Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 24.Penyesalan



Setelah acara selesai semua tamu undangan kembali pulang kerumah masing-masing.Begitu juga dengan Sinta dan Anton serta Indah. Membeli tiket pulang pergi memudahkan mereka untuk kembali ke kota esok dini hari.Walau terasa letih seluruh badan tapi mereka sangat puas sudah hadir di pernikahan


Sartika dan Leo.


Tak terasa ketika kapal yang mereka tumpangi sudah menepi di dermaga. Seorang penumpang lain yang duduk disamping ,membangunkan Sinta yang


masih terlelap. Dengan mata yang masih mengantuk Sinta membangunkan Anton serta


Indah.Setelah itu langsung menuju kantor tempat mereka bekerja. Berbeda dengan


Indah yang sudah minta izin tidak masuk kuliah hari ini.


“Kepala Indah pusing habis begadang semalam. Kak Sinta bisa-bisanya nyanyi sampai pagi padahal mau kerja. Nggak capek  kak?”tanya Indah heran dengan Sinta yang


masih ngotot berangkat bekerja.


“Capek sihhh…tapi mau gimana lagi. Daripada kena recokin pimpinan bakal lebih panjang urusannya,”jawab Sinta sambil menguap.


“Kalau capek lebih baik izin aja .Biar aja aku yang tetap kerja. Gampang,,nanti aku yang izinin sama bos dengan alasan kamu sedang sakit. Kan memang benar kamu lagi pusing.bos pasti bakalan ngerti. Percaya deh sama


aku,”Anton kasihan sama Sinta yang kelihatan lemas sekali. Walau sebenarnya kondisi Anton juga kurang fit.Tapi lebih baik Dia paksakan bekerja.Anton tak mau Siska bertambah curiga.


Indah jadi salah tingkah dengan perhatian yang diberikan Anton pada Sinta. Indah merasa Anton terlalu berlebihan terhadap Sinta. Belum


sampai tempat kosnya Indah menghentikan taxi yang mereka tumpangi.


“Kok berhenti disini?”tanya Anton pada Indah.


“Indah mau beli sesuatu dulu,”kata Indah pergi meninggalkan Anton yang masih merasa heran.


“Kenapa lagi dengan tuan putri?ya udahlah kalau gitu hari ini aku nggak kerja.kepalaku benar-benar pusing karena kurang istirahat


ditambah lagi kena angin laut,”kata Sinta memegangi kepalanya yang semakin


cenat cenut.


Anton mengangkat kedua bahu menanggapi pertanyaan Sinta. Ia tahu yang dimaksud Sinta dengan sebutan tuan putri pasti pujaan hatinya


,Indah.Anton menghela napas panjang.Walau Indah adalah hal yang terpenting


dalam hidupnya namun Anton membiar kan Indah sendiri dulu terlebih gadis itu pasti cukup letih seharian bepergian jauh.Lagipula kantor juga hal yang terpenting  karena menyangkut masa depannya dengan Indah.


Anton turun dari mobil lalu memasuki  halaman kantor dengan berjalan kaki. Langkahnya


sedikit lambat dan kurang bersemangat.Sedangkan Sinta melanjutkan tumpangan menuju rumah kontrakannya.


Seperti biasa setiap minggu pertama ada rapat dikantor yang diikuti oleh seluruh staff.Anton terpaksa mengikuti rapat dengan mengantuk. Sampai diakhir rapat Anton menghadap Siska


yang tidak puas dengan hasil rapat. Ia pun memanggil Anton khusus keruangannya.


“Kamu kenapa hari ini tidak focus pada meeting tadi.Saya lihat kamu hampir tertidur .Saya harap kamu lebih professional dalam bekerja sebab perusahaan ini bukan milik orang tua saya apalagi kamu,”kata Siska tenang namun menusuk tepat dijantung Anton.


