Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Nasi Goreng Spesial



"Nusa, ayo makan bareng!"


"Kamu duluan aja Ra. Aku harus bawa buku anak-anak ke kantor."


"Okeh, aku tunggu kamu di taman terbengkalai ya. Jangan lama-lama, nanti makanannya habis."


"Memang kamu bawa apa?"


"Makanan kesukaan kamu loh. Aku bawa kroket sama nugget," jawab Tara dengan semangat.


"Udah itu aja? Gak bawa nasi?"


"Enggak lah, aku bawa nasi goreng. Tapi nasi gorengnya gak biasanya, kali ini spesial."


"Yang membuat spesial apa?" Nusa memasang tampang bingung.


"Aku tambahkan saos strawberry," jawab Tara dengan tampang tanpa dosa.


"Hah...sa....saos strawberry? Haha....kamu unik banget ya Ra. Kalau gitu aku pergi ya, takut pak guru nungguin lama." Nusa berlalu meninggalkan Tara dalam tanda tanya.


"Nusa kenapa aneh kaya gitu. Emang saos strawberry salah?" pikir Tara bertanya-tanya sebelum berjalan menuju taman terbengkalai.


Tara duduk di bangku panjang, menunggu kedatangan Nusa. Perutnya sudah keroncong tapi ia bertekad untuk tidak menyentuh kotak bekalnya sebelum Nusa datang.


Kruyuukkkk...


"Haduuhh....Nusa kenapa lama sih. Aku lapar lagi," tatap Tara pada kotak bekal yang terletak di sampingnya.


"Icip dikit boleh kali ya. Sesendok aja," batin Tara meraih kotak bekalnya kemudian menyendok nasi goreng saos strawberry dan bersiap memasukkannya ke mulut.


Hap!


Tara tidak merasakan nasi gorengnya masuk dalam kerongkongan. Siapa yang telah memakan nasi gorengnya? Pikir Tara panik.


"Hah.....apaan nih, rasanya aneh."


Tara menoleh ke samping kiri, terlihat seorang cowok tengah mengunyah. Tenyata dia memakan nasi gorengku, batin Tara lagi. Tara bangkit, mencoba menahan emosi.


"Kau ngapain di sini?"


"Serah gue lah. Emang ada larangan kalau gue gak boleh masuk ke sini?"


"Gak! Kau gak boleh masuk kesini. Pantang hukumnya, haram!"


"Kalau haram, lo juga gak boleh ada di sini."


"Kok aku? Jauh sebelum kau ada di sini, aku udah duluan kesini, hampir tiap hari malahan. Jadi, sebagai senior yang lebih dulu berkunjung ke sini, aku perintahkan kau untuk pergi! Kau mengganggu waktu makanku!"


"Kalau gue gak mau gimana?" jawab Semesta menantang.


"Ku hajar kau pakai balok kayu," ucap Tara mengambil ranting lumayan besar guna memukul Semesta, tapi dia malah lari yang membuat mereka berdua berakhir dengan kejar-kejaran.


"Tara, kamu ngapain?" tanya Nusa menatap Tara dan Semesta aneh.


"Ehh.... Nusa, gak ngapa-ngapain kok," jawab Tara menjatuhkan ranting yang di pegangnya sebelum menghampiri Nusa. Semesta? Dia masih di sana, menatap dengan tatapan tajam.


Nusa menyendok makanannya ke mulut, begitupun dengan Tara. Ia memberikan beberapa kroket dan nugget pada Nusa.


"Ra, itu cowok yang kemarin kan? Gak diajak makan sekalian?" tanya Nusa setelah melirik Semesta yang menyandarkan diri di batang pohon.


"Gak usah Sa, biarkan saja, aku juga gak kenal sama dia," jawab Tara tidak peduli pada Semesta.


"Tapi dia melihat kita dengan tatapan tajam, seperti marah."


"Dia emang kaya gitu, namanya juga iblis," jawab Tara lagi tanpa melihat Semesta. Sepertinya dia mengeluarkan aura gelap yang mengelilinginya.


"Oh iya, kamu gak mau coba nasi goreng aku? Ini enak loh," seru Tara lagi menyodorkan sesendok nasi goreng saos strawberrynya pada Nusa.


"Gak usah Ra, makananku juga masih banyak. Takutnya nanti gak habis kalau aku makan punyamu," tolak Nusa sopan.


"Yahhh....icip-icipnya kan cuma sesendok bukan dihabiskan semua. Mau ya? Ya, ya, ya. Please." Tara memasang wajah sedih dihadapan Nusa yang akhirnya Nusa mengangguk setuju.


