Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 7. Menggapai cita-cita



Sartika membiarkan kepingan hati yang telah hancur kembali menyatu dengan sendirinya. Perlahan tapi pasti ,Sartika yakin bisa melupakan sebab Ia pun ingin  bahagia walau tidak bersama Leo.


Setiap saat melihat kebersamaan Leo dan Siska pandangannya menjadi kabur.Apalagi mendengar kabar kalau Siska satu bulan kedepan tidak ada rencana keluar daerah. Berarti mereka akan lebih lama bersama.


Sartika berusaha mengacuhkan ketika Siska dan Leo makan siang bersama di kantin. Lagi-lagi makananya tersisa tanpa tersentuh. Selera makannya tiba-tiba hilang. Dan suara-suara protes dari sinta sama sekali tak dipedulikannya. Sartika membeli roti dan sekotak susu untuk mengganjal perut . Terpaksa menelan agar tak jatuh sakit. Ia ingat kalau Ia sakit dan tidak bekerja bagaimana Ia harus membantu ayah dan ibu serta


adik-adiknya yang masih sekolah.


“Kaki ayah kambuh lagi kak. Jadi hari ini nggak bisa lagi bajak sawah pak Sukir,”Suni adiknya menelpon tadi pagi mengabarkan kesulitan yang sedang mereka hadapi.Kalau ayah tidak bekerja, keluarga sartika hari itu pasti cari pinjaman sana sini . Begitulah hidup seorang pekerja harian.


“Bilang sama ayah nggak usah kerja  di sawah orang. Mulai bulan ini biar kakak kirim uang untuk kebutuhan di sana,”Sartika ingat betapa miris kehidupan dikampung. Ayah banting tulang mengerjakan sawah yang bukan miliknya. Hanya bisa menutupi kebutuhan makan . Terpaksa Ia dan adik-adik menggembala kambing yang juga milik orang. Dan itu dilakukannya setelah pulang sekolah. Sartika ingat bagaimana ia harus bekerja sambil sekolah sampai melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Dari menjadi asisten rumah tangga sampai menjadi pengasuh bayi pernah Ia jalani.


Masih terbayang kebahagian diwajah adik-adiknya mendengar Sartika akan membantu meringankan beban mereka. Pasti wajah ibu dan ayahnya bersinar senang tak terkatakan.


“Makasih nak sudah membantu ayah. Ayah janji kalau kaki ayah sudah sembuh ayah kerja lagi. Kamu nggak usah kerja terlalu berat nanti kamu sakit,”ujar ayah ditelepon membuat Sartika menutup mulutnya dengan tangan agar


tangis harunya tak terdengar. Begitulah ayah yang selama ini  tak pernah menuntut apa-apa dalam kehidupan Sartika. Melihat kegigihan ayahnya dalam bekerja  membuat Sartika tidak juga menuntut terlalu banyak dari orang tuanya.  Sartika kecil selalu bermimpi menjadi orang yang lebih baik dan berguna untuk ayah dan ibu serta adik-adik. Sartika bertekad akan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Terbukti sudah beberapa kali Ia mendapat beasiswa disekolah hingga Ia bisa wisuda  dengan predikat terbaik.


“Kak , sepatu bobon udah jebol  kemaren udah coba dijahit tapi hari ini jebol lagi,”ucap adik cowok Sartika yang saat ini masih duduk disekolah dasar kelas enam.


“Huss kan  besok upah gembala kambing Pak Sukir katanya mau dikasih .Nggak usah minta kakak lagi,”timpal Suni.


“Masih kurang buat beli sepatu,”sungut bobon.


“Ya udah besok kakak tambahin buat beli sepatu Bobon. Beli yang bagus sekalian biar tahan lama. Nggak apa-apa kalau mahal dikit,”kata Sartika. Bobon langsung bersorak senang sampai terdengar nyaring oleh Sartika


di speaker handpone.


“Kak,kakak kapan pulang?Ibu kangen banget sama kakak…,”sahut ibu dari kejauhan. Terdengar suara isak tangis dari wanita yang selalu tegar mendampingi ayah. Sartika meminta adiknya menyerahkan handpone yang dibeli Sartika untuk keluarganya agar gampang dihubungi pada ibu. Namun ibu menolak dengan berbagai  alasan, ia tak bisa menggunakan alat komunikasi jarak jauh tersebut. Ibu menyerah kalau teknologi itu bukan tercipta untuk masanya.Berulangkali ia menolak telepon dari Sartika dengan berbagai alasan ,sedang masak atau sibuk mengupas ubi singkong buat kue yang akan dijajakan Suni keliling kampung.


Begitulah ibu yang selalu pasrah dengan keadaan namun wanita paling setia menemani kemana ayah Sartika pergi. Wanita kuno  yang masih memegang adab sebagai seorang istri,sangat sulit dicari pada zaman sekarang.


