Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 9. Terealisasi



Sartika memberikan setengah potongan coklat pemberian Leo untuk Sinta saat mereka berjalan keluar dari ruangan . Sore itu jam kantor telah usai,hari itu cukup melelahkannya. Sartika dan Sinta berencana akan ke sauna untuk pijat refleksi. Mereka tidak menunggu sampai akhir pekan karena  lebih mahal dari hari biasanya.


“Cieee,,,ada udang dibalik bakwan nih,”ledek Sinta.


“Itu permohonan maaf dari Leo karena traktirannya dicancel”


“OMG sepertinya Leo menaruh hati sama kamu tapi sayang ada ratu dari segala ratu diantara kalian.Tak biasanya Leo bersikap seperti itu kepada orang lain.Kayaknya ada apa-apanya nih antara kalian berdua,”ujar sinta


bergumam,tidak yakin dengan ucapan sendiri.


“Yaa...memang nggak ada apa-apa antara kami. Hanya teman kerja itu saja,”Sartika menaruh ibu jari dan telujuk dekat bibir dengan gerakan mengunci.Ia tak ingin membicarakan tentang perasaannya lagi .


Setelah pulang dari Spa dan Sauna, sartika mengajak Sinta untuk mampir ke ATM untuk mentransfer uang kepada orang tuanya dikampung.Kebetulan suni sudah memiliki rekening bank sendiri .Uang itu akan digunakan untuk membeli satu petak sawah buat membantu mencukupi kebutuhan pangan keluarga serta investasi ditambah pengiriman untuk memperbaiki  atap rumah yang suka bocor kalau musim hujan tiba.


“Good girl,”puji Sinta mengetahui sartika mengirim semua tabungannya untuk orang tua dikampung.


“Bagaimana lagi,,beginilah nasib dari keluarga yang serba kekurangan. Aku harus membantu mereka ,kalau tidak ,kasihan sama ayahku. Tubuhnya sudah mulai sakit-sakitan akibat bekerja terlalu berat”


Kesalutan Sinta tak berkurang. Ia tetap memuji Sartika adalah anak paling  berbakti yang pernah dikenalnya. Semua gaji ditabung untuk dikirim kekampung lalu sisa uang hanya  untuk membeli makanan dan sehelai pakaian serta satu bulan sekali perawatan tubuh.Melihat kehidupan keluarga Sartika yang serba kekurangan membuat Sinta lebih bersyukur dalam hidupnya karena masih memiliki keluarga yang lengkap dan serba berkecukupan.Menjadi teman Sartika adalah suatu anugrah buat Sinta.Selalu mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga .Dari Sartika lah Sinta belajar untuk hidup lebih hemat dan tidak menghambur-hamburkan penghasilan pada sesuatu yang berifat mubazir.


Esok hari kedua wanita yang telah memanjakan tubuhnya menjadi lebih  segar bekerja .Lebih berenergi dan auranya lebih bersinar.


“Kalian disuruh keruangan bu Siska, ada yang mau disampaikan,”Anton menunjuk kearah Sartika dan Sinta.


“Memang ada apa?nggak biasanya dia manggil ,”Sinta heran sudah lama sekali ia tidak berurusan langsung dengan Siska.


“Saya mau pekerjaan ini selesai sampai saya kembali.Saya ingin kalian menyelesaikannya tepat waktu,”Siska menyerahkan map tebal masing-masing kepada  Sartika  dan  Sinta.


Kedua perempuan itu hanya pasrah menerima lembaran  demi lembaran yang menumpuk ditangan.


“Saya akan keluar kota selama dua minggu”


Mendengar itu Sartika menjadi sedikit lega dan lebih tenang. Rasanya pekerjaan setinggi gunung bersedia dia terima.Kehadiran Siska disini benar-benar  sebuah momok menjengkelkan baginya.


“Selama saya pergi saya harap kalian bekerja lebih serius tidak banyak bergosip atau cengengesan di sana,”Siska menunjuk ruangan tempat Sartika dan Siska bekerja.


“Baik bu,”jawab Sartika dan Sinta hampir bersamaan.


“Sekarang kalian boleh kembali ke ruangan kecuali Sartika.Masih ada yang harus kita bicarakan,”rasa cemas menghantui Sartika. Apa lagi yang akan dibicarakan wanita paling berkuasa itu kepadanya. seingat Sartika selama ini tidak ada sesuatu yang menyalahkan aturan telah Ia lakukan.


