
Sore hari Leo sudah berada di kontrakkan Sartika. Dia sengaja datang lebih awal agar malam panjang ini semakin panjang akan Ia habiskan bersama Sartika. Bensin sudah terisi penuh sebelum dia tiba supaya perjalanan nanti tidak terganggu karena mogok kehabisan minyak.
Tak menyangka kehadiran Leo secepat itu dihadapannya. Sama sekali Sartika belum mandi merapikan diri.Sartika menyuguhi Leo dengan secangkir teh sembari merias diri.Cukup satu jam akhirnya mereka bersiap-siap menyusuri jalan dengan motor yang selalu dipakai oleh Leo.
“Kita mau kemana?”tanya Sartika sebelum menaiki motor.
“Naiklah,,,aku akan membawamu keliling kota sambil menikmati malam yang kebetulan tidak hujan”
Sartika duduk dibelakang dan merangkul pinggang Leo dengan erat.Motor pun melaju perlahan dengan suara mesinnya yang hampir tak terdengar. Beruntung Leo sudah menservis
motor seminggu yang lalu. Jadi tidak membuat malu orang yang diboncengnya.
Suara azan magrib menghentikan kendaraan Leo disebuah mesjid. Mereka pun melakanakan shalat magrib berjemaah di mesjid itu. Mesjid yang cukup besar dengan bangunan yang megah bisa menampung hampir seribu
orang.Sartika terlebih dahulu menyelesaikan shalat ,duduk ditangga mesjid sambil memandang halaman mesjid yang indah. Dikelilingi taman bunga serta koridor yang dibangun disetiap gerbang
mesjid . Koridor itu memiliki atap yang unik yakni terbuat dari asbes yang berwarna hijau dengan gambar kaligrafi.Hati Sartika bertambah damai berada ditengah-tengah bangunan kebanggaan kota ini.
Tiba-tiba Leo datang dan duduk disamping Sartika.
“Indah banget ya,”Sartika memandang langit yang mulai gelap namun diterangi bulan purnama . Leo mengikuti arah pandangan mata Sartika. Ia pun berdecak kagum saat memandang bulan yang bersinar terang benderang sangat sempurna.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sedang. Leo ingin setiap jalan memiliki arti hingga tidak mudah untuk dilupakan.Setelah setengah jam Leo kembali menghentikan kendaraan dan membeli satu porsi roti bakar dengan selai strawberry didalamnya.Sartika tidak banyak bicara dan mengikuti semua yang dilakukan Leo.
Roti bakar yang dibeli dari gerobak dorong pinggir jalan dibungkus,entah kapan untuk disantap. Kebetulan perut Sartika belum terasa lapar.
“Kita makannya ditempat dan suasana yang tepat,tunggu sebentar , aku harus membeli air mineral.Nggak lucu kan kalau kita berdua tersedak saat makan roti,”kata Leo sambil berlari menuju kedai yang tidak terlalu jauh dari gerobak roti bakar.Sartika tersenyum mendengar guyonan Leo yang tidak terlalu lucu namun mampu melelehkan hatinya.
Perjalanan semakin terasa jauh. Kendaraan lain mulai sepi . Lampu jalanan menemani mereka menyusuri kemana arah tujuan yang akan Leo inginkan. Sartika menambah erat rangkulannya pada tubuh leo saat tepi jalan hanya ada pohon –pohon besar. Perasaan takut mulai dirasakan Sartika namun ia pasrah saja pada punggung Leo yang membawanya keujung kota.
Akhirnya motor berhenti pada sebuah tempat yang sangat tinggi. Sepertinya tempat itu sengaja dibuat.Sebuah area yang tidak terlalu luas persis berada disamping tikungan jalan.
“Konon orang Belanda memantau kedatangan musuh dari sini”
Dari ketinggian ini sangat jelas terlihat hamparan laut jauh diujung sana.Tak hanya laut dari tempat ini terlihat juga kota yang luas seluas mata memandang. Lampu-lampu yang bersinar dari perumahan dan bangunan yang masih menyala manambah keindahan kota.
Leo memberikan beberapa lapis roti bakar untuk Sartika.Udara dingin mulai menusuk kedalam tubuh masing-masing orang itu. Leo merapatkan tubuhnya pada Sartika dan sekarang gantian Leo merangkul tubuh
Sartika dengan erat.
