhafira melompat-lompat yang membuat semua orang yang ada di sana hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Zhafira seperti anak kecil.
"Udah gak usah loncat-loncat napa Zha, kaya anak kecil aja!" ucap Aldo kesal melihat tingkah Zhafira.
"Wleekk.... biarin! Yang penting kita menang kan. Kali ini kita yang jadi pemimpin klasemen untuk acara pertunjukan bakat solo. Untuk games yang lain, kita harus menang pokoknya supaya kelompok kita yang bisa dapat hadiah istimewa dari kepala sekolah. Kira-kira apa ya hadiahnya, aku jadi penasaran."
"Udah gak usah banyak berkhayal deh Zha. Kita lakukan semampu kita, lakukan sebaik mungkin. Menang kalah gak masalah, iya gak guys?" ucap Milka yang akhirnya membuka suara.
"Yoi, tapi aku setuju sih sama ucapan si Zhafira barusan, sebisa mungkin kita menangkan setiap games yang dilombakan ini. Kita buktikan kalau kelompok kita bisa meskipun isinya kebanyakan orang-orang bermasalah," sambung Oto, teman sekelas yang sering bikin onar.
"Iya, kaya kamu contohnya," sahut Zhafira yang disambut tawa oleh semua anggota kelompok 6.
Dua perlombaan dalam games mini kali ini telah selesai dilaksanakan yaitu lomba pertunjukan bakat solo dan lomba bakiak. Acara selanjutnya adalah perlombaan balap sarung, tarik tambang, dan ditutup dengan pertunjukan bakat kelompok.
"Ra," panggil seseorang yang membuat Tara menoleh mencari sumber suara.
"Ya?"
"Boleh aku duduk di sini?"
"Ohh...i...iya boleh."
Evan duduk di samping Tara namun ia masih diam tanpa mengatakan apapun, Tara yang masih merasa tidak nyaman akan kejadian tempo hari bingung harus berbuat apa. Ia mencoba mengalihkan pikirannya pada perlombaan tarik tambang, tetapi hanya matanya saja yang teralihkan tapi tidak dengan pikirannya.
"Hmm...kamu mau apa ya Van?" Tara memberanikan diri bertanya.
"Aku minta maaf ya," ucap Evan spontan.
"Buat?" balas Tara pura-pura tidak tahu.
"Untuk kejadian tempo hari, aku gak bermaksud untuk melukai kamu. Aku cuma pengen mengantar kamu pulang kok, sekalian ketemu sama keluarga kamu. Namun tanpa sadar aku melukaimu, mencengkram pergelangan tanganmu dengan kasar. Meskipun telat, apa tangan kamu gak papa?" jelas Evan merasa bersalah.
"Aku udah gak papa kok, aku juga udah maafin kamu. Aku tau kamu gak akan mungkin melukai aku dengan sengaja. Aku harap kita dapat berteman lagi kaya dulu, aku pengen kamu tetap seperti Evan yang dulu aku kenal, yang selalu baik dan melindungi aku."
"Iya, aku janji gak akan berbuat kaya gitu lagi. Tapi serius kamu udah maafin aku?" tanya Evan lagi memastikan apakah dirinya benar-benar dimaafkan atau tidak.
"Iya aku serius," jawab Tara yakin.
"Makasih. Oh iya itu siku kamu kenapa?" khawatir Evan saat melihat siku Tara yang dibalut plester luka.
"Jatuh dari pohon," jawab Tara singkat.
"Pohon apa ini? Dari dulu gak berubah ya, mainannya pohon terus udah kaya monyet aja."
"Iya, monyet cantik yakan."
"Iya deh monyet cantik ekor panjang."
Tara dan Evan terlihat begitu akrab, tampaknya hubungan mereka sudah kembali seperti semula. Tara yang awalnya merasa malas untuk bertemu dengan Evan, kali ini sudah bersikap seperti biasa. Evan juga tidak dapat menyembunyikan ekspresi bahagianya karena selama beberapa hari ini ia selalu dihantui dengan rasa bersalah syukurlah jika Tara memaafkan dirinya.
"Ohh iya, kelompok kita belum tampil ya?"
"Belum," jawab Evan singkat.
"Wahh....Nusa main," girang Tara saat melihat Nusa ikut turun tangan dalam lomba tarik tambang. Meskipun senang tetapi Tara masih bertanya-tanya kenapa Nusa mau ikut padahal sebelumnya ia terlihat tidak peduli sama sekali.
