Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 39.Permintaan



keadaan Susi semakin hari semakin membaik.Setelah pulang dari rumah sakit sempat mengalami penurunan namun sampai hari ini berangsur pulih.Mungkin tubuhnya mengalami masa transisi.Berjalan tak bisa seperti semula. Susi menerima kenyataan jika berjalan harus dibantu dengan alat penyangga.


“Leo jadi merasa bersalah karena kedatangan Leo membuat kaki mama malah jadi seperti ini.Leo minta maaf,Ma,”ujar Leo bersimpuh dikaki Susi.


“Andai saja Leo tidak pulang”


“Jangan ngomong seperti itu.Kamu menyakiti perasaan mama.Jadi kamu tidak akan pernah pulang kalau tidak mama suruh,"ucap Susi dengan suara serak.


“Tap lihat kondisi mama sekarang. Leo tidak tega melihat keadaan mama begini”


"Apakah Leo sayang sama Mama?”tanya Susi tersenyum menunggu jawaban anaknya.


“Tentu saja Leo sayang sama Mama melebihi apapun didunia ini,”jawab Leo sambil membentangkan kedua tangannya.


“Benarkah?”


“Benar seribu kali.Leo sangat menyayangi mama,”Leo mencium pipi Susi bertubi-tubi.


“Kalau begitu kamu harus bersedia menikah dengan Karin”


Leo melepaskan pelukannya.Tak menyangka mama yang begitu disayanginya meminta hal tak masuk akal untuk dilakukan.Sebab Dia sudah memiliki istri yang sedang mengandung anaknya.


“Hahaha…Mama pasti bercanda.Ya,nggak mungkinlah.Leo nikah sama Karin ha…ha..haha..”tawa Leo.


“Anggap ini permintaan mama yang terakhir ,”Susi menatap gusar pada Leo .


Susi ingin Leo menanggapi permintaanya dengan serius.Hanya dengan itu segala kecemasannya selama ini akan hilang.


Menikahi Leo dengan Karin adalah keinginan Susi sejak dulu.Jika niat itu terlaksana maka hidup Susi lebih tenang hingga akhir hayat.


“Ah….keinginan mama sungguh ngawur,”ucap Leo sambil memegang kepalanya yang mendadak sakit.


“Tidak masuk akal itu adalah kamu.Menikah tanpa persetujuan keluarga”


“Kenapa Mama tidak bisa menerima Sartika?”


“Sampai kapan pun Mama tidak akan menganggap Dia menantu mama,”kata Susi mengerucutkan bibir.


“Mama….”gumam Leo.


Sebua dilema jika harus memilih antara Sartika dan keinginan ibunya.Leo masih ingat ketika Ia dan Karin masih kecil.


“Leo …ayo kesini.Temenin Karin belanja di warung.Pekerjaan Mama belum selesai.Jadi kamu saja yang antarin ke warung,”pinta Susi pada sibungsu Leo.


“Karin saja pergi sendiri,”balas Leo sambil berlari mengejar bola yang baru saja ditendangnya.


Leo kesal pada Karin.Sejak Karin dititipkan di rumah ini ,Leo merasa tak dianggap anak paling kecil lagi.Semua perhatian saudara serta orang tuanya beralih pada Karin.


“Kalau Karin jatuh siapa yang nolongin.Ayo…bantu dulu adikmu,”ujar Susi sambil mengaduk adonan kue pesanan orang.


“Karin bukan adik Leo!”ucap Leo cukup keras.


“Ya udah…bial kalin pelgi sendili,”ucap Karin kecil sambil melenggak lenggok meninggalkan rumah Susi.


BUKKK


Baru saja beberapa langkah ,Karin sudah tersungkur ditanah.Karin duduk mengusap-usap luka dilututnya.Walau perih,Karin tidak menangis.Ia tak ingin terlihat cengeng dimata Leo.


Namun Leo tetaplah seorang anak kecil yang memiliki perasaan.Ia merasa kasihan dan menghampiri Karin.


“Makanya jalan hati-hati…..Tunggu disini.Biar kuambil dulu obat merah ke dalam rumah,”ucap Leo sambil berlari .


Karin mengangguk .Betapa senang hatinya saat Leo mengulurkan tangan pada Karin.Setelah satu minggu ibunya menitipkan Karin pada Susi karena harus menemani kakaknya yang akan melanjutkan sekolah di kota.


Leo datang bersama obat merah ditangan kiri dan kapas ditangan kanan.Leo mengusap Karin dengan pelan.


Saat Karin telah mampu berdiri dan berjalan kembali.Akhirnya hati Leo luluh untuk menemani Karin ke warung.