Sartika menghabiskan satu lapis roti bakar. Kemudian meneguk air mineral yang diberikan Leo padanya.Sesaat mereka hening dalam menikmati suasana malam yang sepi tapi menghanyutkan.
“Apa kamu takut berada ditempat ini bersama dengan seorang pria?”pertanyaan Leo membuyarkan lamunan. Sartika menggelengkan kepala. Kenapa harus takut dengan sosok seperti Leo.Dengan penampilan serta sikapnya yang manis tak mungkin ia berani berbuat yang tidak baik. Kata Sartika dalam hati.
“Sudah lama aku ingin membawa seorang ketempat ini. Akhirnya aku berhasil membawa kamu melihat pemandangan indah ini”
Sartika tidak yakin dengan perkataan Leo.Bukan kah cowok itu cukup dekat dengan Siska.Kenapa Dia tidak pernah membawa Siska ?Lagian tempat ini memang indah namun kenapa begitu istimewa bagi Leo.
“Menurut kamu kenapa kalau hanya kamu,wanita yang pernah aku ajak ketempat ini”
Sartika mengangkat kedua bahunya. Tak ada jawaban yang tepat terlintas dikepala wanita itu.
“Karena aku menyukai kamu sejak pertama kali kita bertemu”
“Ini bukan bagian dari taruhan ,kan?”
Leo meletakkan jari telunjuknya di bibir Sartika . Sejurus kemudian melayangkan kecupan dikening wanita disampingnya itu.”Percayalah taruhan itu tak ada sangkut pautnya denganku. Mereka hanya melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa menghiraukan perasaan orang lain”
“Jika kamu tahu, kenapa tidak menghalangi mereka ?”sungguh butuh perjuangan untuk menghapus trauma yang dialami Sartika pertama kali bekerja. Baginya , perbuatan itu sama saja membuli dan menyakitkan.Ia tidak
ingin terjadi kedua kali,apalagi kalau itu terjadi dan dilakukan oleh orang yang begitu dikaguminya.
“Aku mengerti saat ini kamu tidak akan percaya semua yang aku katakan,tentang perasaanku padamu.Aku tak butuh jawabannya sekarang . Mungkin suatu hari nanti kamu akan mengerti bahwa aku benar-benar menyayangi
kamu”
“Sekarang aku baru mengerti kamu menyayangi aku dan Siska sekaligus.Maaf aku tidak bisa memiliki perasaan cinta untuk dibagi kepada orang lain”
“Oooh itu….Aku tidak pernah mencintai Siska. Bagiku Siska hanya sebagai atasan yang harus dituruti semua perintahnya”
“Aku tidak percaya. Bila saat ini aku memintamu untuk memilih aku atau Siska. Jujur, kamu akan memilih siapa?”
“Tentu saja aku memilih kamu”
“Hahahaha…secepat itu kamu menjawabnya dan suatu hari nanti jika ada Siska disini maka secepat itu juga kamu berubah,”Sartika tertawa getir.
Leo menatap wajah Sartika tanpa berkedip. Entah apa lagi yang harus dilakukannya agar dipercaya. Leo kembali berfikir. Mungkin terlalu cepat baginya mengungkapkan perasaan pada Sartika . Terlebih atas semua yang
telah terjadi selama ini. Tentang kebersamaan nya bersama Siska dikantor yang tak mungkin hilang begitu saja dari pandangan Sartika.
Hubungannya dengan Siska memang masih belum jelas.Walau setiap pertemuan Siska selalu mengatakan bahwa Ia menyayangi Leo dan tak ingin berpisah dari lelaki itu.Sama dengan sikap Sartika saat ini. Leo pun tidak
memberikan jawaban yang pasti. Leo belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ia terang-terangan menolak Siska.
“Aku juga tidak tahu hubungan ini akan menuju kemana. Sekarang aku sibuk meniti karier aku yang sudah susah payah aku dapatkan selama ini hingga menjadi seperti sekarang. Itu tidak mudah .Tapi aku juga tidak rela
kalau kamu bersama orang lain. Jadi aku harap kita saling menjaga perasaan kita sendiri ,jangan sampai ada yang terluka sebab jika itu terjadi aku tak akan segan-segan berbuat yang lebih nekat,”ancam Siska waktu bersama Leo disebuah hotel.
Bersambung