Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Egois



"Ra...bangun!"


"Ra!"


"Tara!"


"Tara!"


Tara mengerjap beberapa kali, ia menatap orang-orang yang tengah berkerumun di sekelilingnya. Tara mencoba bangkit dari posisi tidurannya.


"Aku dimana?" satu kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Kamu ya di hutan," balas Evan singkat.


"Tara, kamu sudah tidak apa-apa?" tanya bu Citra menghampiri.


"Masih agak sedikit pusing sih Bu," jawab Tara jujur.


"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat saja di tenda."


"Gimana dengan kegiatan kita saat ini Bu?"


"Tidak apa, serahkan semua sama ibu dan teman-temanmu."


"Benar kata Bu Citra tuh Ra. Lagian, kamu kok tiba-tiba pingsan di jurang sih, kamu ngapain?" cetus Evan khawatir.


"Hehehehe...aku tadi ketemu sama bunga langka Van, makanya aku pengen ambil terus susah karena jauh. Setelah itu, aku berniat untuk kembali ke titik perkumpulan kita tapi aku tergelincir tanah lembap terus tanah tempat aku berpijak untuk meraih bunga tadi sudah retak dan hampir longsor, yaudah deh aku tergelincir dan jatuh," jelas Tara singkat.


"Hah...kenapa sih kamu gak membiarkan bunga itu saja tanpa mencoba meraihnya?"


"Ya gimana Van, habis bunganya cantik banget aku jadi pengen ambil. Tapi Alhamdulillah sih, aku kan gak papa sekarang."


"Iya memang gak papa, tapi kamu buat kita semua khawatir tau gak, mana susah lagi menjangkau kamu yang ada di jurang itu dan dalam keadaan pingsan. Kamu ingat ya Ra, kita semua turun tangan loh demi menyelamatkan kamu," tegas Evan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


"Maaf ya kalau aku buat kalian khawatir dan menyusahkan kalian. Aku janji gak akan mengulanginya lagi," ucap Tara merasa bersalah.


"Gak papa Ra, yang penting kamu gak kenapa-kenapa. Istirahat gih, biar kita yang menyelesaikan penelitian tanaman kelompok 4," ucap Serina lembut.


Tara dibiarkan beristirahat di tenda sedangkan anggota kelompok 4 lainnya kembali melanjutkan penelitian dan mereka harus melakukannya dengan cepat karena batas waktu yang telah ditentukan hampir habis. Evan menjadi orang terakhir yang menemani Tara, saat berbalik ia mendengar derap kaki mendekat, tampaknya seseorang tengah berlari menuju ke arahnya.


Bug!


Tanpa aba-aba, sebuah tinju melayang menghantam pelipis kiri Evan. Evan yang tidak memiliki persiapan sama sekali jatuh menghantam tanah, ia meringis sebelum mencari tahu siapa yang melayangkan tinju padanya.


"Apa maksudnya ini?"


"Kau kan ketua kelompok empat? Kenapa Tara bisa terluka hah?" cetus Nusa dengan emosi yang memuncak.


"Dia terluka karena ulahnya sendiri!"


"Omong kosong, kau seharusnya menjaga semua anggota kelompokmu. Kenapa hanya Tara yang terluka?"


"Aku sebagai ketua kelompok sudah semaksimal mungkin menjaga semua anggota kelompokku. Kenapa hanya Tara? Karena hanya dia yang menghilang entah kemana tanpa pamit sama sekali dengan kita. Risiko yang didapat Tara sekarang adalah konsekuensi atas apa yang telah dilakukannya."


"Kau seharusnya menjaga dia!"


"Dari sekian banyak anggota kelompok, aku harus menjaga mereka satu-persatu? Mustahil!" tegas Evan yang membuat emosi Nusa siap meledak dan sekarang tangan Nusa tengah terkepal kuat, bersiap melayangkan tinjunya sekali lagi pada Evan.


Tara yang mendengar suara ribut-ribut dari dalam tenda merasa terganggu dan penasaran apa yang telah terjadi sampai ribut-ribut begini. Tara keluar dari dalam tenda dan ia terkejut bahwa yang ribut-ribut tadi adalah Evan dan Nusa, bahkan Zhafira juga ada di sana.


"Ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut?" tanya Tara menghampiri mereka bertiga.


"Tanya aja sama cowok kamu itu!" cetus Evan kesal pergi meninggalkan Tara yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


Tara, Zhafira dan Nusa tengah duduk melingkar beralaskan rerumputan. Tara menatap Zhafira dan Nusa secara bergantian untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi namun sepertinya mereka berdua enggan untuk mengatakannya.


"Aheemm.... Sa, ada masalah apa sebenarnya?" tanya Tara yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Nusa.


"Sa, aku mohon jawab aku. Ada masalah apa kamu sama Evan?"


"Gak ada apa-apa," jawab Nusa singkat.


"Ohh..jadi kamu gak mau cerita, yaudah biar Zha aja yang cerita," ucap Tara mengalihkan pandangannya pada Zhafira.


