
Anita segera membawa ibunya kerumah sakit menggunakan ambulance. Leo dan Sartika menyusul dengan motor milik Ahmadi.
"Nanti Leo kesini lagi jemput Papa. Sekarang Leo antar Sartika dulu biar bisa temani Kak Anita disana, " ujar Leo pada Ahmadi.
"Hati-hati dijalan. Tak usah buru-buru bawa motor, " pesan Ahmadi sambil melambaikan tangan pada Leo yang sudah melesat dengan motornya.
"Leo, " Sapa seorang wanita ketika mereka baru sampai.
"Karin, " balas Leo.
"Tante Susi masih diruang ICU. Mari ikuti aku, " ajak karin tergesa-gesa.
Sartika memperhatikan wanita yang baru saja menghampiri mereka. Sepertinya Karin adalah kenalan dekat keluarga Leo. Lihat saja cara Karin memperlakukan Leo. Terlihat sangat akrab dan tanpa sungkan menarik tangan Leo.
Sartika mengikuti mereka dari belakang. Karin pasti salah satu tenaga medis dari rumah sakit ini. Jubah yang dipakainya sangat meyakinkan kalau karin seorang dokter.
Leo memperhatikan ibunya yang terbaring diatas ranjang. Susi tertidur pulas setelah ditangani oleh seorang dokter jaga.
"Bagaimana mama saya, Dok? "
"Keadaan ibu anda sudah mulai membaik. Tidak ada yang terlalu dikhawatirkan. Hanya kakinya sedikit lecet karena terjatuh"
"Syukurlah.. " ujar Anita lega.
"Kapan mama bisa pulang? " tanya Leo pada Karin yang kebetulan berada di sampingnya.
"Sebaiknya Tante Susi untuk sementara waktu dirawat inap saja. Tunggu rasa trauma nya menghilang, " jawab Karin.
"Usul yang bagus. Kamu memang paling pintar, Karin. Mama biar tenang dulu disini, " ujar Anita sambil melihat sinis pada Leo.
Lalu Karin dan Anita pergi menuju ruang administrasi untuk mengurus keperluan rawat inap mama susi.
"Karin itu siapa? " tanya Sartika penasaran.
"Masih saudara jauh dari pihak Papa. Sekarang Dia masih pelatihan. Kalau tidak salah sebentar lagi bakal jadi dokter benaran"
"Ooo pantas, " rasa heran Sartika terjawab atas semua perhatian yang berlebihan karin terhadap keluarga Leo.
"Kenapa? Maaf tadi aku nggak sempat kenalin kamu sama Karin, " Leo merasa bersalah mengacuhkan Sartika.
Seukir senyum akhirnya menghiasi wajah Sartika. Mengerti semua orang sedang mengurus Susi, mamanya Leo. Dia sendiri tidak bisa membantu apa-apa. Hanya bisa ikut dan melihat.
"Ehhh.. "
Susi bangun dan Leo menghampiri dengan suka cita.
"Papa sebentar lagi datang bawa pakaian, sabun mandi serta makanan kesukaan mama. Roti tawar diolesi mentega dan ditaburi sedikit gula diatasnya"
"Bukan kesukaan mama saja tapi kamu juga suka itu, " ujar Susi tersenyum mengingat makanan kesukaan mereka sekeluarga.
"Untung Karin bekerja dirumah sakit ini ,jadi Mama merasa diprioritaskan. Ahh.. andai Karin adalah menantu mama pasti senang sekali rasanya, " mata Susi berkaca-kaca. Sekilas masih ada pancaran pengharapan.
"Uhuk.. , " tenggorokan Sartika serasa ada yang mengganjal dan Ia ingin mengeluarkannya dengan cepat.
Sartika berlari keluar kamar dan mencari arah toilet berada.
"Sartika!, " panggil Leo segera mengejar Sartika.
"Siapa itu, Tante? " tanya Karin yang baru menyadari kehadiran seorang wanita asing.
"Istri Leo namanya Sartika, " potong Anita.
"Hah?! jadi Leo sudah menikah, "kata Karin dengan nada kecewa. Ternyata Leo sudah menikah tanpa sepengetahuan Karin. Bahkan mamanya yang selalu menjodohkannya dengan Leo tidak pernah cerita.
Jujur,selama ini Karin menunggu kehadiran Leo. Setelah sekian lama Karin rindu ingin bermain dan bermanja-manja lagi dengan Leo seperti waktu mereka kecil dulu.
Leo selalu menjaga dan membela jika Karin diganggu anak-anak lain.
"Jangankan kamu. Mamanya sendiri tidak tahu Leo sudah menikah. Entah setan apa yang merasuki anak itu hingga nekat untuk menikahi wanita yang tidak Tante kenal sama sekali"
"Sudahlah.. nanti biar aku jelasin semuanya. Sekarang mama tidak usah pikirin Leo dulu, " Anita mulai cemas dengan kondisi ibunya.
"Benar, Tante. Sekarang Tante tak usah pikirkan yang lain. Leo berada diantara kita saja sudah suatu kebahagian, bukan? " Kata Karin sembari merapikan selimut Susi.
Darah Susi normal kembali setelah sempat melonjak tinggi.
Sartika keluar dari toilet saat dijumpainya Leo sedang berdiri menunggu dekat pintu.
"Kenapa? Apa kamu mual lagi, " tanya Leo cemas.
"Tidak... Eh iya kepalaku sedikit pusing, " Sartika berbohong dan pura-pura memijat kepalanya.
Padahal sejak di dalam ruangan tadi perasaannya tidak enak. Ternyata Karin adalah menantu impian mertuanya. Hati Sartika tersayat-sayat perih.
"Sekarang aku kenalin dengan Karin sekalian kita minta obat sama Dia"
Leo seperti bisa membaca kegalauan yang kini sedang melanda Sartika tapi Leo tidak tahu bahwa yang sakit itu hati bukan kepala. Dan cara ampuh untuk mengobatinya adalah pergi dari tempat ini.
"Nanti saja silahturahminya. Lebih baik mama istirahat dulu, " Sartika tidak mau terjadi kericuhan lagi yang mengakibatkan mama Susi jatuh sakit. Dan Sartika sangat yakin apa yang telah Ia dengar. Bahwa Karin lah yang pantas bersanding dengan Leo. Karinlah menantu impian mama Susi bukan dirinya. Jadi percuma saja Ia muncul dihadapan mama Susi.
"Baiklah.Tapi jangan pulang dulu. Setidaknya tunggu papa datang agar ganti jagain mama, " bujuk Leo.
"Baiklah.Terserah kamu saja"
"Makasih , sayang, " kata Leo sambil mengecup pipi Sartika lembut. Membuat Sartika berdelik geli.
Bersambung