Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 18.Menyusul



Malam takbiran sudah berkumandang . Melantunkan suara yang begitu sahdu didengar seluruh penjuru kota. Semua orang menyambut lebaran gegap gempita. Seluruh mall dan pasar ramai pengunjung membeli baju lebaran.


Leo menemani Siska berbelanja keperluan lebaran termasuk pakaian lebaran.


“Harusnya kamu bilang kalau tidak punya uang buat pulang kampung,”kata Siska sibuk memilih baju lebaran.


Nafas Leo tercekat ditenggorokan. Ternyata siska tidak suka berlebaran bersamanya. Harga dirinya jatuh terpental jauh ke dalam jurang.


“Sebenarnya bukan masalah uang tapi aku belum siap tahun ini buat pulang kampung. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu lebaran kamu bersama keluarga,”rasanya Leo ingin menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan Siska.


“Jangan marah.Aku tidak bermaksud menyisihkanmu dari keluargaku. Entah apa omongan mereka nanti jika bertemu dengan kamu dan mengetahui pekerjaanmu. Apa perlu kita bersandiwara saja mengatakan kalau kamu


adalah kepala cabang yang baru,”kata Siska bergurau.


“Siapa bilang aku ingin bertemu orang tua atau kelurgamu. Tahun ini aku memang belum ada niat untuk pulang kampung. Itu saja sudah sangat jelas,”Leo meninggikan suaranya dan terdengar lebih lantang. Ia benar tidak


suka arah pembicaraan Siska yang terdengar seperti mengolok-oloknya.


“Maafkan aku telah menyinggung perasaanmu. Tapi kenyataannya masih sulit bagi kita untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Aku berusaha menjaga nama baik kamu di depan atasan. Aku berharap kamu mendapatkan kenaikan pangkat tahun depan. Bagaimana?apakah kamu menyukainya?”


Leo semakin merapatkan giginya hingga terdengar geraham atas beradu saking geram menahan emosi.Siska belum mengerti juga kalau setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu menyudutkan dan merendahkan kemampuan Leo walau  memang begitu adanya.


“Apakah masih ada yang perlu dibeli. Aku mau pulang,badanku terasa letih,”kata Leo sudah bosan berada disamping Siska. Tak hanya bosan Ia juga sudah mulai muak dengan sikap dan perkataan Siska.


“Hmmmm,,,jangan cemberut  gitu dong sayang,bagaima kalau kita sekarang kesana. Ketempat pakaian pria. Kamu bisa memilih semua pakaian yang kamu suka,”Kata Siska sambil mengapit tangan Leo dan berjalan kearah pakaian pria dipajang.


Leo berjalan dengan malas mengikuti arah kaki Siska berjalan. Hatinya masih kesal mengingat perkataan siska yang dinilainya sengaja menghina keadaan yang sedang dialami leo. Lelaki yang tidak memiliki uang dan


tak punya jabatan ditempat kerja. Itu sama saja menghina hidupnya. Leo tak tahu harus berbuat apa lagi agar mengembalikan kepercayaan diri yang selalu diinjak-injak oleh siska.


Leo  terpaksa memilih baju yang dipamerkan Siska satu persatu padanya.


“Bagaimana kalau ini. Lihat warnanya sangat cocok untukmu,”Siska menyodorkan sebuah kemeja lengan panjang yang berwarna biru langit yang lembut dan menyuruh Leo mencobanya diruang ganti. Tidak hanya sebuah kemeja ,Siska pun menawakan celana panjang dan sepasang sepatu.


“Kamu bisa memakainya saat bekerja. Itu sangat cocok dipakai ke kantor. Kamu bertambah tampan jika memakainya. Dan aku akan bangga berada di sampingmu”


“Omong kosong.Apa bedanya berada disampingku saat dikantor atau ditengah keluargamu. Mereka semua pasti tidak akan suka dengan kebersamaan kita. Jelas –jelas status social kita sangat jauh berbeda”


“Tentu saja beda. Jika di kantor kamu tetap sebagi bawahanku. Apa salah akrab dengan bawahan”


“Oh, ternyata selama ini aku cuma penutup kekurangannmu yang tidak bisa akrab dengan karyawan yang lain. Dan aku baru sadar bahwa ini semua hanya tentang pekerjaan”


“Leo tenang,,,jangan memancing keributan,,ingat kalau malam ini adalah malam takbiran. Malu kalau dilihat orang”


Leo tak habis pikir dan mengeleng gelengkan kepalanya yang tak bisa lagi menerima perlakuan Siska. Leo nekat berdiri dan pergi dari tempat itu. Leo melangkah cepat dan menghentikan sebuah taxi yang hendak ditumpanginya.


