
"Evan lepas!" teriak seseorang dari kejauhan. Nusa hapal betul dengan suara itu, suara milik Tara. Nusa berhambur berlari menyusuri lorong, tepat di depan kelas terlihat Tara yang merintih kesakitan saat seorang cowok pirang memegangi tangannya.
"Maaf, anda tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Tara barusan? Lepas sekarang!" tegas Nusa dengan penuh penekanan di setiap ucapannya.
"Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan orang lain," balas cowok berambut pirang itu dengan kesal.
"Ayo Ra, kamu ikut aku pulang," paksa Evan menarik tangan Tara kasar.
"Aku gak mau! Kamu pulang sendiri aja sana!"
Nusa yang melihat pemandangan yang ada di depannya merasa jengah karena pasalnya cowok pirang yang bernama Evan itu benar-benar cukup merepotkan dan mengganggu. Dengan sigap, Nusa menepis tangan Evan dengan kasar, menarik Tara berlindung di belakang badannya.
"Anda bisa pergi sekarang. Ingat, jangan pernah ganggu Tara lagi, karena anda tak pantas disebut teman sama sekali," terang Nusa berlalu meninggalkan Evan dengan emosi yang memuncak, siap untuk meledak.
Nusa menggenggam tangan Tara erat, menyeretnya keluar dari lingkungan sekolah. Tara hanya diam mengikuti Nusa dengan langkah ringan. Nusa datang di saat yang tepat, disaat dia membutuhkan kehadirannya.
Nusa mengehentikan langkah kakinya, membuat Tara yang berada di belakangnya menabrak punggungnya dengan Tara yang meringis kesakitan memegangi hidungnya.
"Kamu kenapa gak pulang?" tanya Nusa masih memunggungi Tara.
"Aku nungguin kamu Sa, mau pulang bareng."
"Bodoh, kenapa nungguin aku? Kalau aja kamu pulang seperti biasa, kejadian tadi tidak mungkin terjadi."
"Iya Sa, aku cuma mau pulang bareng kamu. Kejadian tadi memang terjadi begitu saja, kejadian yang tidak pernah di harapkan."
"Dia mau ngapain kamu sampai berlaku kasar kaya tadi?"
"Sederhana dia cuma mau ajak aku pulang bareng tapi aku bilang aku akan pulang dengan orang lain. Tiba-tiba dia maksa dan narik-narik aku kaya gitu. Untung aja kamu datang tepat waktu. Makasih ya Sa."
"Ra, kamu mau ikut aku ke pelabuhan?" ucap Nusa tanpa memperdulikan ucapan terima kasih dari Tara.
"Pelabuhan? Mau ngapain Sa?" tanya Tara bingung dengan ajakan Nusa yang tiba-tiba.
"Rahasia. Intinya, kamu mau gak ikut aku ke pelabuhan?"
"Iya aku mau," angguk Tara dengan cepat.
"Oke, nanti sore aku akan jemput kamu ke rumah, kita pergi ke pelabuhan sama-sama," jelas Nusa berlalu begitu saja meninggalkan Tara dalam keheningan.
Tara duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nusa sepulang sekolah tadi. Ada hal apa sampai Nusa tiba-tiba mengajaknya pergi ke pelabuhan? Tara masih membatu, duduk mematung tanpa melakukan apapun. Ia sudah berpakaian dengan rapi, wangi dan bersih bahkan ia terlihat lebih cantik dengan satu kepangan pada rambut panjangnya ditambah dengan pita sebagai aksesoris sederhana.
"Assalamu'alaikum"
Tara yang mendengar seseorang mengucap salam merasa tak karuan dengan jantung yang berdetak lebih keras dari yang biasanya.
"Wa'alaikumussalam," Karina membuka pintu, terlihat di sana ada Nusa. Karina berada di luar untuk beberapa saat, tampaknya ia tengah berbincang dengan Nusa perihal dirinya yang mengajak anak bungsu mereka keluar pada sore hari begini mungkin Karina memberikan sedikit nasehat atau petuah pada Nusa.
"Ra, sana gih pergi Nusa udah nungguin," ucap Karina memasuki rumah.
"Papa gimana ma?"
