Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 25.Rezeki tak terduga



Leo menghabiskan hari-hari dengan bahagia bersama Sartika.


Ternyata hidup di kampung juga mengasikkan.Setiap pagi Leo menggarap sawah bersama mertua setelah tengah hari Dia pulang kerumah dimana Sartika  telah menyiapkan makan siang yang sangat lezat. Asli selera kampung yang sudah jarang Leo temui saat masih tinggal dikota.


Walau hanya dengan lalapan serta ikan asin serta sambal terasi membuat Leo ingin nambah dan nambah lagi.


Setelah makan siang Leo memeluk istrinya dari belakang. Mumpung tidak ada orang,berulangkali Leo mencium leher Sartika yang putih mulus.Membuat wanita itu menjadi geli.


“Ah sayang…nanti kalau dilihat orang bagaimana?”kata Sartika manja.


Kata-kata  sartika yang manja membuat Leo semakin bergairah. Ia memopong tubuh Sartika lalu membawanya kekamar. Mereka seakan tak pernah ingin berhenti  melakukan hubungan intim layaknya pasangan yang baru menikah.Bahkan dalam sehari ada tiga kali mereka melakukan hubungan suami istri tergantung kondisi lagi ramai atau tidak.Sartika sempat kewalahan mengikuti kemauan suaminya namun demi cintanya pada Leo tak mampu Ia menolak.


Tak sampai satu bulan usia pernikahan mereka .Sartika sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Setiap pagi merasa mual yang sangat parah. Ibu selalu mengurut – urut pundak sartika jika putrinya itu sedang mual.


“Ibu rasa kamu sudah berbadan dua. Sebaiknya diperiksa ke bidan Santi yang tinggal diujung desa,”kata ibu sambil membaluri dada Sartika


dengan minyak kayu putih.Dan ditemani oleh ibu akhirnya Sartika memeriksakan diri ke bidan Santi.


“Selamat ya bu, anda sudah hamil dua minggu,”ujar bidan Santi dengan senyuman bahagia pada calon ibu.


“Te…te…terimakasih bu,”Sartika tak bisa menahan rasa bahagianya sekaligus cemas maklum inilah kehamilan pertama baginya.


“Tolong dijaga janinnya agar sehat dan berkembang. Ibu hamil harus makan makanan bergizi. Makan yang banyak dan jangan suka stress,”pesan bidan Santi.


Sartika dan ibunya mengangguk perlahan seakan kehabisan kata-kata mengungkapkan perasaaan .Lalu mereka pulang dengan wajah berbinar cerah.


“Jalannya pelan-pelan saja. Nanti yang di dalam nggak tenang ngikutin maknya,”kata ibu menarik tangan Sartika yang berjalan sambil berlari sehingga ibu jadi ikut terengah-engah.


“Hihihi maaf ibu ,Sartika jalannya cepat  hingga ninggalin ibu,”ujar Sartika memeluk tangan


ibu.Jarak rumah bidan Santi dengan rumah Sartika cukup jauh sekitar satu kilometer. Dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki karena tidak ada angkutan umum yang melewati rumah bidan itu.


Tak sabar mau ketemu Leo dan mengabarkan padanya  kalau sebentar lagi Dia akan menjadi seorang ayah.Sepanjang  jalan Sartika tak


hentinya membayangkan bagaimana reaksi Leo jika mengetahui sekarang Dia sedang


mengandung benih kasih mereka berdua.


Sartika mengayunkan tangannya yang masih dipegang ibu. Sambil berlenggok santai Ia memandang langit yang cerah.Matanya tak lepas memandang bunga-bunga yang sedang mekar ditepi jalan setapak yang mereka lalui.Tanah yang masih basah akibat semalam hujan menambah keindahan suasana kampung tanpa debu asap kendaraan.Sartika mengumpulkan ide untuk memberikan kejutan untuk Leo.Sartika akan menunggu  waktu yang


tepat untuk mengungkapkan kehamilannya. Nanti Sartika ingin memberikan isyarat


agar suaminya bisa menebak dengan benar dan setelah itu Leo pasti akan menerima


kejutan manis dan tentu saja akan memberikan reaksi yang sangat manis pula.Ahhh,,,Sartika


mengelus perut tempat buah cintanya dengan Leo kini berada.sartika merasakan


cinta yang bertambah untuk suaminya itu. Rasanya tak sabar ingin bertemu dengan


Leo.