Siska merapikan barang belanjaan yang terdiri dari beberapa kantong. Leo tidak membawa pakaian yang tadi dibeli khusus untuknya. Siska menarik nafas panjang melihat barang yang akan dibawanya seorang diri. Dia melangkah ketempat parkir tempat mobilnya berada. Melajukan mobil tersebut menuju rumah Leo. Siska tetap akan memberikan pakaian yang dibeli pada Leo. Sebab ia tidak tahu kepada siapa lagi pakaian baru itu diberikan. Keluarganya tak ada yang seumuran dan seukuran Leo.Siska tiba dirumah Leo namun sepertinya Leo belum sampai dirumah. Melihat pintu kontrakkannya masih tertutup rapat dan lampu belum satu pun yang menyala. Siska meletakkan bungkusan berisi pakaian tadi diteras rumah persis didepan pintu rumah Leo.


Siska pasrah dengan hubungannya dengan Leo. Untuk sekarang tidak ada yang bisa diperbuat. Memperbaiki hubungannya dengan Leo sangat sulit dilakukannya saat ini. Siska memilih kedamaian dalam keluarganya tanpa kehadiran Leo ditengah-tengah mereka. Keluarganya pasti histeris dan semua pasti berkomentar negative terhadap Leo. Jadi biarlah seperti itu sampai acara lebaran selesai.


Siska akan berbaikan lagi dengan Leo ,bagimanapun caranya akan dilakukan Siska.


Leo menyembunyikan diri di sudut tembok dekat rumahnya. Dia baru keluar setelah mobil Siska hilang dalam penglihatan. Leo sengaja turun disebuah warung dekat rumah membeli  rokok dan makanan ringan untuk mengisi lebaran besok. Apalagi yang harus dilakukan selain rebahan . Anton tak bisa lagi diganggu Karena sudah ada indah. Mereka seperti sebuah amplop dan perangko.


Melihat bungkusanyang ditinggalkan Siska di depan pintu.Leo bisa menebak isi bungkusan tersebut.Tanpa memeriksanya ,Leo membiarkan bungkusan tersebut tetap tergeletak ditempat semula.Leo enggan mengambil hadiah pemberian siska. Masih terngiang-ngiang ucapan Siska di mall tadi. Hatinya benar-benar ambyar diperlakukan seperti itu oleh siska.


Paling menyakitkan lagi Leo harus melewati lebaran kali ini seorang diri. Takbir yang berkumandang manambah sesak didada. Kesepian sangat menyiksa apalagi tidak ada seorangpun yang menemani. Andai saja Sartika ada


disini.Pasti lebaran akan sangat bermakna.Leo mengenang saat Dia bersama Sartika. Tidak ada kata saling menyakiti. Terasa tentram berada saat bersama Sartika dibanding saat bersama siska. Walau hanya makan di pinggiran jalan tapi terasa menyenangkan dan romantis.Sedangkan bersama dengan Siska hanya ada sakit hati merasa selalu direndahkan.Tak ada senang atau bahagia sama sekali.


Leo memandang langit-langit kamar. Terlintas dipikiran untuk menyusul Sartika kekampung halamannya .Alangkah sangat menyenangkan bersama Sartika. Dia pasti akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Mengenalkan keluarganya tanpa sungkan.


Tanpa pikir panjang Leo memindahkan beberapa pakaian dari dalam lemari ke dalam sebuah tas ransel. Leo melihat jam dipergelangan tangan kiri. Masih menunjukan pukul empat pagi. Biasanya kapal belum berangkat kalau Ia datang lebih pagi.


Bersambung