Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Iblis



Seluruh siswa kelas XI mengikuti langkah Pak Rendy yang memasuki museum termasuk para panitia. Semua berkumpul dengan kelompok masing-masing yang membuat Tara tidak memiliki waktu untuk meminta maaf pada Nusa. Jangankan minta maaf, untuk berdekatan saja tidak mungkin karena tujuan mereka datang ke museum adalah untuk belajar.


Kemarin, pada hari pertama mereka telah puas bermain, sudah seharusnya mereka semua fokus pada arahan-arahan Pak Rendy yang setengahnya tidak dapat didengar. Tara memfokuskan dirinya pada Pak Rendy tapi pak Rendy malah menutup pidato singkatnya. Tara menghela napas berat, mengikuti langkah teman kelompoknya, ia terlalu malas untuk bertanya apa yang baru saja Pak Rendy katakan.


Setiap kelompok mendapat pemandu museum masing-masing serta didampingi guru pembimbing. Mereka tidak luput dari tugas yang membuat mereka semua mendengus kesal. Tara memfokuskan pendengarannya pada lelaki berusia 20-an yang tengah menjelaskan tentang artefak kuno dalam kotak kaca.


Tara menjinjit karena penglihatannya terhalang teman-teman yang lebih tinggi darinya. Dia menoleh ke kiri, mencari Zhafira namun si empunya badan entah berada dimana, menghilang begitu saja tanpa pamit, persis seperti setan.


"Sini ke depan." Seseorang terlihat menarik tangan Tara tanpa tahu wajahnya seperti apa.


Tara terpaksa maju ke depan, menerobos kerumunan. Dia mengikuti tangan seseorang yang menariknya. Tara melihat sekitarnya, mencari siapa yang menariknya dari tempat tidak menguntungkan itu. Sebelah kanan, terlihat wanita berhijab memakai kacamata yang tengah fokus mendengarkan penjelasan dari pemandu museum. Tara mengambil kesimpulan bahwa yang menariknya bukanlah wanita itu. Sebelah kiri, Tara melihat cowok dengan kaos lengan pendek, tampilannya terlihat acak-acakan.


"Napa lo liat-liat?" Laki-laki di sebelah Tara sadar bahwa dirinya diperhatikan.


Tara berdecak kaget. "Gak papa," jawab Tara mengalihkan pandangannya pada artefak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.


Cowok itu mengarahkan pandangannya pada Tara, si empunya badan yang merasa tidak nyaman akan cowok yang di sebelahnya memilih minggir ke tempat lain. Cowok itu segera meraih pergelangan tangan Tara, menahannya agar Tara tidak beranjak dari tempatnya.


Tara mengernyitkan dahi. "Lepas!" berontak Tara mencoba melepaskan cengkraman.


"Mau kemana sih lo? Udah bagus gue tolongin!" cetus cowok itu tidak senang.


"Tolongin? Sejak kapan kau menolongku?" Tara berseru tidak senang terhadap cowok yang ada di hadapannya. Kali ini, ia menggunakan kata kau sebagai panggilan bukannya kamu. Terkadang Tara begitu, di saat kesal atau terhadap orang yang tidak dia sukai, dia sering menyebut orang itu dengan sebutan kau, terkadang juga anda pada seseorang yang benar-benar membuatnya muak.


"Gue yang tarik tangan lo. Seharusnya lo berterima kasih sama gue!"


"Ohh....jadi kau yang menarik tanganku dengan paksa? Sakit tau!" cetus Tara merapatkan giginya, pertanda dia kesal.


"Makanya, jadi orang tuh jangan pendek! Jadi tenggelam di antara kerumunan kan? Untung ada pangeran tampan yang membantu. Kalau gak, lo udah mati karena berdesakan dengan banyak orang," jelas cowok itu dengan bangganya.


"Isshhh....narsis kau ya! Aku gak pendek! Udah, lepas tanganku!" tegas Tara dengan tatapan tajam.


Teman-teman kelompok merasa terganggu dengan keributan kecil antara Tara dan cowok berantakan yang ada di depannya. Mereka menatap tajam, mengisyaratkan mereka berdua untuk tenang. Cowok itu melepaskan cengkraman tangannya. Tara lega dan memberi senyum kecut pada teman kelompok yang menatapnya sebelum melotot tajam pada cowok yang ada di sebelah kirinya.


✓✓✓


Tara bernapas lega, meluruskan kakinya di bawah pohon rindang. Zhafira, Milka dan Sisy menghampiri dengan minuman kaleng di tangan mereka. Sekarang waktunya jam istirahat, semua siswa memiliki waktu bebas yang dapat dimanfaatkan untuk bermain atau apapun. Mereka telah menyelesaikan makan siang bersama sebelum diizinkan berpetualang dengan bebas. Waktu yang diberikan Pak Rendy satu jam, cukup untuk shalat, bermain atau sekedar mengistirahatkan badan.


"Hah....capek juga ya, padahal kita cuma mendengarkan pemandu museum. Gimana kalau kita yang jadi mereka ya? Setiap hari harus mengulangi kata-kata yang sama." Zhafira berkomentar sembari meneguk minuman soda miliknya.


