Not Be Mine

Not Be Mine
Episode26. Panggilan Darurat



“Mama sakit apa,Pa?”Leo  balik tanya melalui gawainya.


“Dokter bilang hanya sakit biasa tapi mamamu tidak mau makan sedikitpun. Sudah dua hari ini hanya minum susu satu gelas. Tubuh semakin


ringkih.Papa khawatir sekali dengan mamamu.Papa mohon dengan sangat kamu pulang sebentar. Siapa tahu dengan kehadiranmu disini akan menambah semangat


hidupnya,”ujar Papa Leo dari seberang.


“Iya,Pa.Leo usahakan pulang secepatnya,”jawab Leo.


“Alhamdulillah kalau begitu papa akan beritahu mama. Pasti Dia senang sekali.Sampai jumpa lagi,nak.Assalamulaikum”


“Waalaikumsalam”


“Dari siapa,Yang,”tanya Sartika setelah Leo datang dengan menyimpan handphone disaku celana.


Leo menarik tangan Sartika kekamar.Kali ini bukan untuk bercinta tapi ingin bicara empat mata alias berdua saja.Leo mengajak Sartika


duduk di tepian tempat tidur. Mencium perut Sartika dengan penuh kasih sayang.


“Ada apa sih sayang. Tumben….,”tanya Sartika dengan sikap suami yang tidak seperti biasanya.


“Huffff,,,,aku tak tahu harus berbuat apa?”


“Ada apa?cerita dong sayang,,,,siapa tadi yang


menelpon?apakah Siska menghubungimu lagi. Nggak habis pikir deh sama wanita


itu,masih saja menganggu hubungan kita. Memang tidak cukup apa dengan kita yang


sudah mengalah dan berhenti dari pekerjaan?”Sartika berdiri dan mondar mandir


menahan amarah.


“Bukan itu. Ayo duduk sini lagi,”ujar Leo mengajak Sartika duduk kembali disampingnya.


“Barusan yang telepon aku itu papa dikampung.Beliau kasih kabar  kalau mama lagi sakit keras.Dan minta aku untuk segera ke sana”


“Ooohhh kasihan mama. Kamu harus pulang tengok mama.Aku juga mau ikut. Sekalian ketemu mertua pertama kali,”kata Sartika dengan penuh semangat.


Leo hanya diam dan tak tahu harus mulai dari mana agar Sartika paham dan menerima takdir yang datang dalam biduk rumah tangga mereka.


“Aku hanya sebentar.Setelah mama sembuh aku pasti akan kembali kesini.Lagian tidak baik buat janin dalam kandungan kalau kamu melakukan perjalanan jauh”


“Tidak…tidak…pokoknya aku harus ikut,”Sartika geleng-geleng kepala beberapa kali.Tak ada kompensasi baginya.Apapun  yang  terjadi


Sartika harus ikut.


“Tapi,,,,”


“Tidak ada kata tapi…pokoknya aku mau ikut kemana aja kamu pergi. Aku sanggup jalan kok walau sedang hamil,”ujar Sartika ngotot mau ikut ke kampung Leo.Tak tahu apalagi yang akan disampaikan pada Sartika.Leo tak ingin kata-katanya menyinggung perasaan Sartika yang lagi hamil.


“Baiklah kalau menurutmu itu yang terbaik.Mari kita hadapi bersama walau apapun yang terjadi,”kata Leo dan disambut pelukan erat dari


Sartika. Rasa senang menutupi segalanya. Sartika bahagia akan bertemu dengan


keluarga Leo.Ia tak menyadari apa yang akan terjadi jika bertemu dengan Mama Leo yang tak pernah menyetujui Leo menikah dengannya.


“Mamamu pasti senang kalau mengetahui akan memiliki cucu. Beliau akan menerimaku karena telah mengandung anak dari putra kesayangannya ini,”ujar Sartika mengacak-acak rambut Leo.


Akhirnya Leo tersenyum. Semangat Sartika menular padanya. Dengan harapan yang sama Leo berdoa agar mama menerima mereka dengan lapang dada.


“Apa benar kamu dan bayi kita akan siap melakukan perjalanan ini. Sekedar mengingatkan jalan menuju kampungku itu penuh liku dan tanjakan serta turunan yang curam,”kata Leo sembari mengelus rambut sartika dengan lembut.


