Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 14. Kembali Titik



Dua minggu terasa sebentar bagi seluruh karyawan kantor tempat Sartika bekerja. Begitu juga dengan dirinya dan Leo.Kebersamaan mereka semakin lama semakin intens. Mereka menjalin hubungan seperti air mengalir tanpa


status yang jelas.


Kemana-mana selalu berdua. Walau hanya sekedar berkendara diwaktu sore,menikmati matahari terbenam. Setiap pulang bekerja mereka selalu bersama tak terpisahkan. Semua mata yang melihat kemesraan antara Sartika dan Leo pasti mengira mereka sepasang kekasih tak terkecuali dengan Sinta.


“Kalian cepat banget geraknya. Langsung jadian.Bagus itu biar tahu rasa si nyonya besar.Hmmm,”tawa Sinta penuh kemenangan. Aksi balas dendam terhadap Siska yang telah memberinya banyak pekerjaan  telah selesai.


“Siapa bilang kami jadian?”Sartika heran dengan tuduhan Sinta yang tak beralasan.memang saat ini dia sudah merasa ada kecocokan dengan Leo namun belum ada kata cinta terucap di antara mereka.Sartika merasa cukup dengan hubungan seperti itu tanpa ada tekanan.


“Teman tapi mesra ya?apapun namanya kalian udah seperti berpacaran. Tenang aja,aku selalu mendukung hubunganmu dengan Leo.Masalah dengan Siska anggap saja kerikil kecil yang menghalangi jalan kalian. Lewati saja. Masih ada jalan lain kan”


Tak ada lagi yang harus dijelaskan pada sinta jika mata dan hatinya suah tertutup oleh kebencian pada Siska. Sartika hanya diam mendengarkan sinta berkicau.


“Daripada ngomongin hubunganku dengan Leo yang memang hanya sebatas teman dan tak mungkin jadi kekasih. Lebih baik selesaikan tugas dari bu Siska. Lebih penting kerja buat masa depan,”Sartika mengkhawatirkan mental


Sinta yang selalu memusuhi atasan.


“Huuuhhhh”


Sinta menggaruk kelapanya yang tidak gatal. Rambut yang selalu penuh perawatan disalon jadi acak-acakkan. Hasil smoothing kemaren berubah jadi sarang burung.


“Pokoknya kamu harus jadian sama Leo agar Siska nggak semena-mena lagi sama kita.Plisss,”ujar sinta memelas kasihan pada Sartika.


“Sinta…Jika seorang atasan memberikan pekerjaan pada karyawan itu adalah wajar. Memang kamu suka makan gaji buta,”sartika mulai kesal dengan permintaan Sinta yang semakin mengada-ada.


“Yahhh nggak wajarlah jika kerjaannya overload”


“Ayo kerjakan. Kamu tak mau kan besok dipecat siska jadi karyawan disini. Nggak usah selalu mengeluh. Gunakan masa mudamu sebelum masuk masa tua mu. Jadi sekarang bekerjalah anakku,”ujar Sartika seraya memegang bagian atas kepala Sinta persis perlakukan seperti orang tua pada anaknya. Sebelum Siska membantah ucapannya ,Sartika mengangkat tangan dan melambaikan tangan mengusir Sinta dari mejanya. Dan mulai kosentrasi pada pekerjaan.Sartika melihat kalender meja  yang ada disamping


computer. Tinggal  lima hari lagi waktunya menyelesaikan pekerjaan sampai Siska kembali.


Wajah Sinta semakin kusut dan uring-uringan dimejanya. Dia sudah stres duluan melihat tumpukan kertas yang berada diatas meja. Bagaimana bisa ia mengerjakan itu semua saat hatinya tak rela kalau Siska mendapatkan segalanya.


Saat jam kerja selesai, Sartika masih bingung dengan sikap Sinta tadi. Hingga Ia mengadukannya pada Leo. Siapa tahu pria itu punya solusi terbaik.


“Jadi sebenarnya kamu pacar aku nggak sih?”Leo menyikut sisi tubuh Sartika yang duduk disampingnya. Pulang kerja mereka sempatkan untuk nongkrong di taman sebuah mall. Disana ada jajanan tradisional yang sangat enak.