"Gimana? Enak?"


Nusa membuka matanya setelah berhasil menelan sesendok nasi goreng itu. Alhamdulillah, dia baik-baik saja sekarang.


"Iya lumayan, rasanya kaya nasi goreng biasa tapi agak aneh mengingat ada saos strawberry diatasnya. Tapi gak buruk kok," jawab Nusa jujur.


"Kalau gitu, kamu mau lagi?" Tara menyodorkan kotak bekalnya Nusa.


"Gak usah Ra, kamu habiskan saja. Atau kamu mau cicip makanku?"


"Iya, iya mau," jawab Tara semangat.


Di saat Nusa dan Tara sedang bermesraan, ada seseorang yang terlihat tidak senang akan hal itu. Semesta masih berdiri menatap mereka berdua sebelum akhirnya ia lelah berada di saja.


"Ck." Semesta bejalan pergi meninggalkan taman terbengkalai melewati Nusa dan Tara begitu saja.


"Urgghhh... akhirnya pergi juga tuh orang," cetus Tara lega.


"Kamu yakin gak kenal dia?"


"Kamu gak percaya samaku Sa?"


"Bukannya gak percaya, aku melihat dia ingin sekali berteman denganmu."


"Tapi akunya enggak. Aku malas ketemu dengan iblis kaya dia. Dia itu menyebalkan, aku selalu naik darah kalau ada dia. Dia itu iblis!"


"Jangan gitu, gak boleh benci dengan seseorang secara berlebihan."


"Gak papa, aku memang gak suka sama dia. Dia menyebalkan," jawab Tara mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah, cepat habiskan makananmu," seru Nusa menepuk pelan puncak kepala Tara.


✓✓✓


"Ehh.... Zha mana?" cetus Tara saat melihat mejanya kosong. Zhafira belum kembali padahal lima menit lagi waktu istirahat akan berakhir.


"Aku mau cari Zha dulu." Tara berniat keluar mencari Zhafira. Sebelum itu, ia menghentikan langkahnya saat Nusa angkat suara.


"Ngapain di cari Ra?"


"Gak biasanya dia belum balik Sa. Tau sendiri kan kalau setelah ini ada pelajaran Bu Ginting, dia kan guru killer. Aku harus cari dia sebelum dia telat, bisa-bisa dihukum keliling lapangan 10 kali."


"Terus kamu mau cari dimana? Bisa saja Zhafira sedang ada di toilet. Sebentar lagi dia pasti kembali."


"Oh iya, coba aku telpon dulu," cetus Tara mengambil ponselnya dari saku rok.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.


"Hah...ni anak kemana lagi, hpnya gak aktif." Tara memasukkan ponselnya kembali sebelum menghilang dari balik pintu. Nusa yang melihat hal itu membiarkan begitu saja.


Tara mencari Zhafira kesana-kemari. Ia harus cepat, kalau tidak waktu istirahat akan segera usai. Saat bel berbunyi, habis sudah. Mereka akan mendapat hukuman dari Bu Ginting, selain terkenal sebagai guru killer, Bu Ginting juga sangat disiplin. Saat waktunya masuk, ia akan tiba di kelas tepat pada waktunya tanpa terlewat satu menit pun.


"Kemana dah tuh anak. Hp nya gak aktif lagi," gumam Tara celingak-celinguk melihat sekitar.


"Mungkin dia di kantin kali ya," gumam Tara sebelum melangkahkan kakinya menuju kantin.


"Pantesan betah, rupanya bareng kak Lintang," batin Tara melihat Zhafira dan Lintang sedang berbincang.


"Woyy... Zha, balik kelas yuk. Sebentar lagi Bu Ginting masuk, kalau dia masuk sebelum kita, bisa habis kita di suruh keliling lapangan," teriak Tara menghampiri Zhafira dan Lintang.


"Lohhh...emang udah masuk apa?" tanya Zhafira dengan tampang polos.


"Belum, tapi satu menit lagi waktu istirahat akan berakhir," jawab Tara santai yang membuat Zhafira bangkit dari tempat duduknya dengan kaget.


"Hah! Kak, kita balik ke kelas duluan ya," pamit Zhafira yang dibalas anggukan dari Lintang.


"Kak, bukannya bermaksud mengganggu kalian. Tapi ini masalah penting, Bu Ginting ini kak. Maaf ya," seru Tara sebelum meninggalkan Lintang di kantin. Si empunya malah tertawa mendengar ucapan Tara.


~Bersambung~