“Siapa takut,,,asalkan ada kamu yang selalu


disampingku,sayang”


Leo menatap langit rumah yang belum beratap.Ada satu lubang  kecil yang membiarkan cahaya matahari masuk ke


dalam kamar mereka.Leo membayangkan saat Ia bersama Sartika berada dihadapan Mama.Apa yang harus Ia utarakan pada mama tentang keadaan Sartika. Bagaimana kalau mama tidak pernah mau menerima Sartika menjadi menantunya.Leo paham betul tabiat ibunya yang sedikit keras kepala.Begitulah dia dididik sejak dulu.Disiplin dan harus


selalu menuruti semua perintah mama. Berharap setelah besar nanti seluruh


anaknya menjadi orang yang berguna.Terbukti saudaranya semua memiliki kedudukkan


diperusahaan tempat mereka bekerja.Sekarang Leo meratapi nasib yang sedang dijalani. Leo merasa menjadi manusia gagal serta anak yang tak berbakti kepada orang tua. Apa yang harus dibanggakan nanti jika berhadapan dengan keluarganya.


Pekerjaan tidak ada malah sekarang akan memiliki seorang anak.


Leo menatap wajah Sartika yang tertidur sambil ngangap.Kasihan Sartika bila nanti berada ditengah keluarganya yang penuh tekanan. Sartika sudah merelakan dirinya untuk menjadi istri Leo.Bisa saja kalau Sartika mau Ia menolak pinangan Leo dan tetap bekerja dikota.Namun Sartika mengikhlaskan itu semua hanya untuk berada bersamanya. Sebagai lelaki Leo merasa harus melindungi


Sartika dengan segenap jiwa raga.Leo menyandarkan kepala pada dinding kamar yang berbahan triplek.Kemudian Dia ikut terlelap bersama Sartika hingga mentari terbenam.


Suara azan magrib membangunkan Sartika dan Leo menandakan hari sudah menjelang malam.


Tok…tok…tok…


“Nak,,,sudah mau magrib.Ayo berwudhu dan shalat dulu.Setelah itu kita makan malam sama-sama,”panggil ibu dari luar.


Sartika segera membuka pintu,”Maaf bu,Sartika ketiduran jadi tak bisa bantu ibu di dapur”


“Ya nggak apa-apa.Ibu ngerti pasti kamu kelelahan setelah pulang pergi dari rumah bidan . Harusnya tadi pagi itu diantar Leo dengan motor ,”jawab Ibu sambil berjalan menuju dapur lalu menyiapkan makan malam keluarga dimeja makan.


“Saya mau mengucapkan terimakasih atas segala kemurahan hati dari ayah dan ibu serta adik-adik disini telah menerima saya yang mempunyai banyak kekurangan.


Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan bahwa besok saya akan membawa Sartika untuk pulang kekampung halaman saya,”ujar Leo dengan segala kerendahan hatinya.


Tak sanggup berpisah dengan keluarga Sartika yang begitu disayanginya.


“Hah…kakak mau pergi ya?”tanya Bobon lagi seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Jangan ngomong begitu.Seperti  tidak akan balik lagi kesini. Ayah sudah


mengira ini akan terjadi. Sartika anak ayah akan dibawa oleh suaminya. Ayah dan


ibu hanya bisa berpesan untuk selalu menjaga diri dengan baik. Itu saja,”ujar


ayah.Sedangkan ibu mulai sibuk menghapus airmata.


“Kenapa buru-buru?ibu belum sempat beli oleh-oleh buat keluarga disana,”kata ibu didalam tangisan.


“Tak perlu repot bu. Papa bilang Leo harus pulang karena mama sedang sakit. Jadi secepatnya Leo harus sampai dirumah. Jika besok Leo berangkat dengan Sartika. Lusa baru sampai disana,”jelas Leo  menggambarkan perjalanan darat yang akan mereka lalui.


“Kalau begitu biar ibu siapkan bekal untuk kalian nanti dalam perjalanan. Apalagi Sartika kan lagi hamil mudah-mudahan tidak mabuk dalam perjalanan .Kamu harus minum obat penguat kandungan.Nanti biar ibu pesan sama bu Jarni.Orang hamil biasa beli obat dari Dia,”kata ibu sambil membicarakan tentang


tetangga sebelah rumah yang punya keahlian meramu obat tradisional dengan berbagai


keluhan.


“Memang mama nak Leo sakit apa?”tanya Ayah heran.


“Mama Leo sakit karena merindukan anaknya yang telah lama tidak kembali,”potong Sartika sambil melirik ke arah Leo.


Ayah masih ragu dengan jawaban Sartika. Kenapa mama Leo mendadak menjadi sakit parah.


“Mungkin sebenarnya mama juga rindu dengan mantunya,”jawab Leo mencoba meredakan keraguan ayah.


“Berarti sakit malarindu dong,”jawab Bobon membuat semua orang


tertawa.


Bersambung