"Kamu kenapa bisa luka-luka kaya gitu?" tanya Nusa dengan tatapan dingin.


"Ohh...itu aku jatuh ke ju...rang?" jawab Tara ragu dengan nada rendah.


"Kenapa bisa? Apakah Evan tidak menjaga kamu?"


"Bukan, ini gak ada hubungannya sama Evan. Aku jatuh karena ulahku sendiri karena aku menemukan bunga langka Sa, jadi aku pengen ambil itu bunga tapi aku berakhir di dalam jurang itu dan katanya aku juga pingsan di sana terus yang menyelamatkan aku juga Evan sama teman-teman yang lain."


"Hah...sepertinya aku sudah salah sangka sama Evan," seru Nusa menghela napas panjang.


"Emang kamu berbuat apa sama dia?" balas Tara bingung.


"Jadi gini Ra, kita dengar kabar bahwa kamu jatuh ke jurang, otomatis kita khawatir kan? Terus Nusa mau cari kamu ke jurang itu tapi gak dibolehin sama Bu Citra, katanya ini biar menjadi urusan bagi kelompok kalian, dan yang bertanggung jawab adalah Bu Citra dan Evan yang bertindak sebagai guru pembimbing dan ketua kelompok. Jadi, Nusa berpikiran kalau Evan itu gak becus menjadi ketua, dia gak bisa menjaga anggotanya dan tadi Nusa meninju wajah Evan dan pelipisnya jadi luka dan agak sedikit lebam. Jadi ribut-ribut antara Evan dan Nusa gara-gara itu," jelas Zhafira yang akhirnya membuka suara.


"Benar Sa?" tanya Tara pada Nusa yang masih tertunduk menatap rerumputan.


"Iya," singkat Nusa tanpa menatap wajah Tara.


"Tampaknya kalian butuh waktu berdua untuk bicara. Aku balik ya, kalau enggak bisa-bisa kena omel dan aku akan izinkan kamu sama pak Andre Sa, jadi ngobrol bareng Taranya santai aja," ucap Zhafira berlalu meninggalkan Tara dan Nusa berdua saja.


"Kamu kenapa bertindak demikian Sa? Aku tau kamu bukanlah orang yang emosian, tapi kenapa?"


"Kamu tanya kenapa? Aku khawatir mengingat kamu dan Evan berteman baik. Aku percaya bahwa Evan bisa menjaga kamu tapi disaat aku mulai memercayai dia seperti kamu memercayainnya, hal ini terjadi."


"Tapi kamu tau kan kalau Evan gak bisa sepenuhnya menjaga aku karena kita ada banyak dan tak pernah terpikir olehku bahwa kamu bisa bertindak gegabah kaya tadi. Yang aku tau, kamu adalah orang yang penuh perhitungan."


"Gegabah? Kamu bisa bicara seperti itu sekarang? Kamu tau gimana perasaan aku saat tau kamu jatuh ke jurang? Seketika jantungku berhenti berdentak tanpa diminta, dan yang lebih parahnya lagi aku tidak di izinkan melihat keadaan kamu karena katanya aku hanyalah orang luar, biar menjadi tanggung jawab kelompok kalian saja. Kamu tau bagaimana perasaanku? Aku sendiri pun tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata."


Mendengar ucapan Nusa, Tara hanya diam tanpa kata. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena Tara benar-benar tidak mengetahui apa yang dialami oleh Nusa. Sejatinya, Tara benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nusa saat itu.


"Aku tau apa yang ada di dalam pikiran kamu saat melakukan hal itu. Kamu tidak peduli apa dan bagaimana konsekuensi yang akan kamu terima jika tidak berhasil mendapat bunga langka yang kamu sebut itu. Kamu tahu di sana ada jurang yang curam dimana dipenuhi pohon-pohon rapat tapi kamu tidak peduli, kamu lebih memilih mengikuti egomu sendiri. Aku tau kamu suka apapun yang berbau dengan alam, tapi kamu tidak perlu melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri sendiri. Kenapa kamu bertindak demikian Ra?"


Tara menggigit bawah bibirnya, ia tidak dapat berkata sekarang karena semua perkataan Nusa barusan adalah benar adanya dan Tara tidak bisa menyangkal hal itu.


"Aku......"


"Kamu seperti mempermainkan nyawa, bertindak seolah-olah kamu punya banyak nyawa. Syukurnya kamu hanya mendapat luka-luka ringan dan beberapa memar, kalau saat itu nyawamu melayang, apa yang akan kamu lakukan? Menyesal? Kamu egois Ra, kamu tidak perduli dengan orang-orang yang menyayangi kamu. Bagaimana perasaan keluarga kamu, perasaan teman-teman yang sayang sama kamu, perasaan aku, kamu tidak peduli akan semua itu. Kamu mempermainkan hidupmu disaat orang lain ingin mendapatkan kehidupan," jelas Nusa sebelum pergi meninggalkan Tara dalam keheningan.


~Bersambung~