Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Genderang Perang



Hari-hari berikutnya, Semesta selalu muncul di kantin, duduk bersama Tara dan yang lain. Sesekali ia terlihat tidak senang saat Tara tidak ada di sana. Yap, Tara dan Nusa berada di taman terbengkalai, menyantap bekal yang mereka bawa dari rumah. Mereka kadang membawanya ke kantin agar dapat makan bersama Zhafira dan teman-teman yang lain. Terkadang juga, mereka sengaja tidak membawa bekal, ganti menu katanya, biar gak bosan.


"Sa, kamu marah sama aku?" tanya Tara sedikit takut pada Nusa.


"Kenapa aku harus marah? Memangnya kamu ada salah samaku?"


"Soal cowok iblis, ehh....maksudku Semesta. Kamu gak marah karena aku lebih memilih buku koleksi daun-daun kering milik Papanya dibandingkan menyingkirkan dia dari kita?"


"Mau marah gimana? Semua sudah terjadi."


"Aku egois ya Sa, padahal aku sudah tau kalau kamu cemburu dan gak suka sama dia tapi aku malah memilih dia hanya karena dia memiliki buku kumpulan daun-daun kering. Aku sudah memikirkan ini berulang kali, sepertinya keputusanku memang salah. Zhafira beberapa hari ini mogok bicara denganku, terus Evan juga terlihat beda dari biasanya. Kalau kamu gimana Sa? Aku masih belum bisa membaca ekspresi wajahmu."


"Sama seperti Zhafira, aku juga kecewa sama kamu Ra. Namun setelah aku pikir-pikir, aku tidak berhak membatasi hobimu. Tidak seperti dia, aku tidak akan pernah bisa memberi apa yang telah dia beri sekarang. Aku tidak bisa membawamu mengambil daun kering dari pohon maple di negara asalnya. Selain itu, aku tau kalau kamu sangat suka dengan bunga sakura, kamu juga terlihat sumringah saat melihat bunga sakura kering yang dibawa Semesta tempo hari. Aku tidak bisa memberimu semua itu, tidak bisa membawamu langsung ke Jepang untuk memetik bunga sakura atau mengambil sakura yang berguguran di padang rerumputan. Aku gak masalah kalau kamu mau dia berteman sama kita. Asal kamu senang, kenapa enggak? Perasaanku gak usah kamu pikirkan, yang terpenting kamu merasa bahagia itu sudah cukup buatku. Aku juga merasa senang."


"Enggak, enggak, aku sudah memutuskan untuk membuat Semesta menjadi orang asing lagi. Aku tidak ingin teman-temanku hilang hanya karena keegoisanku sendiri."


"Terserah kamu Ra, lakukan apa yang menurutmu baik," balas Nusa dengan senyum tipis yang tergambar di bibirnya.


Keesokan harinya, saat Semesta berkunjung ke kantin. Ia langsung menghampiri meja Tara dengan membawa semangkuk bakso. Tara menggigit bibir bawahnya, ia ingin bicara tapi keraguan masih menyelimutinya.


"Hmm.... Semesta," seru Tara yang membuat si pemilik nama mengangkat kepalanya.


"Ya...kenapa?"


"Aku mau bilang kalau kamu.....gak usah.....kesini lagi besok dan.... seterusnya," ucap Tara pelan.


"Maksudnya gimana? Gue gak ngerti sama perkataan lo."


"Gimana ya, aku mau kau pergi dari sini. Seperti perjanjian beberapa hari yang lalu, aku tidak akan meminjam buku-buku milik Papamu lagi yang berarti kamu harus pergi dan tidak akan menemui kita lagi. Anggap saja kita sebagai orang asing karena aku gak mau kehilangan teman-temanku hanya karena keegoisanku sendiri," jelas Tara sedikit ragu.


"Perjanjian kemarin telah berlalu dan sekarang sudah tidak berlaku lagi," jawab Semesta dengan sorot mata tajam.


"Aku tahu tapi..... kehadiranmu di sini membuat kita merasa tidak nyaman. Kamu mungkin melihat kita baik-baik saja tapi Zha dan Evan bersikap dingin terhadapku. Aku gak mau kehilangan mereka hanya karena kamu, seseorang yang baru datang ke kehidupanku terlebih lagi pertemuan kita bisa dibilang tidak baik. Kamu dapat menyapaku atau yang lain tapi hanya sebatas itu. Aku harap kamu mengerti. Selain itu, temanmu banyak kan? Kenapa kamu harus berteman dengan kita?" tanya Tara di akhir ucapannya.


"Hah...jadi gitu. Sejujurnya gue gak peduli kalau teman-teman lo gak suka sama gue karena yang gue prioritaskan itu lo. Gue mau dekat sama lo. Sorry kalau pertemuan kita gak baik dan gue selalu membuat lo kesal tapi semua itu adalah ungkapan sayang gue ke lo. Meskipun lo mendorong gue menjauh, gue akan terus mendekat sampai lo jadi milik gue!" tegas Semesta yang membuat Tara membelalakkan mata.