Tara dan Nusa duduk di dermaga menatap lautan lepas. Di sana, terlihat beberapa orang berlalu lalang yang sibuk dengan aktivitas mengakut barang. Nusa masih diam yang membuat Tara bingung harus berbuat apa. Tara hanya menatap lautan dengan burung camar yang berterbangan kesana kemari.
"Hmm...Sa, kita datang kesini mau apa ya?" Tara akhirnya memberanikan diri memecah keheningan.
Nusa masih diam tanpa menyahuti Tara sama sekali. Ia pun kini ikut memandang lautan lepas dengan burung camar yang berterbangan kesana kemari.
"Kamu mau ikut menerbangkan pesawat bersama?" tanya Nusa yang membuat Tara menoleh padanya.
"Menerbangkan pesawat kertas?"
"Iya, pesawat kertas seperti yang kamu temukan terakhir kali."
"Kamu mau menerbangkan luka dengan angin yang membawanya pergi?"
"Biasanya memang seperti itu, tapi kali ini berbeda. Aku ingin menyampaikan bahwa kali ini aku tidak bersedih lagi, aku ingin menyampaikan perasaanku yang tengah berbahagia. Mau menerbangkan pesawat bersama?" tanya Nusa di akhir ucapannya pada Tara dengan senyum yang mengembang.
"Iya, aku mau," Tara menjawab cepat.
"Oke, kalau gitu kamu ambil kertas sama pena ya."
"Hah? Aku mana ada bawa yang begituan Sa. Aku kira kita mau jalan-jalan, jadi aku berpikir gak perlu untuk membawa kertas atau pena, udah kaya mau belajar aja."
"Aku tau kamu akan mengucapkan itu. Aku bawa kok di dalam tas," ujar Nusa mengambil buku catatan kesayangan bewarna biru muda miliknya dengan sebuah pena yang terlihat berbeda dengan pena yang ada di pasaran lalu ia mulai menuliskan kata-kata.
"Nih, sekarang giliran kamu. Tulis apa saja yang ada di pikiran kamu sekarang," Nusa menyerahkan kertas dan pena pada Tara dimana Tara mengambilnya dengan cepat dan tampak berpikir ingin menuliskan apa dalam kertas tersebut.
"Udah," seru Tara menyelesaikan tulisan dalam kertasnya, lebih cepat daripada yang Nusa kira.
"Coba lihat, apa yang kamu tulis sampai sedetik saja sudah selesai begitu," ujar Nusa penasaran dan mengambil kertas yang ada di tangan Tara.
Nusa dan Tara selamanya.
Wajar saja jika Tara membutuhkan waktu sedetik untuk menulis, ternyata yang tertulis di sana hanya satu kalimat pendek.
"Kamu mikirnya lama dan yang ditulis cuma satu kalimat? Kamu menyia-nyiakan kertasku tau gak," ucap Nusa sedikit kesal yang hanya dibalas tawa oleh Tara.
Nusa mengambil pena yang masih dipegangi oleh Tara, mencoret "dan" yang memisahkan antara namanya dengan Tara dan menggantinya dengan simbol hati. Tara mengernyit, tak tau harus bersikap bagaimana. Ia senang sekaligus bingung dengan perbuatan Nusa.
"Kenapa diganti dengan lambang hati? Dan lagi kenapa hatinya bewarna hitam?" tanya Tara penasaran.
"Iya bewarna hitam karena kan tinta penanya bewarna hitam masa iya dia berubah menjadi hijau, gak mungkin kan?" balas Nusa dengan candaan yang membuat Tara kesal dan langsung mencubit lengan Nusa.
"Jangan kesal gitu dong, aku bercanda kok. Kenapa hitam? Ya karena hatiku memang berwarna hitam kan? Selalu berada dalam kegelapan yang membuat hatiku terbiasa sehingga menjadi hitam begitu. Tapi aku yakin sebentar lagi warnanya tidak akan hitam lagi karena aku telah keluar dari kegelapan itu dengan setitik cahaya yang menuntunku keluar dari kegelapan. Kamu berharap agar hatiku bewarna apa sekarang?
"Pelangi? Warna-warni biar kamu bahagia selalu."
"Bisa juga sih, tapi gimana dengan merah muda? Biasanya melambangkan kasih sayang kan?" balas Nusa yang membuat Tara membatu untuk kesekian kalinya dan ia yakin sekarang pasti wajahnya sudah memerah.
~Bersambung~