
Sesuai dengan yang dikatakan oleh pak Rendy tadi siang, agenda kegiatan malam ini adalah mini games. Setelah makan malam bersama, semua siswa baik panitia beserta para guru duduk melingkari api unggun.
"Assalamualaikum, selamat malam semua. Sebelum kita bermain, saya akan membentuk beberapa kelompok untuk kegiatan besok. Panitia tolong tuliskan nomor dari 1 sampai 10 dalam sebuah kertas agar semua siswa dapat mengambilnya. Mengapa saya buat demikian? Agar semua siswa di sini lebih mengenal satu sama lain karena tujuan karya wisata kita adalah belajar sambil bermain dimana semua siswa diharapkan untuk saling bercengkrama dengan teman-teman kelas lain guna meningkatkan rasa persaudaraan kita. Baiklah, silahkan berbaris dengan rapi dan teratur," jelas pak Rendy mempersilahkan semua siswa untuk mengambil nomor kelompok mereka pada kakak-kakak panitia.
"Baiklah, sepertinya semua telah mendapatkan kelompok masing-masing. Silahkan berkumpul dengan anggota kelompoknya," ucap pak Rendy lagi yang membuat semua siswa berhamburan mencari teman anggota kelompok mereka.
Semua siswa kelas XI telah mendapatkan kelompok masing-masing dan berkumpul dengan anggota kelompoknya. Mereka tengah menunggu instruksi dari Pak Rendy selaku guru pembimbing dalam acara kegiatan karya wisata ini.
"Assalamualaikum wr.wb. Saya akan menjadi moderator dalam acara games mini kali ini. Setiap kelompok diharapkan untuk berpartisipasi pada semua jenis games yang akan dilombakan. Untuk mempersingkat waktu, saya akan menjelaskan apa-apa saja yang dilombakan pada games kali ini. Pertama, lomba bakiak, kedua lomba balap sarung, terus ada tarik tambang, aksi pertujukan bakat juga ada, kalian boleh bernyanyi, menari, stand up comedy atau apapun itu terserah kalian. Setiap kelompok mengirimkan perwakilannya masing-masing dalam lomba tersebut. Setiap kelompok mendapatkan poin sesuai hasil yang didapat setelah mini games ini selesai yang mana akan diakumulasikan dengan poin-poin di kegiatan selanjutnya. Jadi, setiap kegiatan akan mendapat poin dan bagi kelompok yang memperoleh poin tertinggi akan mendapatkan hadiah istimewa dari kepala sekolah. Saya harap, semua siswa/i bersungguh-sungguh dalam kegiatan karya wisata ini dan jangan lupa bersenang-senang!" jelas bu Citra semangat yang membuat semua siswa/i bersorak gembira saat mengetahui bahwa mereka akan mendapat hadiah jika berhasil mengumpulkan poin sebanyak mungkin.
"Yahh....kita gak satu kelompok Ra," ucap Zhafira dengan raut wajah sedih mengingat dirinya tidak satu kelompok dengan Tara.
"Iya Zha, padahal aku pengen sekelompok samamu, sama Nusa juga tapi aku malah sekelompok sama Evan," balas Tara berbisik takut kalau Evan sampai mendengarnya.
"Bukannya itu kesempatan bagus ya Ra, kamu pengen tau kan kenapa dia bertindak demikian kemarin? Ini waktu yang tepat untuk kamu berbicara baik-baik sama dia."
"Hah...iya sih, yaudah nanti aku coba bicara deh sama dia. Oh iya, Nusa kemana kok gak ada?"
"Gak tau aku, terakhir sih dia kelihatan bareng sama kak Lintang."
"Yaudah kalau gitu aku balik ya Zha."
"Ra, nanti ngalah dikit lah biar aku yang menang dalam lomba bakiak," seru Zhafira pada Tara yang kini berada beberapa meter di depannya.
"Enggak ah, aku juga pengen menang tau!" balas Tara berlalu meninggalkan Zhafira dan kembali pada kelompoknya yaitu kelompok 4 yang diketuai oleh Evan.
Semua peserta perwakilan setiap kelompok sudah bersiap di posisinya, bersiap pada bakiak masing-masing. Dalam hitungan tiga, semua peserta berlomba-lomba menjadi yang pertama mencapai garis finis namun bakiak memerlukan kekompakan masing-masing orang agar dapat melaju seperti yang diharapkan.
Kelompok 1 memimpin lebih dulu, tetapi ditengah-tengah perjalanan mereka tersungkur ke tanah karena salah satu diantara mereka terlambat menggerakkan kakinya. Kelompok 4, berjalan dengan perlahan namun pasti. Di sana ada Tara, Evan dan salah seorang siswi dari kelas bahasa, mereka tampak begitu kompak dan harmonis.
Sedangkan Zhafira tengah berjuang mati-matian bersama dua orang teman lainnya untuk menggerakkan bakiak tersebut karena bakiak kelompok mereka tidak bergerak sama sekali mungkin karena gerakan mereka tidak seirama padahal kelompok lain dapat berjalan dengan sangat mudah bahkan ada yang hampir mencapai garis finis.
"Arghhhh....kenapa gak bergerak sih. Kenapa yang lainnya gampang tapi kita kok enggak. Apa jangan-jangan bakiaknya udah di lem lagi makanya gak bergerak," ucap Zhafira kesal.