"Girang banget! Itu cowok yang kemaren kan? Kamu ada apa-apa ya sama dia?"
"Hah...gak kok! bantah Tara dengan cepat.
"Ya karena Nusa itu teman sekelas aku, gak masalah kan kalau aku dukung dia?"
"Gak masalah sih, tapi kenapa hanya Nusa yang kamu dukung kenapa yang lain enggak disitu kan ada anak kelas kamu juga."
"Hah...iya ya. Udah ah, kamu kok kepo banget sih! Aku gak mau jawab pertanyaan kamu lagi!" pekik Tara memasang wajah kecut.
"Hahahaha...kamu lucu banget sih. Kamu tau gak kalau kamu itu gak pandai berbohong, apalagi untuk akting, kacau! Aku tau kok kalau kamu ada apa-apa sama dia, mungkin kamu suka sama dia, atau lebih jauh lagi kalian lagi menjalin hubungan?" ucap Evan yang membuat Tara tidak berkutik karena memang benar bahwa dirinya suka dengan Nusa bahkan sekarang mereka sudah pacaran.
"Aku nyerah, kamu benar!" ucap Tara tertunduk malu.
"Ternyata tebakanku benar ya. Sepertinya aku harus menyingkirkan perasaan ini sesegera mungkin."
"Hah...maksudnya?" tanya Tara menolehkan kepalanya pada Evan.
"Bukan apa-apa, nanti kita ngobrol lagi ya Ra. Aku harus ketempat anggota kita yang akan dipanggil sebentar lagi," ucap Evan berlalu meninggalkan Tara dalam kebingungan.
Agenda kegiatan malam ini telah selesai. Semua perlombaan telah dilakukan dengan baik oleh semua siswa yang ditutup dengan stand up comedy oleh salah satu siswa sebelum diakhiri dengan doa oleh pak Adi.
Tara dapat menyunggingkan senyum karena kelompoknya, kelompok 4 berhasil memenangkan perlombaan bakiak dan pertunjukan bakat kelompok, serta menjadi juara tiga dalam lomba tarik tambang.
Sedangkan kelompok Nusa, kelompok 6, mereka memenangkan lomba tarik tambang, pertunjukan bakat solo oleh Zhafira dengan harmonikanya serta menjadi runner-up dalam lomba balap sarung.
"Huhh...kenapa susah banget sih untuk tidur. Zha, Sisy dan Milka kenapa gampang banget tidurnya, mana nyenyak lagi. Keluar aja deh cari angin siapa tau nanti ngantuknya datang sendiri," batin Tara keluar dari tenda.
"Lohhh...kamu ngapain di sini Sa?" kaget Tara saat melibat punggung seseorang yang tengah duduk di sebuah batang pohon yang ia sendiri yakin bahwa orang itu adalah Nusa.
"Cari angin," jawab Nusa singkat.
"Kamu gak bisa tidur ya?"
"Iya."
"Sama aku juga."
"Aku mikirin kamu," ucap Nusa tiba-tiba.
"Hah...m...maksudnya?"
"Aku gak bisa tidur karena mikirin kamu. Aku lihat kamu tampak senang saat bersama Evan."
"Kamu cemburu?"
"Enggak, untuk apa aku cemburu. Aku tau kalau kamu gak akan memiliki perasaan atau hubungan lebih dari teman sama Evan tapi aku merasa saat bersama dia kamu tampak begitu bahagia. Aku jadi iri."
"Aku memang bahagia hari ini karena tadi Evan minta maaf samaku soal kejadian dia mencengkram pergelangan tanganku tempo hari. Terus dia janji kalau dia gak akan mengulangi kesalahan yang sama karena pada dasarnya kemarin itu dia gak sengaja melakukan hal itu dan sekarang kita berteman lagi seperti dulu gak mungkin kalau aku sedih kan? Pastinya aku senang, tapi maksud kamu iri itu apa?"
"Lupakan, bukan hal penting."
"Kok gak penting sih, semua tentang kamu itu penting tau!" balas Tara menggelembungkan pipinya kesal.
"Udah semakin larut dan semakin dingin, sebaiknya kita istirahat sekarang. Kamu tidur gih, semoga mimpi indah," seru Nusa berlalu memasuki tendanya yang letaknya tak jauh dari tenda milik Tara.
"Ihhh....kamu sengaja ya mengalihkan pembicaraan!" pekik Tara kesal memasuki tendanya dengan kasar.
~Bersambung~