“Maafkan saya buk,berhubung semalam salah satu kerabat saya mengadakan pesta.Tak mungkin saya tidak membantunya,”kata Anton dengan nada yang tertahan.Anton menahan sakit hatinya terhadap Siska yang tidak pernah


memberi toleransi sedikitpun pada karyawan.


Siska berdiri melipat tangan di dada menunggu  tanggapan Anton.


“Baik bu,terimakasih sudah memberikan kesempatan kepada saya,”kata Anton mengalah. Ia ingin menyelesaikan pertemuan ini dengan cepat dan segera kembali kemejanya.


“Ada yang ingin saya sampaikan lagi. Ini mengenai rekan kerja kamu yang baru saja bergabung. Bukankah hari ini Dia sudah masuk karna cutinya sudah habis?”


“Maksudnya Sartika?Sssst…Sar…Sartika saya tidak tahu bu,”jawab Anton gagap. Ia tak menyangka Siska akan menanyakan Sartika dan tidak tahu kalau Sartika harus masuk bekerja hari ini.


Siska merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Anton .


Dan Ia sungguh tidak menyukai itu. Siska ingin seluruh karyawan yang bekerja padanya memiliki sifat jujur dan dapat dipercaya. Siska


akan terus mendesak Anton untuk berterus terang.


“Saya sudah tahu yang sebenarnya tentang Leo maupun Sartika. Mereka tidak mungkin tidak punya hubungan,”kata Siska lagi sambil berjalan kemudian duduk dikursinya.


“Saya yakin Leo saat ini ingin keluar dari pekerjaannya dengan jalan pintas.Terakhir kami berdebat  setelah itu Leo tak pernah kembali,”ujar Siska menulis sesuatu disebuah kertas kecil.


Ada penyesalan dari kata-kata Siska yang didengar oleh Anton mengenai Leo. Terlihat sekali bahwa wanita ini sangat mengharapkan kedatangan Leo .


“Aku hanya butuh waktu untuk mengenalkan Leo dengan keluargaku tapi Dia belum mengerti dan meninggalkan kenangan kami begitu saja.Jadi aku berfikir pasti ada orang lain diantara kami,”tak terasa air mata


Siska menetes perlahan di pipi.


Anton tak bergeming. Ia tak ingin melanggar kepercayaan pada Leo tentang merahasiakan pernikahannya pada siapapun. Kendati  suatu saat mereka akan mengetahuinya cepat


atau lambat. Begitu juga dengan Siska.Wanita ini begitu pintar untuk tidak


mengetahui kabar tersebut.Apalagi Sartika juga telah menghilang.


“Kamu harus bilang padaku bahwa wanita lain itu adalah Sartika,bukan?”tanya Siska dan menatap tajam pada Anton.


“Atau aku akan mencari tahu sendiri kemana mereka berdua pergi,”tambah


Siska berharap Anton memberi  dukungan


padanya.


“Sebaiknya lupakan saja mereka. Mereka sudah tenang dengan kehidupan yang baru.Percuma saja mencari tahu tentang mereka sebab anda pasti akan kecewa,”jelas Anton. Memang benar adanya begitu,tak usah ditutupi lagi


Sartika dan Leo sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Jika Siska mulai


mencari tahu keberadaan mereka pasti akan mengganggu keluarga Sartika.Anton tak


sampai hati melihat  orang tua Sartika tersakiti gara-gara ulah Siska.


“Jadi benar kamu tahu kalau mereka ada hubungan kekasih?”tanya Siska pada Anton dengan berurai airmata.


“Pakai intuisi dan logika saja.Coba fikir kenapa secara kebetulan Sartika dan Leo bersaman cabut dari kantor ini”


Tangis Siska semakin pecah. Ia lupa tentang wibawa di depan bawahan karena hatinya benar-benar terluka bahwa Leo telah meninggalkannya demi wanita lain. Anton melangkah pergi dan meninggalkan Siska sendiri dengan tangisannya.Siska butuh ruang dan waktu  untuk memulihkan kondisi nya yang sedang drop.


Bersambung