Sebagai ibu,hati siapa yang tak tersentuh melihat kebersamaan mereka.Terbayang dipelupuk mata Susi jika suatu saat nanti Leo dan Karin menikah.Pasti mereka akan menjadi pasangan yang serasi dan kelak mendirikan rumah tangga yang bahagia.Niat itu tak hanya sebatas mimpi .Susi bahkan membicarakan perjodohan ini dengan ibunya Karin.


“Aku sih senang banget kita bakal jadi besan.Itu artinya hubungan kekeluargaan kita semakin dekat”


“Nah itulah keinginanku sebenarnya.Leo sangat beruntung bisa menjadi bagian anggota keluarga Karin”


“Benar sekali. Aku tak mau harta warisan keluarga kita jatuh ketangan orang luar dan tak jelas asal usulnya,”balas ibu Karin.


“Tapi apa anaknya setuju dengan perjodohan ini?”tanya ibu Karin ragu.


“Gampang. Biar aku yang atur.Kamu tahu sendiri kalau Leo itu anak yang baik dan cerdas.Leo pasti setuju dengan rencanaku hahaha,”gelak tawa Susi berderai saat perjodohan ini juga disukai oleh ibu Karin.Dan Susi juga sangat yakin kalau dewasa nanti Leo juga akan menuruti permintaannya.


“Baiklah.Apapun keputusanmu adalah yang terbaik untuk anak kita.Dan terima kasih sudah mau menjaga Karin jika aku keluar daerah.Kamu tahu sendiri enam bulan kedepan aku akan semakin sibuk mengurus bisnis pakaian yang sedang kujalani”


“Tak masalah bagiku.Karin anak yang cantik dan baik hati.Aku malah menjadi kangen kalau gadis itu jarang datang kesini”


****


“Sartika tidak akan setuju jika aku menikah lagi dengan siapapun termasuk dengan Karin,”kata Leo pada Anita.


“Apalagi sekarang Anita sedang hamil”


Leo memandang dikejauhan menunggu Sartika pulang dari pasar.


“Lah….kenapa kamu membiarkan istrimu yang sedang hamil pergi kepasar seorang diri?”tanya Anita heran dengan kelakuan adiknya.


“Tadi pagi aku menemani mama jalan pagi jadi Sartika pamit untuk ke pasar karena bahan untuk dimasak sudah habis didapur”


“Oh….ya aku lupa .Kemaren harusnya sudah belanja”


“Kak Anita belum menanggapi tentang permitaan mama tadi.Tolonglah kak.Bilang sama mama kalau tidak mungkin aku akan menikah dengan Karin..Ahhhh”


“Hah serius?? Kok bisa,”anita pura-pura linglung didepan Leo.


Anita menganggap keinginan ibunya hanya permintaan merajuk saja.Mungkin beliau merasa Leo adalah miliknya seorang. Memang dari dulu Leo anak kesayangan mamanya.


“Kakak jangan pura-pura lupa. Huh,”dengus Leo kesal pada Anita yang enggan membicarakan perjodohannya dengan Karin.


“Aku harus ngomong apalagi.Satu sisi aku tak mau mama jatuh sakit jika permintaaanya tidak dikabulkan sedangkan satu sisinya lagi kasihan juga dengan Sartika harus menghadapi kenyataan seperti ini”


“Memangnya mama minta apa hingga dibanding-bandingkan denganku “


Tiba-tiba Sartika muncul dihadapan mereka sambil menjinjing barang belanjaan.


“Sudah pulang rupanya,sayangku.Kenapa kepasarnya lama sekali?”Leo menyambut Sartika lalu mengambil barang belanjaan untuk dibawa ke dapur.


Sartika memandang Anita menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan.


“Ah,sudahlah.Tidak penting.Ayo kita memasak buat makan siang,”kata Anita sembari menarik tangan Sartika.


“Sartika…mama ingin bicara,”kata Susi ketika keluar dari kamar.Anita hanya diam dan meninggalkan Sartika dan mamanya diruang tamu.


“Baiklah,,,Mama mau membicarakan apa?Sartika akan mendengarkannya,”ujar Sartika dengan sopan.


“Kamu pasti mengerti bahwa Leo adalah segalanya bagiku.Sebagai anak bungsu kebanggaanku jadi begitu besar harapanku pada Leo untuk menjadi anak yang berbakti”


“Ya,Ma.Aku mengerti,”kata Sartika.


Bukankah sebentar lagi Dia akan menjadi seorang ibu.


“Sejak dulu aku ingin menikahkan Leo dengan Karin.Selain menurunkan silsilah keluarga kami.Karin sudah kuanggap sebagai menantuku saat mereka masih kecil”


“Apa???!!!”tiba-tiba kewarasan Sartika hilang seketika.


Bersambung