
Bang!
Nusa mendobrak pintu dengan kasar, ia benar-benar khawatir dengan keadaaan Tara. Saat pintu terbuka, ia sangat terkejut saat melihat Tara tengah tergeletak di lantai, ia pingsan. Nusa berhambur menghampiri Tara yang disusul Zhafira dan Lintang. Nusa mengepalkan tangannya, emosinya memuncak, wajahnya merah padam.
"Kak, tolong bawa Tara ke UKS," seru Nusa bangkit dari posisi jongkoknya.
"Jangan gegabah, kau mau menghampiri Semesta kan? Lebih baik kita bawa Tara ke UKS saja, urusan Semesta bisa diurus nanti," cegah Lintang menghentikan niat Nusa.
"Tapi kak, dia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya."
"Aku tahu, tapi Tara lebih penting dari apapun. Kita bawa dia sekarang," jelas Lintang menggendong Tara yang diikuti Nusa dan Zhafira.
Nusa, Lintang dan Zhafira menunggu di depan ruang UKS. Mereka tidak henti-hentinya memanjatkan doa agar Tara baik-baik saja. Nusa terlihat tidak tenang, ada sesuatu yang mengganjal hatinya, ia ingin sekali menghajar Semesta detik ini juga.
Ceklek!
"Bu, gimana keadaan Tara?" tanya Nusa menghampiri Bu Ika.
"Baik-baik saja, sekarang dia sudah sadar dan sebaiknya dia istirahat di sini sampai keadaannya lebih baik karena Tara masih terlihat ketakutan," jelas Bu Ika singkat.
"Boleh kita jenguk Tara Bu?" tanya Zhafira angkat suara.
"Boleh, tapi yang tertib dan jangan membebani pikirannya."
Nusa, Lintang dan Zhafira memasuki ruang UKS. Tara masih terbaring di ranjang UKS. Tampilannya berantakan, rambutnya acak-acakan, seragamnya kotor dan dipenuhi keringat. Zhafira berhambur menghampiri Tara, ia duduk di tepi ranjang.
"Ra, kamu gak papa?" tanya Zhafira khawatir.
"Aku gak papa kok Zha," jawab Tara lemah.
"Ra, kenapa hal ini sampai terjadi? Apa karena Semesta?" Zhafira menebak-nebak.
"Bukan salahnya sepenuhnya, tapi ada sangkut pautnya dengan dia."
"Maksudnya? Aku gak ngerti. Bisa kamu ceritakan? Biar menjadi bukti agar Semesta mendapat hukuman atas tindakan yang dilakukannya.
"Iya," anguk Tara setuju.
"Tunggu, aku ambil hp dulu." Zhafira mulai merekam pernyataan Tara.
Tara mengatakan semua yang terjadi di gudang, dimulai dari Semesta yang memaksanya untuk menyukainya sampai ia dikunci di ruang penyimpanan. Zhafira geram mendengar pernyataan Tara, ingin sekali dia memukul Semesta. Nusa yang mendengar penjelasan Tara langsung berbalik namun langkahnya terhenti saat Tara bersuara padanya.
"Sa, jangan pergi," ucap Tara lirih.
Nusa tidak tega melihat wajah Tara yang sedih begitu, akhirnya ia menghampiri Tara, berdiri di samping ranjang. Zhafira dan Lintang saling tatap.
"Ra, Sa, kita balik ke kelas ya. Waktu belajar sudah dimulai beberapa saat yang lalu," terang Lintang membuka suara.
"Iya kak," jawab Tara dan Nusa kompak.
"Oh iya Zha, izinkan aku ya," seru Tara lagi.
"Tenang Ra. Kalau kamu gimana Sa? Mau balik atau menemani Tara di sini?" tanya Zhafira pada Nusa.
"Di sini," singkat Nusa menjawab.
"Oke." jawab Zhafira lalu pergi bersama Lintang.
Nusa menoleh pada Tara, si empunya melirik ke arah lain. Nusa menghela napas sebelum bersuara.
"Benar ini ulah Semesta?"
"I....iya, tapi dia gak sepenuhnya salah kok," jawab Tara takut-takut.
"Gak salah gimana? Dia sudah membahayakan kamu Ra!"
"Terus kenapa kamu bisa pingsan? Alasan lain yang kamu maksud itu apa? Cerita ke aku Ra, agar aku bisa memutuskan untuk bertindak seperti apa," pinta Nusa.
"Jadi...a..aku itu punya phobia terhadap ruang gelap dan sempit. Itu mengapa aku pingsan, awalnya aku gak kenapa-kenapa tapi lama-kelamaan aku jadi sesak napas dan pingsan pada akhirnya," jelas Tara singkat.
"Kamu tahu kamu punya phobia tapi kenapa kamu ikut Semesta ke ruang penyimpanan?" Nusa berseru dengan nada sedikit tinggi.
