Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 36. Hadiah



Pintu rumah kontrakan Indah terkunci. Anton sudah mengetuk pintu tapi tak ada seorang pun yang datang membukanya.


"Indah belum balik dari kampung., mas. Lihat aja lampu rumah tidak ada yang hidup, " kata salah satu tetangga.


Dengan lesu Anton beranjak dari rumah kontrakan itu.


"Indah sayang, dimana kamu sekarang? " tanya Anton dalam hati.


Sebuah mobil taksi berhenti tepat didepan Anton. Tapi bukan Indah yang muncul, hanya orang lain yang kebetulan lewat.


Anton kembali menelan pil pahit kenyataan hidup.


Hanya satu cara lagi untuk mencari keberadaan Indah yaitu menelpon orang tuanya dikampung.


"Hallo, pak. Ini saya Anton. Saya mau bicara dengan Indah. Apakah Indah adalah disana, pak? "


"Ya.Ini dengan bapaknya Indah. Cuma tadi Indah sudah wanti-wanti tidak mau berhubungan lagi dengan orang yang namanya Anton"


"Alhamdulillah.Berarti Indah sudah kembali lagi kekampung"


"Benar sekali. Tapi Indah mengancam jangan pernah coba-coba datang mencarinya kesini"


"Waalaikumsalam, " telepon segera dimatikan sebelah pihak.Anton tercenung menerima kenyataan, sebesar itukah rasa benci Indah hingga tak ingin bertemu dengannya lagi.


Bagi Anton hanya satu kesalahan yang telah Ia lakukan.Benar kata Sinta,seharusnya Ia tak perlu memberi tahu alamat hotel namun kejadian tersebut diluar nalarnya.Tanpa sadar Ia memberi alamat hotel. Andai saja saat itu, Ia tak perlu memberi tahu dengan beribu alasan maka tak akan begini jadinya.


Anton memperhatikan kotak cincin yang baru saja dibeli. Tak akan ada acara lamaran. Malah hubungannya dengan Indah sudah diujung tanduk.


Anton menyipak beberapa batu kerikil yang menghalangi jalannya. Menumpahkan kekesalan yang kini Ia rasakan. sebuah kaleng minuman yang telah kosong juga ikut menjadi sasaran amukannya.


"Sial!! "


Andai ada mesin waktu, Anton ingin mengulang kembali semua peristiwa yang telah terjadi. Anton ingin memperbaiki semuanya.Dan Indah tak perlu pergi.


Namun hanya lagu 'Mesin waktu' saja yang Ia mampu dengar saat ini.


'Tak kan hilang cintaku padamu


Tak kan hilang walau kau memilih pergi'


"Hai, apa kabar? " sapa Sinta saat berpapasan dengan Anton.


"Hmmm.. Aku lelah sekali hari ini. Semalaman ku coba menghubungi Indah tapi selalu dimatikan"


"Kau sudah menghubungi orang tuanya lagi? "


"Tak mungkin. Ayahnya sudah mengancamku agar tidak mengganggu putrinya"


"Aku turut menyesal dengan semua yang telah menimpamu. Andai aku tidak ada,pasti hubungan kalian masih baik-baik saja"


"Sudahlah ini bukan kesalahanmu. Mungkin sudah takdir kami seperti ini"


Anton mengeluarkan kotak cincin dari saku celana. Cincin yang akan Dia berikan pada Indah.


"Ini untukmu saja"


Sinta bingung menatap Anton.


"Maksudmu? "


"Aku tak akan melamarmu. Ini kuberikan sebagai hadiah atas kesuksesan kita, " kata Anton sambil menahan tawa melihat wajah Sinta yang memerah.


"Siapa pula yang ingin menikah denganmu. Huh. Cincin itu terlalu mahal jika hanya sebuah hadiah, " Tolak Sinta.


"Sungguh aku ikhlas memberikannya padamu. Cincin ini akan membuat lukaku semakin menganga"


"Kita tak bisa menebak hati seseorang, bukan? Bagaimana kalau suatu hari Indah berubah pikiran dan kembali padamu. Jadi alangkah baiknya kamu menyimpan cincin itu"


"Andai saja..., " ujar Anton memejamkan matanya untuk berdoa agar itu akan terjadi.


"Jika Indah datang kembali. Aku akan memberikanya sebuah cincin yang baru. Maka cincin ini untukmu saja, " Indra menaruh kontak itu dimeja Sinta.


Sinta melihat kotak tersebut tanpa berkedip. Ia masih heran dengan pemberian Anton. Perhiasan yang sangat mahal untuk sesuatu yang spesial diberikan padanya dengan percuma "


Bersambung