
Tok... Tok... Tok...
"Siapa yang mengetuk pintu kamar pada malam hari begini. Apa Sinta memasang sesuatu dengan pihak hotel. Ah, Sinta pasti sudah tidur. Lihat pintu kamarnya tertutup rapat. Dengan langkah gontai Anton membuka pintu.
" Indah, "suara Anton tercekat tak percaya dengan penglihatannya.
" Iya. Ini Indah, mas. Kenapa terkejut begitu? Seperti melihat hantu, "kata Indah langsung masuk tanpa dipersilahkan. Ia tak ingin berlama-lama dipintu hotel. Semua mata melihatnya seperti perempuan panggilan.
" Yaa. Kenapa kamu tak kabari dulu agar mas bisa jemput"
"Indah berubah pikiran, mas. Daripada Indah besok sendirian dikamar kos mending Indah jemput mas Anton kesini. Lagian kampung Indah jaraknya tidak terlalu jauh dari sini"
Indah melihat sekeliling kamar yang dihuni Anton. Sangat berkelas menurut Indah. Dan Ia pun tak sabar ingin melihat kamar tidurnya.
Terlambat buat Anton menahan Indah untuk tidak membuka pintu.
Indah terlanjur melihat seorang wanita terbaring ditempat tidur. Dan Ia kenal dengan jelas kalau wanita itu adalah Sinta, teman kantor Anton.
"Arrrggghh.. Mas Anton tega, " teriak Indah.
Seketika Sinta bangun dan terperanjat. Berulang kali mengucek mata serta mencubit kulitnya. Meyakinkan dirinya sendiri kalau Ia sedang tidak bermimpi.
"Ini bukan seperti yang kamu kira, " kata Anton pelan lalu merangkul Indah untuk menenangkannya.
"B O H O N G!! Ternyata kamu sama saja dengan yang lain"
"Dengar dulu penjelasanku, " kata Anton sambil memegang tangan kanan Indah.
Sinta turun dari tempat tidur lalu menghampiri mereka berdua.
"Kamar hotel sudah penuh saat kami datang dan hanya tinggal satu kamar ini yang tersisa. Kalau tidak percaya kamu bisa tanya sama orang hotel, " jelas Sinta.
"Kalian berdua berani bermain dibelakangku. Bangs*t, " hati Indah semakin terbakar mendengar ucapan Sinta.
"Tidak ada hubungan antara kami. Percayalah, " Tangan Anton semakin kuat mencengkram lengan Indah.
"Lepaskan, nggak! "bentak Indah. Dan secara reflek Anton pun melepaskan genggamannya.
Setelah tak ada lagi yang menghalangi, Indah berlari dengan sekuat tenaga keluar dari kamar hotel.
Anton meninggalkan Sinta sendiri kemudian mengejar Indah yang telah pergi jauh.
Sinta menutup mukanya memohon pada Tuhan agar semua akan baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian Anton kembali dengan deru nafas yang berpacu.
"Entahlah.Aku tadi mengejarnya tapi tak bisa kutemukan. Aku kembali karena lupa bawa handphone, " ujar Anton masuk kekamar dan mencari gawainya.
"Aku ikut, " kata Sinta sambil menyusul Anton yang kembali keluar mencari Indah. Mereka memesan taksi tanpa tujuan.
"Susuri jalan ini, pak. Aku sedang mengejar seorang wanita. Masih muda dengan rambut lurus hampir sepinggang," kata Anton pada sopir taksi tersebut.
"Kenapa kearah ini. Siapa tahu Dia berjalan kearah sana, " kata Sinta panik saat melihat jalan yang sepi.
"Tadi aku sudah berjalan kearah sana tapi hasilnya nihil"
"Kenapa kamu memberikan alamat hotel pada Indah? " tanya Sinta tak percaya Anton akan seceroboh itu.
"Indah menanyakan dimana aku menginap selama dikota ini dan tentu saja aku jawab dengan sebenarnya"
"Kamu juga bilang satu kamar denganku? "
"Aku hanya bilang dengan teman satu kantor"
"Ya Tuhan, " Sinta kembali menutup wajahnya.
Dia yakin ini semua tidak akan baik-baik saja.
Anton mencoba menghubungi nomor ponsel Indah berulangkali namun selalu dijawab tidak aktif atau diluar jangkauan.
"Bagaimana kalau kita cari di stasiun, " tetiba pak sopir mengajukan usul. Maklum pak sopir sudah biasa dengan kasus seperti ini.Mengejar orang yang kabur karena menghindar dari pacarnya.
"Ide bagus, Pak. Cepat pak kita susul kesana, " Kata Sinta mulai bersemangat.
" Tenang aja. Jam segini belum ada kereta yang berangkat. Paling sicewek duduk dulu sambil menunggu kereta disana, "kata pak sopir.
Tiba di stasiun terlihat suasana yang sangat sepi dan tak ada tanda-tanda keberadaan Indah. Dari ujung ke ujung stasiun tak terlihat sedikit pun batang hidung Indah.
Anton dan Sinta kembali kehotel dengan rasa kecewa yang sangat dalam. Terlebih dengan Anton, penyesalan serta putus asa bercampur menjadi satu.
" Malam ini aku harus check out dari hotel ini. Dan langsung pulang ke tempat kost. Siapa tahu Indah sudah berada di sana"
"Kalau begitu aku juga mau ikut pulang bersamamu. Tempat ini sudah seperti neraka bagiku"
"Lebih baik kita berpisah di sini saja. Aku tak mau Indah semakin hancur melihat kita masih bersama. Aku harap pengertianmu, " kata Anton dengan tatapan kosong.
Bersambung