Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Awal yang Baik



Napas Tara terengah-engah. Di liriknya jam tangan berwarna cokelat di pergelangan tangan kirinya, pukul 07:50. Lima belas menit Tara dan teman sekelasnya berlari mengelilingi lapangan olahraga. Yap, pagi ini kelas XI IPS C mendapati kelas olahraga di jam pertama. Hal yang menyenangkan mendapati pelajaran olahraga di pagi hari pada jam pertama, namun yang membuat Tara menggeram kesal adalah disaat dirinya yang sudah rapi dan wangi sedari rumah, justru dekil dan berkeringat saat tiba di sekolah yang membuat moodnya hilang seketika untuk melanjutkan pelajaran lainnya karena keringat yang membuat risih.


Satu hal yang membuat kadar kekesalan Tara semakin memuncak, yaitu saat pak Andre dengan santainya berkata pada seluruh murid untuk melakukan olahraga sendiri yang dimana dirinya memiliki urusan penting yang harus diselesaikan. Terlihat cowok-cowok sangat antusias bermain sepak bola, beberapa anak cewek dengan semangatnya bermain voli dan juga bulu tangkis. Sedangkan yang lainnya memilih untuk bercengkrama dan bersenda gurau dengan teman-teman yang lain. Sebagian lainnya memilih untuk melipir menuju kantin, toh pak Andre juga tak akan marah karena kak Andre adalah salah satu guru yang paling ramah dan santuy.


Menik mata Tara memindai semua orang yang ada di lapangan mencari cowok yang belakangan ini menarik perhatiannya. Lock! Mata Tara langsung mengunci ketika mendapati Nusa yang tengah duduk menyendiri di pinggiran lapangan, dibawah pohon jambu yang rindang. Tanpa basa-basi lagi, Tara meninggalkan kerumunan cewek-cewek yang sedang ngerumpi tentang idol Korea mereka, sedang Tara hanya bisa planga-plongo tidak tau sama sekali apa yang mereka bahas.


"Hay," sapa Tara menyunggingkan senyum termanis yang dia punya.


Nusa mendongak, mengalihkan pandangannya dari layar handphone menuju sumber suara. Ketika didapati itu adalah Tara, Nusa tak acuh dan langsung merogoh kantung celananya, menyumbat kedua telinganya dengan headset yang ada di kantungnya dan menyetel musik dengan volume diatas wajar.


"Aku dianggurin gitu aja nih," cetus Tara sebal memanyunkan bibirnya sepanjang tiga cm.


Lagi lagi, Nusa bergeming tanpa memerdulikan Tara sama sekali. Termometer tingkat kekesalan Tara telah penuh 100%, dengan kasar ia menarik headset yang menyumbat telinga Nusa.


"Apaan sih, bisa gak jangan gangguin aku? Gak ada kerjaan ya," terang Nusa yang tampak sedikit kesal dengan tingkah Tara.


"Habisnya aku dicuekin. Kenapa gak gabung sama yang lain Sa?"


"Emang aku harus menjawab pertanyaan gak penting itu? Nusa membalas pertanyaan Tara dengan pertanyaan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Penting tau! Semua hal tentangmu itu penting buatku," cetus Tara jujur.


Mendengar hal itu, Nusa hanya mengeluarkan satu kata; hahhh?? Jeda untuk beberapa detik, akhirnya Tara sadar akan apa yang dikatakannya barusan, sebenarnya itu adalah kata hatinya yang keluar begitu saja tanpa Tara sendiri sadari. Merasa malu bagai ditimpuk bata sekilo, Tara langsung kabur dengan alasan Zhafira mencarinya. Nusa yang ditinggal Tara bingung melihat tingkah aneh Tara, si penguntit rese yang memakan sosis kentang favorit terakhirnya.


"Aaaaaaaaa.... malu banget aku," teriak Tara histeris yang membuat semua orang yang ada di kantin melihat ke arahnya.


"Huhu, malu banget aku Zha, masa iya aku ngomong kaya gitu sama Nusa," terang Tara yang sukses membuat Zhafira menyemburkan es lemon yang tadi diseruputnya.


