Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 19.Suasana Lebaran



Dalam perjanan menuju pelabuhan. Leo mengirim pesan  pada Sartika jika Ia akan menghabiskan lebaran dikampung wanita itu.


“Jangan becanda,”balas pesan dari Sartika.


“Aku tidak sedang bercanda.Ini mau ke pelabuhan.Semoga masih ada tiket.Berapa lama kapal berlayar untuk sampai ditempatmu,”tanya Leo.


“yaaah sekitar satu jam setengah.Itu pun kalau ada tiket”


“Jemput aku dipelabuhan kalau sudah sampai disana. Aku kan tidak tahu jalan disana”


Sartika masih tak percaya Leo akan datang ke kampungnya.Seribu tanda tanya hadir dikepala sartika.


“Apakah tidak ada yang marah kalau kamu lebaran disini?”


“Ya enggak lah”


Hanya kamu tempat terakhir yang kutuju. Kata Leo dalam hati.


“Baiklah. Sampai jumpa nanti”


Sartika heran bercampur bahagia. Ia senang jika Leo bersamanya disini. Lebaran kali ini begitu special. Dikelilingi keluarga tercinta dan disamping orang yang dicintai pula.


“Kenapa kak?senyum-senyum sendiri,”tanya Suni  melihat kakaknya senyum sendiri sambil bolak balik melihat jam di dinding. Rumah sudah dirapikan sebaik mungkin . Menambah hiasan bunga disetiap sudut rumah.


“Kakak lagi nungguin tamu ya?”tanya adiknya lagi.


“Iya. Teman kakak dari kota akan lebaran ke sini. Jadi kita harus menyambutnya dengan baik dan sopan”


“Hmmmm ,”sekarang Suni baru paham kalau dari pagi kakaknya tergesa-gesa kepasar menambah keperluan lebaran yang dirasa kurang.Ternyata ada seorang tamu special yang akan datang. Suni penasaran siapa gerangan tamu special tersebut.


Seisi  rumah juga menjadi gugup  seperti Sartika menanti yang akan tiba berkunjung kerumah sederhana ini. Siapa yang berbaik hati mau datang berlebaran mengunjungi Sartika serta keluarganya.


Sartika menaiki motor milik ayah untuk menjemput Leo dipelabuhan. Jika Leo berangkat tadi pagi maka sebentar lagi kapal yang ditumpanginya lima belas menit  akan sampai. Sartika tiba dengan perasaan tak menentu. Ingin segera bertemu dengan Leo. Sartika melihat ketengah laut melihat kapal sedang merapat. Ya, itu pasti kapal yang membawa  Leo kesini. Mata sartika melirik kesana-kemari  mencari sosok orang yang dinantinya dari tadi.


Leo menepuk bahu Sartika,membuat wanita itu terkejut dua kali.Sartika mengajak Leo beranjak dari pelabuhan dan membawanya ke rumah.


Orang tua serta adik-adik Sartika hanya termangu melihat tamu yang datang. Seorang pria gagah dan rupawan berada bersama mereka sambil tersenyum ramah. Adik-adik Sartika tak berhenti menatap Leo.


“Terima kasih nak Leo sudah sudi datang kegubuk kami. Maaf tempatnya begitu sederhana. Jika berkenan silahkan dicicipi hidangan diatas meja. Sebagian ibu yang bikin sebagian yang lain dibeli. Walau bentuknya sederhana tapi rasanya sangat lezat.Silahkan dicoba,”Ibu membawa dua gelas minuman diatas nampan.Satu untuk ayah si tuan rumah dan satu lagi tamu kehormatan.


Leo menuruti perintah ibu untuk mencicipi bermacam-macam kue yang disediakan. Semuanya memang enak seperti yang dibilang ibu.


“Wah .. ini pasti ibu yang bikin .Rasanya gurih sekali”


Ibu tersenyum dan tertawa senang. Kue bawang andalan setiap lebaran yang dibikinnya memang selalu laris manis. Hingga beberapa warga kampung selalu memesan padanya sebelum lebaran.


“Silahkan diminum tehnya,”ayah melihat tamu sudah kehausan karena kebanyakan makan kue.Leo meminum teh melati yang hangat dan sangat nikmat. Wangi serta rasanya sungguh menjadi candu bagi Leo. Belum pernah Dia


minum teh seenak ini.Air kampung memang terasa lebih alami dan original. Begitu segar hingga kerongkongan.


“Iya, Pak. Kami teman satu kantor,”jawab Leo.


“Seberapa dekat hubungan kalian.Maksud Ayah jangan terlalu  lama berhubungan tanpa ada ikatan,”kata ayah sambil meneguk teh didalam gelas. Ayah ingin tahu kenapa anak muda ini nekat kekampung orang untuk berlebaran. Pasti ada sebuah hubungan yang sangat dekat antara anaknya dan Leo.