"M.... maksudnya apa? Kamu suka samaku?" Tara sedikit gemetar mengucapkan hal itu karena ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa Semesta memiliki perasaan lebih padanya.


"Hah....jangan bercanda, aku gak punya perasaan lebih samamu. Aku sudah punya seseorang yang aku suka."


"Terus kenapa? Gue akan berusaha agar lo bisa suka sama gue."


"Kepedean kali kau jadi orang. Tara gak suka samamu dan kau malah maksa? Cinta itu gak bisa dipaksakan bro. Gak gentle banget jadi cowok, Tara udah punya pacar kali," sahut Zhafira kesal mendengar ocehan tidak masuk akal Semesta.


"Masih pacaran kan? Suatu saat bisa putus. Gue gak akan nyerah untuk mendapatkan lo Ra. Lo harus ingat itu." Semesta menunjuk Tara dengan tatapan penuh keyakinan.


"Kau gak akan pernah bisa mendapatkan hati Tara. Sebaiknya kau menyerah saja karena semua usaha kau akan berakhir sia-sia," sambung Evan yang akhinya angkat suara.


"Iya, Tara sudah memiliki seseorang yang dia suka. Jangan pernah memaksa seseorang untuk menyukaimu karena akhinya akan menyakitkan bagi Tara. Tidak, bukan hanya Tara tapi yang sakit adalah kalian berdua. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita karena apa yang kita harapkan belum tentu semuanya kita dapatkan. Ada kalanya kita menginginkan sebuah berlian tapi yang didapat malah bebatuan. Hidup seperti itu adanya dan kita harus belajar ikhlas dan merelakan apa yang kita inginkan tidak dapat kita genggam atau malah orang lain yang mendapatkannya," jelas Lintang ikut ambil suara.


"Hah.... kata-kata penyemangat. Satu yang gue tahu, gue selalu mendapatkan apa yang gue mau. Jadi, kata kalah gak ada dalam kamus gue," cetus Semesta mengabaikan pesan dari Lintang, menganggap semua pernyataannya hanya omong kosong belaka, seperti kaset rusak yang terus berputar dan memekakkan telinga.


"Sekeras apapun kau mencoba, aku gak akan pernah suka samamu!" tegas Tara bangkit dari tempat duduknya.


Suasana memanas, Semesta diserang dari berbagai sisi. Di lihat dari sudut manapun, Semesta telah kalah tapi dia membantah kekalahannya karena ia benar-benar bertekad membuat Tara suka padanya atau lebih dalam lagi, ia berniat membuat Tara jatuh cinta padanya.


Tara, Zhafira, Evan dan Lintang telah menyampaikan argumen mereka yang mana semuanya menyampaikan bahwa Tara tidak akan pernah suka dengannya. Hanya satu orang yang diam membisu, seseorang yang paling berhak marah atas semua pernyataan Semesta yang tidak masuk akal. Tara menunggu dia angkat suara tapi sampai detik ini ia masih mematung pada tempat duduknya. Hati Tara yang kokoh perlahan memiliki celah, celah keraguan memenuhi relung hatinya.


"Sa, kenapa kamu diam saja? Orang yang ada dihadapanmu ingin menarikku menjauh darimu. Kenapa kamu masih mematung di sana? Aku ingin kamu bilang padanya bahwa kamu satu-satunya orang yang aku sayang. Bukan hanya untuk saat ini, tapi selamanya. Aku ingin menyayangimu selamanya," batin Tara melihat Nusa yang masih tidak berkutik.


Tes!


Tanpa disadari, buliran bening meluncur turun membasahi pipi Tara. Ia menyerah, Nusa benar-benar tidak membalas semua pernyataan Semesta, itu membuat hati Tara sakit. Apakah selama ini yang menyukaimu hanya aku saja? Pikiran itu sempat terlintas tapi Tara segera menepisnya. Ia percaya bahwa Nusa juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Omong kosong!" Satu kalimat yang membuat semua orang menoleh pada sumber suara, Nusa.


"Lakukan apapun yang kau mau tapi jangan pernah berharap Tara akan menyukaimu. Seseorang sepertimu tidak pantas disukai oleh Tara ataupun orang lain. Seorang pemaksa pantas berada di tempat sampah. Terserah kau mau melakukan apapun tapi aku tidak akan pernah membiarkan seseorang yang berharga dalam hidupku pergi begitu saja. Ku tegaskan sekali lagi, kali ini kau akan merasakan pahitnya kekalahan," cetus Nusa dengan tatapan tajam dan menusuk.


Semesta diam untuk beberapa saat, seakan terhipnotis dengan menik mata kelam itu, tatapannya cukup mengerikan. Itu tatapan apa? Tatapan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Semesta mengerjap beberapa kali setelah menyadari Nusa pergi dan membawa Tara ikut bersamanya.


~Bersambung~