Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 4.Sudah Biasa



Sartika memasuki  kantor dengan wajah yang berseri-seri membuat Sinta menaruh curiga kepada kawan sejawatnya itu.


“Wahhh cerah banget….Pasti tugas dari bos  udah rampung,”sapa Sinta menghampiri meja


Sartika.


Sartika memberikan senyuman penuh arti  pada Sinta. Ingin sekali Ia berbagi cerita dengan Sinta. Ingin mengetahui bagaimana pendapatnya tentang kejadian tadi malam.


Leo masuk bersamaan dengan Anton kedalam ruangan.Mereka tertawa terbahak-bahak tanpa mempedulikan dua pasang mata memperhatikan mereka.Lalu mereka duduk dimeja masing-masing dan melakukan rutinitas seperti biasa. Tidak dengan Sartika yang merasakan suasana yang berbeda. Berulang kali matanya menuju kearah Leo.Namun tidak ada balasan yang sama,bahkan laki-laki itu tak pernah melayangkan pandangannya pada Sartika.


Hari itu sungguh adalah hari yang mengherankan bagi  Sartika hingga waktu istirahat tiba. Leo bersikap biasa saja padanya seakan tidak pernah terjadi sesuatu yang special  diantara mereka. Sartika


tercenung menatap makan siang dihadapannya. Mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi Leo mencium wanita sebelumnya,namun tidak bagi Sartika.


“Lah makan siangnya diliatin aja.Apa  bisa kenyang?”kata Sinta yang menyadarkan lamunan Sartika.


Dengan tidak membantah ucapan Sinta,Sartika menyantap makanannya perlahan seperti orang enggan dan terpaksa.


“Kamu seperti orang yang lagi dilanda masalah berat. Ada apa cerita aja sama aku daripada di pendam sendiri nanti jadi penyakit loh,”Sinta heran dengan perubahan drastis Sartika. Tadi pagi cewek itu sumbringah bahagia tapi tiba-tiba sekarang seperti orang kecewa dan frustasi.


“Apa perkerjaan dari Siska belum selesai atau ada kendala?”tanya Sinta lagi.


Sartika menggelengkan kepala dengan lemah.”Bukan itu. Mendadak kepalaku pusing. Apa hari ini aku bisa pulang cepat?”


Siska meletakkan telapak tangannya pada dahi Sartika. Tidak demam namun wajah Sartika sedikit pucat. Sinta tak bisa mengambil keputusan. Sebenarnya Sartika belum memiliki hak untuk cuti. Tapi perusahaan manapun tak


akan memaksakan karyawannya yang sedang sakit bekerja.


“Kamu pucat sekali, lebih baik istirahat di ruang meeting.Kebetulan disana ada sofa buat rebahan. Nanti kuambil obat sakit kepala dikotak obat,”ajak Sinta ke ruangan yang terletak disamping ruangan kerja mereka.


Setelah mengantar Sartika untuk istirahat dari hiruk pikuk karyawan yang lain. Sinta mengambil obat didalam kotak obat yang ada diruangan kerjanya.


“Siapa yang sakit?”Anton heran melihat sinta datang sendirian.


“Sartika tiba-tiba demam,”jawab Sinta sambil sibuk mencari obat di kotak itu.


Anton dan Leo saling berpandangan. Mereka langsung berdiri berbarengan,”Sartika pasti kecapean tuh kena angin malam kemaren,”ujar Anton menyalahkan sahabatnya dan sekaligus meminta pertanggungjawaban Leo.Berharap


pria itu datang menjenguk Sartika. Sekedar memberikan sedikit perhatian. Bagaimanapun mereka sudah hampir satu minggu menjadi partner kerja.


“Sini biar aku yang kasih obatnya,”Leo meraih selembar tablet sakit kepala dari tangan Sinta dan berjalan kearah ruangan dimana Sartika saat ini berada.


“Maafin aku yah sudah buat kamu sakit. Harusnya tadi malam kamu pulang naik taxi “


Sartika kecewa mendengar ucapan penyesalan yang tidak sesuai ekspetasinya. Andai Leo tahu bahwa kedekatannya tadi malam sudah mengukir kenangan indah di relung hati Sartika.Tapi bisa-bisanya semua itu hanya angin lalu bagi Leo.