“Ayah,,,”Sartika menghentikan arah pembicaraan ayahnya. Menurut Sartika terburu-buru sekali ayah menanyakan pertanyaan seserius itu.


“Tidak salah kalau ayah berkata begitu kan,,,ayah hanya ingin kalian tahu bahwa ayah akan selalu merestui dan mendukung apapun keputusan yang kalian inginkan. Baiklah, kalian silahkan mengobrol dulu. Ayah dan ibu mau ke


sawah  menghalau burung,”kata ayah sambil melangkah pergi bersama ibu.


“Apakah kamu juga ingin jalan-jalan menyusuri suasana  kampung yang ramai apalagi saat lebaran?”Sartika mengajak leo keluar rumah dan melihat pemandangan asri dan udara bersih jauh dari polusi .


Tanpa menjawab pertanyaan,Leo langsung berdiri mengikuti Sartika. Mereka berjalan berdampingan melewati jalan setapak.


“Kenapa tiba-iba kamu berubah pikiran untuk kesini?Apa disana tidak ada yang marah?”Sartika mengungkapkan keherananya sejak kedatangan Leo.


“Maksudmu Siska?Tentu saja Dia tidak akan marah. Sebab Siska terlalu sibuk dengan keluarganya”


Sartika merasakan kesedihan yang dirasakan Leo. Dia pasti merasa tercampakan karena perlakuan Siska.Tak mengapa Leo datang kesini. Sartika senang Leo memilih datang kekampungnya daripada sendiri ditengah kota.


“Disini benar-benar tentram. Seperti dikampungku. Jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan kota.Alangkah senang mengahabiskan sisa hidup ditempat tenang seperti ini,”kata Leo sambil menggengam tangan Sartika. Mereka berjalan pelan sambil menikmati kehijauhan yang ada .


“Kamu bilang begitu karena saat ini merasa bosan dengan keadaan kota,”Leo ingin menjauh dari Siska. Dan melupakan wanita itu secepatnya.


“Aku hanya punya waktu tiga hari berada disini. Lusa sudah kembali bekerja. Tidak sepertimu mengambil cuti lebaran selama dua minggu. Waktu terasa singkat sekali,”ujar Leo.


“Iya. Aku tahu. Jangan diambil hati semua perkataan ayahku tadi. Beliau tidak tahu apa yang telah terjadi diantara kita,”sartika merasa bersalah karena sikap ayahnya yang terlalu protektif.


“Ayahmu tidak salah. Beliau seratus persen benar. Kenapa hubungan kita tidak diresmikan saja”


“Husss jangan bercanda terus. Nanti kalau jadi kenyataan, masa depanmu akan hancur. Kita bakal di bunuh satu persatu oleh Siska,”kata Sartika menatap jalan yang sudah beraspal.Leo tersenyum miris. Kenapa Sartika


masih meragukannya setelah apa yang telah Ia lakukan sejauh ini.


Mereka mulai bertemu dengan warga kampung. Dan mengajak mereka bersalaman. Sartika mengenal mereka sudah seperti keluarga sendiri. Sejak dilahirkan dan dibesarkan dikampung ini,Sartika mengenal mereka satu persatu. Ada juga teman sekolahnya yang sudah menikah dan memiliki beberapa orang anak.


“Kapan nih acaranya diadakan. Jangan lupa kirim undangannya padaku. Jangan lama-lama berpacaran nanti diambil orang,”bisik salah satu teman Sartika semasa sekolah sambil menggendong bayi.


“Tenang saja. Kamu bakal jadi pengiring pengantin saat aku menikah nanti,”kata Sartika mengedipkan mata pada temannya itu yang disambut dengan  tawa .


Selanjutnya perjalanan kembali dilakukan.Kali ini mereka bertemu dengan serombongan anak-anak seusia adik Sartika menghampiri. Mereka mengajak bersalaman.Untung saja Sartika membawa beberapa uang kertas baru untuk dibagikan. Mereka sangat senang mendapat uang selembar uang lima ribuan. Kalau di kampung,itu sudah bernilai sangat besar untuk seusia mereka.


Leo menghabiskan lebaran pertama dikampung Sartika. Suatu pengalaman yang sungguh tak akan bisa dilupakan. Keluarga Sartika  menyambut Leo dengan penuh kekeluargaan. Tak hanya keluarga Sartika saja yang baik dan ramah. Seluruh sanak saudaranya yang datang berlebaran menyambut Leo dengan senang.Bagi Leo


lebaran ini adalah lebaran yang paling berkesan untuknya. Ia tidak akan pernah melupakan semua kebaikan yang telah diberikan.


Bersambung