“Enam bulan sudah kamu bekerja disini. Saya sudah menandatangani lembaran monitoring tranning atas nama kamu dan hasilnya lumayan bagus.Kamu bisa menyesuaikan diri dengan baik.Sayang,  focus dalam


bekerja saya nilai masih kurang .Sebagai karyawan baru sebaiknya kamu tidak mengobrol saat bekerja. Saya lihat setiap hari kamu dan Sinta selalu berdua ngobrol dalam waktu yang lama. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan pada saat jam kerja?”


“Tidak bu…kami tidak membicarakan apa-apa selain pekerjaaan,”jawab Sartika salah tingkah. Darimana orang ini tahu sedang dibicarakan. Sartika berfikir keras.


“Sebaiknya kamu lebih kosentrasi bekerja. Bekerja lebih giat lagi. Saya tekan kan  jangan terpengaruh lingkungan yang sudah rusak. Jadilah diri sendiri supaya tidak terjebak kepada hal yang tak baik. Saya mengatakan ini karena saya menyukai kinerja kamu. Jadi berhati-hati lah,”Sinta bicara langsung menatap mata Sartika.Membuat gadis itu tak berkutik ,seakan mata Siska langsung menusuk di jantung.Semua perkataan wanita itu sama sekali tidak ada celah untuk dibantah.


“Satu lagi saya ingin tanyakan. Kamu ada hubungan apa dengan Leo?”


Sartika menarik nafas panjang. Seharusnya dari tadi Ia tahu bahwa ujung dari pembicaraan ini adalah leo.


“Hubungan kami hanya sebatas rekan kerja,Bu”


Ingin sekali Sartika bertanya balik tentang hubungan mereka berdua.


“Baiklah. Pembicaraan kita hari ini sampai disini. Pesawat saya dan pimpinan akan  berangkat satu jam lagi”


“Baik bu. Kalau gitu saya pamit dulu. Semoga perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan”


Sartika kembali duduk dikursi kerja tanpa mempedulikan tatapan mata penuh tanda tanya milik Sinta. Wanita itu penasaran apa yang disampaikan Siska pada Sartika


Beberapa saat kemudian Anton berlari keluar dan melihat mobil perusahaan sudah melaju meninggalkan kantor dengan cepat.


“Aahhh,,,akhirnya dua minggu ke depan kita bisa bernafas dengan tenang”


“Kalian sih enak.Nah kita ditinggalin dengan bejibun pekerjaan dan harus selesai sampai mereka kembali,”Sinta mengeluhkan keadaannya yang malang.


“Sekali-kali bolehlah rasain yang namanya gabut,”Anton tetap saja menunjukkan kebahagian tanpa mempedulikan Sinta yang semakin panas hatinya.


“Sartika,kamu kok diam saja. Bantu belain dong, kita kan senasib,”kata Sinta sambil menepuk bahu Sartika.


Namun yang di singgung hanya diam saja. Masih terngiang  ucapan Siska tadi dikepala.Enggan bagi Sartika untuk menimpali.Dia tetap diam tak bersuara dan sibuk membaca lembar demi lembar yang diberikan oleh Sinta tadi.


Leo heran melihat sikap Sartika yang diam,tak membaur bersama kebahagian yang lain.Apakah  Sinta sebelum pergi  mengatakan sesuatu  yang membuat cewek itu menjadi terdiam seperti itu. Rasa ingin tahu membuat pria itu mendekati Sartika.


“Besok kamu ada acara nggak?”


“Enggak. Memang kenapa?”jawab Sartika ketus.Suasana hati Sartika belum membaik meski kehadiran Leo disampingnya.


“Bagaimana kalau traktiran kemarin direalisasikan,”ajak Leo sambil tersenyum.


Sartika mengalihkan pandangan dari  lembaran kertas ditangan. Apa  salahnya Dia ikuti ajakan Leo.Menghadapi pekerjaan menumpuk ini akan lebih baik Dia refreshing dan menghibur diri sendiri dulu.


“ Cuma kita berdua ?”Sartika ingin mengajak Sinta atau Anton  agar hiburannya makin rame.


“Perhatian..perhatian..siapa yang ingin ikut dengan kita nanti malam,”Leo mengeraskan suaranya dengan lantang biar didengar seluruh penghuni ruangan.


Semua mata tertuju pada Leo namun beberapa detik kemudian  mereka kembali pada kesibukan masing-masing.


“Akhir minggu ini aku mau liburan sama keluarga,”sinta berkelit padahal Ia ingin membiarkan Leo dan sartika menghabiskan malam minggu berdua. Tidak mau menggangu kesenangan mereka yang jarang-jarang terjadi.


Bersambung