“Mungkin karena kecapean juga. Untung tugas dari Bu Siska tinggal sedikit lagi.Jadi kita tak perlu lagi kerja sampai larut malam. Waktu tinggal dua hari lagi sesuai  jadwal yang diberikan bu Siska, jadi biar aku selesaikan sendiri”


Tak ingin terulang lagi untuk kesekian kali terjerumus jeratan godaan dari Leo. Sartika memilih untuk menjauh. Mulai sekarang Ia akan membuang angan-angan tentang Leo. Mudah saja bagi pria itu melupakan apa yang


telah dilakukannya.


Leo mengangguk seakan mengerti yang dirasakan sartika. “Baiklah kalau itu yang terbaik. Mudah-mudahan berjalan dengan lancar. Kalau ada kesulitan aku tetap bersedia turun tangan. Aku kembali keruangan ya,,,nanti


dicariin si bos lagi”


Leo berdiri dan pergi sambil memegang bahu Sartika dengan lembut. Serrr lagi-lagi jantung Sartika berdetak sangat kencang. Sartika memegang dadanya yang sedikit terasa nyeri. Dalam hati sartika berjanji akan menghapus nama Leo dalam ingatannya. Cukup kemaren saja ia begitu dekat dengan Leo.Besok jikalau Ia harus berdua saja dengan Leo,pasti Ia akan menolaknya dengan keras.


Siska masuk dengan wajah prihatin,”Saya dengar dari Siska kalau kamu sakit?Pasti karena mengejar tugas yang saya berikan agar cepat selesai. Baiklah kalau begitu saya kasih waktu sampai minggu depan. Tapi pastikan itu selesai tepat waktu sebab saya tidak bisa lagi minta toleransi  dari kantor pusat”


“Baik Bu,secepatnya saya berikan. Waktunya tak usah diperpanjang,saya akan menyerahkannya lusa,”ujar Sartika dengan meyakinkan. Sebagai karyawan yang baik, Ia tak mau hanya masalah perasaan pribadi  mengganggu perkerjaannya.  Tidak ada gunanya menangisi seseorang yang tidak pernah memikirkannya sama sekali. Sekarang Sartika akan focus mengejar karier dan impian yang telah Ia susun selama ini untuk masa depan.


“Benar kamu tidak apa-apa?”


Sartika mengangguk dengan cepat. Ternyata dibalik sikapnya yang tegas itu, siska adalah seorang atasan yang peduli juga dengan bawahannya.


“Apa selama bekerja dengan Leo dan Anton memberi pengaruh buruk padamu?”


“Nggak bu sama sekali nggak. Mereka sangat baik dan membantu saya menyelesaikan pekerjaan saya,”Sartika terkejut mendengar tebakan Siska. Diluar dari ciuman tadi malam, Leo dan  Anton adalah rekan kerja yang dapat diandalkan.Mereka tanpa lelah dan pamrih selalu membantunya.


Seketika badan Sartika kembali bugar. Perasaan meriang tadi yang sempat ia rasakan mulai menghilang.


“Saya rasa saya sudah sembuh. Kalau gitu saya permisi dulu mau ke ruangan saya untuk bekerja,” Sartika berdiri perlahan dan berjalan dengan langkahnya yang terasa  ringan.


Melihat perubahan sikap Sartika membuat Siska merasa heran. Sebelum Sartika benar-benar keluar melewati pintu, Siska menarik tangannya dan berkata,”Jangan coba-coba bermain  api dengan Leo. Ingat kamu masih karyawan baru disini dan masih banyak yang harus kamu pelajari baik mengenai pekerjaan yang sedang kamu geluti atau lingkungannya”


“Baik,bu. Terima kasih atas nasehatnya”


Sartika tidak suka kalau Siska berbicara tentang Leo. Kelihatan sekali wanita itu cemburu terhadapnya ketika berdekatan dengan Leo. Padahal semula Ia mengagumi Siska yang begitu peduli menanyakan keadaanya tapi dirusak dengan sikap yang terlalu posesif pada Leo. Sartika tidak tahu dan tak mau tahu ada hubungan apa diantara mereka. Desas desus kabar Siska juga sangat dekat dengan pimpinan utama. Walau begitu sartika tidak mau ambil pusing memikirkan berbagai berita miring tentang atasannya. Ia toh belum melihat dengan mata kepala sendiri. Baginya sikap siska masih tahap wajar sebagai sekretaris yang selalu berada di samping atasan.


Bersambung