“Sartika belum bisa libur,bu. Baru juga Tika bekerja ditempat ini. Dan mungkin lebaran tahun ini Sartika juga tidak bisa pulang. Tapi sartika janji,, kalau tidak ada halangan, tahun depan Sartika pulang kampung pas lebaran tiba. Ibu yang sabar ya…Sartika juga kangen ibu…kangen semua keluarga dikampung. Disini


Sartika sendiri suka sepi trus kangen masakan ibu. Disini nggak ada yang


seenak masakan ibu,”Sartika tak bisa menahan airmatanya merindukan keluarga yang merupakan bagian hidup yang tak akan terpisah.


“Sudah…sudah  jangan sedih –sedih…ayah sama ibu selalu mendoakanmu dari jauh agar kamu selalu sehat dan selalu dilindungi allah,”terdengar suara ayah yang menenangkan Sartika.


anak kita agar jadi orang sukses,”ujar ayah dengan suara lebih lantang biar semua bisa dengar  termasuk Sartika yang berada jauh diseberang.


Ibu menghapus airmata dan ingus yang ikut meleleh dengan ujung kain sarung yang sedang Ia pakai.Kemudian berlalu menuju dapur,”Ibu jangan pergi dulu kan kak Tika belum selesai bicara,”Suni menahan tubuh ibunya.Ibu kembali duduk sambil mendengar suara Sartika yang mulai menceritakan aktivitasnya selama bekerja dan hidup di kota.


Masih lekat dalam ingatan masa-masa sulit berpisah dari keluarga. Sartika adalah salah satu siswa cerdas mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan gratis .


“Kamu nggak usah sekolah jauh-jauh. Disini aja dekat ibu. Bantu ibu jaga adik-adikmu.Daripada jauh dari ibu nanti kamu sama siapa .Kamu itu anak ibu perempuan  paling besar, Contoh buat


adik-adikmu.Kalau kamu  pergi adikmu nanti siapa yang ngajarin.Kamu tahu sendiri ibu


sekolah aja ibu nggak pernah,”ujar ibu saat sartika memberitahu tentang beasiswa yang baru  saja didapatnya untuk melanjutkan sekolah dikota.Karena disekitar kampung tidak ada perguruan tinggi.


“Justru itu Sartika mau kuliah ibu agar nanti Sartika sudah tamat bisa bekerja ditempat yang lebih baik dan gajinya juga besar.Sartika bisa bantu keluarga kita,”kata Sartika pelan agar langsung masuk kehati ibunya.


Sartika yang pulang dengan wajah bahagia dan penuh semangat mendapati pertama kali ibunya yang sedang mengiris bawang. Dengan suka cita Sartika memberitahu tentang keberhasilannya mendapatkan beasiswa dan rencana merantau kekota untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi.Ibu malah mengurut-ngurut dada dan bilang tak rela jika anaknya pergi meninggalkan dirinya. Tak pernah sedikit pun membayangkan  anak yang  telah Ia lahirkan akan berada jauh dari dekapan. Bagi ibu walau hidup serba kekurangan tapi kebersamaan tetap menjadi prioritas.


Untung sore itu ayah cepat kembali ke rumah.Melihat ibu dan anak beradu pendapat membuat kepala keluarga itu ikut nimbrung dan mendengarkan keluhan kedua wanita yang paling dicintai ayah.Betapa bangga ayah saat


mendengar  Sartika mendapat beasiswa sekaligus heran dengan sikap istrinya  menurunkan semangat  Sartika yang  telah berusaha rajin belajar untuk mewujudkan cita-citanya.


Mendapat persetujuan dari ayah pertanda lampu hijau.langkah kaki sartika semakin ringan untuk berjalan meninggalkan kampung halaman tempat Ia dilahirkan dan dibesarkan. Tentu saja ibu akan mengikuti perkataan ayah dan mengikhlaskan kepergian putri tercinta.


Ayah mengantar Sartika sampai di terminal dan sepanjang perjalanan ayahnya tak henti memberi nasehat .Sartika mendengarkan penuh haru. Ayah,Sartika pasti kembali dan berjanji akan berbakti pada keluarga. Tekad


Sartika dalam hati.


Setiap minggu sartika selalu meluangkan waktu untuk menghubungi keluarganya dikampung.Sekedar menanyakan keadaan ayah,ibu serta adik-adiknya. Dan melepaskan kerinduan walau hanya sebentar saja. Sehingga


Sartika tidak merasa kesepian  dikota ini. Ia memang tidak memiliki saudara. Kata ayah ada saudara jauh yang tinggal dikota yang sama namun jarak rumahnya dari kontrakan Sartika cukup jauh.


Tak jarang  bila tak ada seorang pun  dirumah untuk mengangkat teleponnya. Orangtua serta adik-adiknya sibuk diluar untuk bekerja.Akhirnya Sartika mengurangi frekuensi komunikasi antar mereka.Hanya awal bulan


suatu keharusan untuk  keluarga meluangkan waktu saling mengobrol  dari hati ke hati.


Bersambung