Leo berdiri dihalaman rumah.Menunggu Sartika yang tak tahu pergi kemana. Tadi pagi sebelum berangkat ke sawah,Sartika masih dirumah


membantu ibunya membuat kue .Leo mulai risau kemana istrinya itu pergi.Kenapa


tiba-tiba Leo menjadi begitu merindukan Sartika.Leo membuka ponsel saat benda


itu bergetar dibalik saku celana.Ternyata ada sebuah pesan singkat dari mama


terpampang dilayar. Tak sempat membaca dari ujung jalan terlihat Sartika dengan


ibu datang.Hati Leo menjadi senang melihat mereka berdua.


kerumah. Dikamarnya ibu menumpahkan tangis yang tadi tertahan.Tangis bahagia


karena sebentar lagi ibu akan memiliki cucu.Isak tangis ibu cukup terdengar


sampai keluar.Sartika termangu memandang adegan demi adegan  yang dilakukan ibu.Gagal  rencana yang sudah dibuat dalam kepala.


Berbeda dengan Leo yang kebingungan dengan apa yang baru saja didengarnya .Jadi ayah? Ia memandang wajah Sartika seakan tidak


percaya dan membutuhkan jawaban secara pasti.


“Benar aku bakal jadi ayah?”tanya Leo pada Sartika.


“Iya sayang.Tadi aku dan Ibu ke Bidan Santi buat periksa


ternyata hasilnya positif,ahhhh sayang aku senang banget.Kamu akan jadi ayah


dan aku jadi ibu.Rasanya seperti mimpi”


Mereka berpelukan erat dan sangat lama.Leo tak menyangka akan menjadi seorang ayah.Tak terasa setetes air mata jatuh dipipi Leo.Mereka


berjalan memasuki rumah tanpa sepatah kata. Hati mereka dipenuhi rasa bahagia membayangkan sebentar lagi ada seseorang diantara mereka yang akan mengisi


kehidupan ini dengan penuh warna.


Ayah pulang untuk makan siang. Berhubung tadi ibu mengantar Sartika pergi ke bidan ,terpaksa makan siang ayah tidak bisa diantar.Ayah heran melihat mata ibu yang sembab.


“Kenapa menangis?Sartika sakit apa?”tanya ayah panik.


“Anak kita nggak sakit,yah…Dia lagi berbadan dua. Aku senang banget mau punya cucu,”jawab ibu sembari bangun dari tempat tidur dan menghapus air mata dengan kain yang dipakainya.


“Alhamdullilah,,ayah juga senang.Ayah kira tadi Sartika sakit apa.Ayah khawatir lihat Sartika muntah-muntah hebat gitu. Sekarang cepat


siapin makanan ,perut ayah sudah lapar,”ujar ayah.


Melihat ayahnya sudah datang Sartika menyalami tangannya begitu


juga dengan Leo.Mereka ingin mendengar tanggapan ayah tentang kehamilan Sartika.


“Selamat ya,nak. Ayo temani ayah makan,”kata ayah sambil membelai rambut Sartika dan setelah itu menepuk bahu Leo.Ayah duduk dimeja makan kemudian melahap hidangan yang sudah disiapkan ibu.Leo dan Sartika ikut


menemani ayah makan siang.Hari ini ibu masak dengan menu istimewa. Goreng


gurami dan sambal terasi serta sayur yang digulai manis.


“Adik-adik pada kemana?Sudah siang mereka belum pulang?”tanya Leo melihat rumah yang masih sepi. Biasanya kalau sudah siang Adik-adik Sartika sudah pulang kerumah untuk mengisi perut terlebih dahulu setelah itu baru melanjutkan kembali tugas mereka masing-masing hingga sore.


“Sebentar lagi pasti mereka pulang.Mungkin singgah dulu keladang mencari kayu bakar,”jawab Sartika.


“Ayo ditambah nak Leo. Nasi yang di panci  itu habiskan saja.Nanti ibu masak lagi buat


adik-adikmu,”kata Ibu sambil berjalan kedapur.


“Hahahaha,,,Alhamdulillah rezeki kita sudah mulai baik berkat kehadiran nak Leo.Sawah yang kita tanam selalu menghasilkan panen yang bagus dan melimpah. Sekarang ditambah dengan kehadiran seorang cucu.


Alhamdulillah ya Allah semoga rezeki ini semakin membawa berkah buat kita,”kata


ayah setelah selesai makan.


Bunyi suara telepon genggam membuat Leo berdiri,”hallo. Leo ini papa.Kapan kamu pulang?Mamamu sakit keras .Dia tidak mau makan kalau kamu belum pulang ke sini”


Bersambung