"Kalau pintunya dibuka tidak terlalu gelap terus Semesta bilang ada yang mau diambil di ruang penyimpanan makanya aku temani dia."
"Kenapa kamu ikut dia sih Ra? Kamu tahu kan kalau dia punya niat tidak baik padamu?"
"M...maaf Sa, aku gak kepikiran kaya gitu," ucap Tara merasa bersalah.
"Ya sudah, kamu sebaiknya istirahat. Aku kembali ke kelas." Nusa bangkit dari tempat duduknya dan membantu Tara untuk berbaring.
"Sa, kamu gak ada niatan untuk membalas dendam dengan Semesta kan?"
"Enggak, aku balik ke kelas kok," jawab Nusa dengan senyum tipis.
Nusa berjalan kembali ke kelas, ia tidak akan membalas Semesta untuk saat ini karena dia tahu bahwa sekarang waktunya belajar. Akan merepotkan jika ia berkelahi saat ada guru yang mengajar. Tapi Nusa berencana membalas Semesta saat jam istirahat nanti. Tunggu saja, batin Nusa mengepalkan tangannya.
Teng! Teng!
Nusa beranjak dari tempat duduknya, berniat menghampiri Semesta tapi dia lupa bahwa ia tidak tahu Semesta kelas berapa dan jurusan apa. Zhafira menghampiri Nusa di mejanya, mengajaknya menjenguk Tara. Dia juga mengajak Milka, Sisy dan Evan. Mereka beramai-ramai berjalan menuju UKS, terlihat seperti kumpulan anak nakal yang ingin berdemo.
Ra, gimana keadaanmu, sudah lebih baik?" Milka dan Sisy kompak bertanya setelah memasuki ruang UKS.
"Aku udah baikan kok. Makasih ya karena kalian sudah datang menjenguk." Tara bangkit dari posisi tidurannya, duduk agar lebih nyaman mengobrol.
"Alhamdulillah. Aku minta maaf ya Ra karena aku gak bilang sama Nusa atau Zha sewaktu kamu pergi bareng Semesta padahal aku sudah punya firasat yang tidak enak," cetus Milka merasa bersalah.
"Gak papa kok Mil, bukan salahmu."
Nusa memilih keluar dari ruang UKS, meninggalkan Tara yang ditemani banyak orang. Mereka adalah teman-teman yang sayang dan peduli padanya. Nusa kembali merasa darahnya mendidih tapi sebisa mungkin ia bersikap tenang karena jika tidak ia akan berakhir di ruang UGD perihal jantungnya yang berhenti berdetak.
"Ehh...ngapain lo di sini?" seru Semesta mendapati Nusa duduk di bangku panjang keramik yang menempel di dinding ruang UKS.
Nusa bangkit saat mendapati seseorang yang dicari-carinya datang sendiri tanpa perlu bersusah payah mencarinya.
"Tara mana?" tanya Semesta lagi yang membuat Nusa disulut api amarah.
Bug!
Nusa meninju perut Semesta dengan keras, membuat si empunya meringis dan membungkuk memegangi perutnya.
"Apa-apaah sih lo? Gila kali ya!" cetus Semesta kesal.
"Kau pantas mendapatkannya dan itu hanyalah permulaan," jawab Nusa dengan mata tajamnya.
"Maksud lo apa? Lo mau berantem sama gue?" Semesta bangkit meski sesekali memegangi perutnya yang nyeri.
Nusa tidak membalas ucapan Semesta, ia malah melayangkan tinju bertubi-tubi padanya. Semesta yang tidak memiliki persiapan pasrah saja dipukuli sampai akhirnya ia membalas.
"Apa sih, gue salah apa sama lo?" cetus Semesta menendang Nusa agar menjauh darinya.
"Itu balasan karena kau telah melukai Tara," cetus Nusa menyeka darah di bibirnya.
"Tara? Kenapa dengan Tara? Kapan gue melukai dia?"
"Kau gak sadar diri, sejak awal kau sudah menyakiti dia. Kau memaksa dia untuk suka samamu, itu telah menyakiti Tara. Itu yang namanya suka? Cinta? Bukan! Seharusnya kau terima saat Tara bersama seseorang yang dia sayang. Dan lagi, bagaimana bisa kau memaksakan kehendak dan mengunci Tara di gudang? Kau tahu, dia punya phobia terhadap ruang gelap dan sempit. Alhasil, dia sesak napas dan pingsan. Perbuatan kau itu sudah termasuk tindakan kriminal, membahayakan nyawa," jelas Nusa sebelum memukul Semesta untuk yang kesekian kalinya. Semesta hanya terdiam saat mendapat pukulan dari Nusa, ia tidak menyangka bahwa perbuatannya akan membahayakan nyawa Tara, seseorang yang di sayanginya.
~Bersambung~