"Ihhh... jorok!" protes Tara melihat es lemon membasahi meja mereka.


"Udah deh gak usah protes, lagian tuh ya emang kamu ngomong apa sama Nusa? Wait, ini Nusa yang mana? Setauku yang namanya Nusa cuma murid baru yang ada di kelas kita."


"Emang Nusa yang itu, emang Nusa siapa lagi coba? Nusa si cowok misterius yang buat aku penasaran, Nusa Mahendra Zachery," ucap Tara penuh penekanan saat ia menyebut nama lengkap Nusa si cowok misterius yang menarik perhatiannya.


"Gila, parah kamu Ra, udah menguntit, terus makan makanan si Nusa tanpa permisi, terus pake ngomong kalau dia tuh penting banget buatmu? Padahal Nusa nya sendiri gak suka dengan keberadaanmu disitu! Gila, udah kaya cewek kasmaran aja kamu Ra. Tapi aku dukung sih, dia kan emang manis, siapa coba yang gak tertarik, cuma sayangnya dia itu cowok dark mode banget tau gak. Aku sih lebih milih cowok bright mode, cerah secerah mentari," Zhafira mencerocos tanpa jeda yang membuat Tara kehilangan sebagian kata-kata karena ocehan Zhafira terlalu cepat seperti kereta api yang melaju terus tanpa henti sebelum sampai ke tujuannya.


"Ya gitu deh, aku malu banget tau gak Zha. Jadi pengen menghilang dari bumi aja," frustasi Tara membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang terlipat di meja.


Melihat temannya yang se-frustasi itu, Zhafira hanya diam tanpa menyahuti perkataan Tara. Karena disaat merasa lelah atau putus asa, ia hanya butuh ketenangan untuk menjernihkan kembali pikirannya yang keruh.


"Wahahahaha....masa iya seorang Tara Nesya Ningrum merasa gagal dan putus asa hanya karena sepatah kata dan kalah dengan rasa malu? No, dalam Kamus Besar Bahasa Tara tidak ada yang namanya kalah, apalagi kalah dengan rasa malu. Tunggu aja, Nusa kamu pasti memiliki teman pertama di sekolah ini, yaitu aku; Tara Nesya Ningrum," teriak Tara semangat yang membuat Zhafira hanya bisa menggelengkan kepala dan menundukkan pandangan dari semua mata yang melihat ke meja mereka.


Bagi sebagian orang yang mengenal Tara, sudah biasa melihat dia menggila seperti tadi karena pasalnya Tara adalah cewek yang sedikit unik cenderung terkesan aneh bagi sebagian orang normal lainnya. Tara pernah terlihat tertawa dan tersenyum sendiri, berbicara dengan tikus yang numpang lewat di gudang, mengumpulkan sepuluh dedaunan kering dari pohon berbeda setiap harinya, meminta tanda tangan orang yang dianggapnya akan sukses dikemudian hari termasuk para guru yang ikut terdaftar sebagai suri tauladan menjadi sukses dimasa depan, dan entah apa lagi kebiasaan anehnya, karena itu semua yang hampir seluruh warga SMA Negeri 1 ketahui, mulai dari murid, guru, pedagang di kantin, bahkan tukang bebersih sekolah pun tak luput mengetahui kebiasaan aneh Tara Nesya Ningrum yang namanya terdengar cantik namun tidak dengan sikap dan kelakuannya yang membuat geleng-geleng kepala.


✓✓✓


Tara menunggu bus di halte seorang diri, menggumamkan lagu yang entah apa dengan riang sembari menggerakkan kedua kakinya. Sekolah telah bubar sepuluh menit yang lalu, suasana sekolah tampak sepi dengan beberapa orang siswa yang masih ada di sana, termasuk Nusa yang keberadaannya tertangkap jelas oleh mata Tara yang tengah duduk di halte satunya lagi. Tara menghampiri Nusa, melupakan ucapan yang membuatnya malu saat jam pelajaran olahraga tadi. Untuk pertama kalinya, Nusa menanggapi Tara tanpa mengacanginya terlebih dahulu.


~Bersambung~