"Hushh...jangan suudzon dulu Zha, kitanya aja yang gak kompak. Coba sekali lagi kita gerak sama-sama, dimulai dari kaki kanan dulu," ucap Talita lembut.
Perlahan, bakiak kelompok 6 bergerak tampaknya mereka telah berhasil menyatukan irama mereka. Di sebelah kanan, terdapat kelompok 8 yang dengan seenaknya berlari sambil membawa bakiak dan menuju garis finis, sepertinya mereka telah berputus asa karena hanya bisa menggerakkan bakiak satu-dua langkah bahkan mereka telah tersungkur beberapa kali.
Akhirnya, kelompok 4 menjadi juara yang otomatis merekalah yang jadi pemimpin klasemen sedangkan kelompok 6 ada di posisi 7 yang mana membuat Zhafira bertekad untuk membalas kekalahannya pada acara pencarian bakat solo, dimana dia akan memainkan harmonika.
"Fufu...untung aku bawa ni harmonika, ternyata ada gunanya juga. Kalian semua, tunggu saja pembalasan dariku," gumam Zhafira mengepalkan tangannya dengan semangat.
"Yang menjadi juara pertama dalam lomba bakiak adalah kelompok 4, disusul kelompok 2 yang menjadi runner up dan kelompok 1 berada di posisi ketiga. Dengan ini, kelompok 4 memimpin klasemen, poin yang mereka dapat akan dirahasiakan selama kegiatan karya wisata berlangsung dan akan diumumkan saat akhir acara. Untuk yang lain jangan berkecil hati karena masih banyak games-games lainnya. Semangat anak-anak kesayangan Ibu," ucap Bu Citra mengepalkan tinjunya ke udara yang membuat semua orang yang berada di sana ikut merasakan semangat yang tersalur dari Bu Citra.
"Sa, kamu gak mau ikut lomba apa gitu?" tanya Zhafira duduk di samping Nusa sembari menunggu gilirannya untuk dipanggil dalam acara pencarian bakat solo.
"Enggak, aku jadi penonton saja," jawab Nusa singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada perwakilan kelompok 1 yang tengah menghayati puisinya.
"Kita di sini bareng-bareng, jadi kamu harus bersenang-senang. Gak peduli kalah atau menang, yang penting kita bersenang-senang seperti yang dikatakan Bu Citra dan Pak Rendy tadi. Kamu juga jangan menyendiri aja Sa, kamu harus mencari teman selain aku, Tara dan kak Lintang," ucap Zhafira yang tumben berkata bijak biasanya ia hanya mengoceh hal-hal yang tidak penting.
"Bukannya gak mau Zha, aku masih agak trauma untuk berhadapan dengan banyak orang. Aku merasa baik-baik saja jika berada di dekat kamu, Tara, dan Kak Lintang karena kalian orang baik. Namun tidak menutup kemungkinan kalau kalian akan menjauhi jika mengetahui aku yang sebenarnya," jelas Nusa dengan tatapan sendu.
"Memangnya kamu kenapa? Meskipun ini bukanlah kamu yang asli, aku yakin kalau kita tetap akan berteman sama kamu terutama Tara. Kamu tau sendiri kan seberapa sayangnya dia ke kamu bahkan saat pertama kali kamu datang kesini, dia selalu memperhatikanmu. Kamu layaknya magnet yang menarik Tara untuk mendekat dan aku beserta Kak Lintang adalah orang-orang yang tersesat dalam arus dimana kamu menarik Tara untuk mendekat. Untuk langkah awal, kamu bisa berteman dengan Aldo. Dia cocok untuk menjadi teman kamu karena dia orangnya berisik berbanding terbalik sama kamu. Aku harap kamu mendapatkan teman di sini, dimulai dengan Aldo karena dia adalah orang yang dekat sama kamu saat ini, dia teman sekelompok kita dan dia juga satu tenda sama kamu, Kak Lintang dan kak Zeno kan?" jelas Zhafira panjang lebar yang membuat Nusa membelalakkan mata mendengar semua ucapan bijak dari Zhafira.
"Tapi Zha...."
"Gak ada tapi-tapian! Ini juga harapan Tara tau, dia pengen kamu punya teman selain kita. Dan Aldo adalah orang yang cocok untuk saat ini. Iya kan Do?" tanya Zhafira mengalihkan pandangannya pada Aldo.
"Hah....apa?" balas Aldo heran karena ia sama sekali tidak tau apa yang dibicarakan oleh Zhafira dan Nusa bahkan ia sendiri tidak tau bahwa sedari tadi namanya disebut-sebut karena terlalu fokus melihat aksi silat dari Deo.
"Iya bilang Do!" tegas Zhafira dengan tatapan tajam.
"Ehh....iya," jawab Aldo singkat.
"Tuh kan Aldonya setuju. Eh habis ini giliran aku, doain supaya aku menang," seru Zhafira menepuk pundak Nusa.
"Oke, aku akan coba," jawab Nusa yang membuat Zhafira melangkah dengan senyuman karena ia berhasil membujuk Nusa untuk berteman dengan Aldo.
"Tampaknya aku bakal dapat bonus traktiran nih," batin Zhafira girang.
~Bersambung~