"Iya, aku juga gak kebayang kalau jadi pemandu museum," Sisy menimpali perkataan Zhafira sedangkan Tara memilih meneguk kopi yang diberi Zhafira. Tumben Zhafira baik, biasanya dia selalu meminta traktir, kali ini dia yang mentraktir Tara.


"Oh iya, kalian ada yang lihat Nusa gak?" tanya Tara setelah menyadari bahwa dia belum meminta maaf pada Nusa.


"Gak tau, aku gak ada lihat," jawab Milka sedangkan Sisy hanya menggelengkan kepalanya.


"Oke, aku akan kesana. Tapi sebelum itu aku mau menghabiskan kopi ini dulu," seru Ayra meneguk kopinya.


"Ribet amat Ra, bawa aja kenapa ke tempat Nusa. Kan kopi kaleng bukan kopi di dalam gelas," sahut Milka menggelengkan kepala melihat tingkah Tara.


"Gak, ribet!" jawab Tara dan mengangkat kopi kalengan itu ke udara, mengarahkan ke mulutnya.


Grab!


Tara tidak dapat merasakan kopi yang membasahi tenggorokannya. Dia membelalakkan mata saat kopi kalengannya direbut dan diminum seseorang.


"Oyy!" Tara menepuk pundak cowok yang membelakanginya.


Cowok itu berbalik, Tara merasakan darahnya mendidih. Ingin sekali ia mencampakkan cowok yang ada di hadapannya ini ke planet Pluto agar tidak kembali lagi. Ya, cowok ini adalah cowok yang sama yang beberapa waktu lalu mencari gara-gara dengannya. Bahkan tanpa permisi ia menarik pergelangan tangan Tara dengan kasar.


"Gak sopan! Ngapain kau ambil kopiku?" seru Tara berkecak pinggang.


"Kenapa? Lo gak suka? Lagian siapa suruh lo lama minum nih kopi. Daripada mubazir, mending buat gue, haus soalnya," jawabnya santai kembali mengarahkan kaleng bewarna coklat itu ke mulutnya.


Dengan cepat, Tara mencoba meraih minumannya kembali. Cowok itu terlihat senang saat melihat Tara yang tersiksa menggantungkan tangannya ke udara, kakinya juga berjinjit guna membuatnya menjadi sedikit lebih tinggi. Namun, si cowok lebih tinggi darinya. Alhasil, Tara menghentikan aktivitasnya sejenak, mengatur napasnya yang tidak beraturan.


"Udah segitu aja? Dasar cebong," ejek cowok itu dengan seringaian iblis miliknya.


"Uhhhhh....." Tara menggerutu.


Sekali lagi ia mencoba meraih kaleng kopi tersebut namun nihil, ia kembali gagal. Putus asa, Tara memukul bahu cowok itu dengan keras, kanan dan kiri. Si empunya badan meng-aduh, mendorong Tara agar menjaduh dan menghentikan aktivisnya. Namun Tara malah terlihat senang. Rasakan pembalasan ku, batin Tara menambah volume pukulannya.


Tara melayangkan tinju pada cowok itu tapi tangannya segera ditangkap. Tara mengerjap beberapa kali, ia melihat kilatan yang menyilaukan mata. Menoleh, Tara mendapati Zhafira yang tengah memegang smartphonenya, ia pasti memotret atau memvideo. Sedari tadi, hanya Tara sendiri yang melawan cowok ini sedangkan ketiga temannya malah asyik menonton, bahkan Milka dengan semangat meneriakinya agar tidak kalah dari si cowok. Sisy memilih bungkam tapi ia terlihat sangat menikmati, ia seperti sedang menonton pertunjukan drama. Zhafira? Seperti yang diketahui, ia tengah memvideokan aksi Tara dan si cowok.


Tara berjalan menghampiri Zha yang gelagapan menyimpan ponselnya ke dalam tas yang tersandang di bahunya. Dengan cerobohnya, Tara berjalan menuju aspal yang berlubang. Alhasil, Tara tersandung. Cowok yang dibelakangnya dengan sigap menarik tangan Tara dari belakang. Tenaga yang mengalir dari tangannya sukses membuat Tara berputar 90° menuju si cowok. Ketiga teman Tara hanya melongo melihat kejadian itu sampai Zhafira menyadari bahwa seseorang dari kejauhan menatap mereka.


"Ra, ada Nusa," bisik Zhafira pelan.


Tara yang mendengar nama Nusa disebut langsung mencari dimana keberadaannya. Matanya bertemu dengan Nusa yang menatapnya dari kejauhan. Wajah Nusa masih datar tapi Tara dapat melihat bibirnya yang melengkung ke bawah.


"Ehh.... Lepas!" berontak Tara masih berada dalam dekapan si cowok. Cowok itu tanpa basa-basi langsung melepaskan Tara yang sukses membuatnya meng-aduh kesakitan memegangi pinggangnya.


"****! Napa dilepas sih!" protes Tara pada si cowok.


"Lahh....kan lo yang minta," jawab si cowok singkat.


"Dasar kau cowok aneh, berandal, begajulan, iblis!" cetus Tara menginjak kaki si cowok sebelum berlari mengejar Nusa yang sudah menghilang dari pandangan.


~Bersambung~