“Aku sedang tidak membahas tentang hubungan kita tapi sikap Sinta pada Siska. Menurut Sinta,Dia sudah terintimidasi oleh Siska”


“Sekarang aku yang terintimidasi karena telah diacuhkan olehmu. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya.Dan aku tidak perlu takut kalau kamu diambil orang,”ujar Leo sambil menyatap makanannya.


Leo berdiri memesan minuman dingin ,entah kenapa cuaca mendung begini tapi Dia merasa haus. Sudah dua gelas air dihabiskan. Mudah-mudahan yang ketiga rasa dahaganya hilang.


“Haus banget padahal lagi nggak panas. Apa sambalnya kebanyakan?”tanya Sartika heran melihat Leo minum begitu banyak.Sambal cabe ditempat ini memang tokcer banget makanya orang jadi ketagihan untuk bersantap .Keringat Leo bercucuran dari jidat turun ke hidung sampai kepipi. Sartika mengambil tissue yang tersedia dimeja dan memberikannya pada Leo.


“Kamu tidak cemburu kalau nanti aku jalan sama Siska dan meninggalkanmu?”


Sartika diam tidak berkutik,bayangan akan ucapan Leo barusan menghantuinya. Memang setiap tidur Dia selalu berandai-andai. Andai Leo dan Siska kembali bersama lalu mereka akan menari-nari dipelupuk matanya.Tentu saja


Dia cemburu.Tapi jika harus dihadapkan pada sebuah pilihan.Saat ini cinta harus dikorbankan.


“Eh,yang nanya malah dianggurin,”Leo menyadarkan lamunan Sartika .Dia tak tahu apa yang sedang dipikirkan wanita yang duduk disampingnya .Sartika hanya menghabiskan beberapa bakwan jagung,itu pun lama sekali


dikunyahnya.


“Ngapain cemburu kalau kenyataan hati kamu hanya untuk aku,”sartika mengedipkan matanya pada Leo.


“Tapi jangan coba-coba mesra-mesraan sama siska didepanku.Karena itu akan mengikis semua rasa yang ada disini untukmu,”Sartika menaruh tangan kanan di dada.


Leo merangkul bahu Sartika ketika mereka berjalan menyusuri taman kota.Sartika mencoba untuk memberi  jarak namun tangan Leo semakin erat menarik tubuhnya.Dalam hati Sartika senang diperlakukan begitu oleh Leo.Rasanya sudah tak sanggup lagi ia memendam rasa dan ingin saja Ia berteriak bahwa Ia mencintai Leo dengan segenap jiwa raganya.Agar semua orang mendengar dan tahu kemudian tak ingin menghalangi hubungan mereka yang sama-sama saling mencintai. Ah, andai semua dunia tahu itu.


Tapi kenyataannya,kenapa sulit bibir ini untuk berucap. Hanya sampai ditenggorokkan.Andai Leo mampu berterus terang pada Siska bahwa Ia sama sekali tak pernah mencintai wanita itu. Siska hanya wanita yang memiliki kekuasaan tapi tidak bisa mengusai hatinya yang telah terpaut pada Sartika.


“Yakinlah suatu hari pasti ada jalan untuk kita bersama,”kata Leo dalam hati. Lagi-lagi ia tak sanggup mengatakannya pada Sartika.


“Apakah kamu mau berjanji untuk tidak mengecewakannku lagi seperti hari-hari yang lalu?”tanya Sartika.Lebih baik berterus terang saja agar besok saat Siska kembali Leo tidak menunjukkan sikap berlebihan pada siska yang


membuat hatinya menjadi sakit.


“Maksudnya?”


Sartika diam karena merasa kesal sebab Leo belum juga mengerti.


“Aku akan berjanji tidak akan pernah menyakiti hatimu apalagi mengecewakan kamu. Apapun yang kamu minta akan kuberikan. Kamu juga harus berjanji tidak akan melirik pria lain,”Leo memandang mata Sartika dengan


tajam.Hubungan tanpa status adalah hubungan yang tidak ada komitmen.Bisa saja Sartika berpaling dan telah bosan menunggunya.


Bersambung