Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 8. Sebuah Perhatian



Sartika semakin giat bekerja  walau hati terselingi rasa kecewa. Membiarkan seperti


angin berlalu dan membiarkan waktu yang akan menghapus rasa cinta yang pernah singgah dihatinya.Ia bersyukur luka itu tidak sampai bernanah dan terinfeksi  namun hanya goresan yang cukup dalam.Belum menyebar diseluruh organ tubuh sampai lumpuh.


“Aku boleh minta data yang sudah  ku e-mail,”Leo tiba-tiba mendatangi meja Sartika,membuat cewek itu gelagapan  pagi hari saat baru saja tiba dikantor.


“Maaf aku baru saja datang, jadi belum sempat buka email,”Sartika heran kenapa cowok itu begitu tergesa-gesa meminta data yang diperlukan.


“Ups aku yang seharusnya minta maaf.Pagi-pagi udah repotin kamu.Tapi datanya mau kufollow up   hari ini.Pliiis”


Sartika melakukan sesuai permintaan Leo. Betapa dekat tubuh pria itu disamping tubuhnya ,bau wangi khas Leo merasuki alam sadar Sartika ,sejenak Ia terlena.


“Akhirnya ketemu juga file yang dibutuhin.Aku udah cari-cari akhirnya ketemu di sini. Alhamdullilah. Sebagai ucapan terimakasih bagaimana sabtu depan aku traktir”


“Nggak usah ditraktir nanti ada yang marah.Kan kita satu team jadi wajarlah aku bantu. Mungkin besok aku yang butuh bantuan dari kamu.ya nggak,”balas Sartika sambil tersenyum.


“Aku serius sabtu depan aku jemput ya”


Kring..kring…


Sartika mengangkat ganggang telepon dimeja dan mendengar  suara Siska dari sebelah,”Bu


Siska panggil kamu untuk keruangannya,”kata Sartika memberitahu permintaan Siska ditelepon pada Leo. Namun Leo menanggapinya setengah acuh.


“Kapan?”tanya Leo berlagak biasa.


“Sekarang”


Leo segera beranjak dan menuju ruangan Siska.Dengan langkah gontai Ia berjalan. Jelas sekali Leo begitu tidak bersemangat berhadapan dengan sekretaris perusahaan itu. Seperti ada sesuatu masalah yang baru terjadi


diantara mereka.


Sinta yang memperhatikan Sartika dan Leo dari tadi menjadi heran. Tak ayal Ia pun segera menghampiri meja Sartika. Dan pura-pura menanyakan pekerjaan agar tidak terlalu jelas kalau  sedang merumpi diwaktu


jam kerja.


“Leo itu memang seperti magnet bisa menarik siapa saja.Kuakui dulu aku sempat tertarik padanya tapi lambat laun aku pun mundur teratur.Sebab yang menjadi sainganku adalah nyonya Siska. Sekretaris muda penuh talenta dan anggun serta rupawan,seksi mempesona. Aku yakin sebentar lagi karier Leo akan menanjak”


“Leo karyawan yang rajin sudah pantas mendapatkan kenaikan jabatan. Apalagi disini Leo sudah lama bekerja.Eh,tapi ngomong-ngomong benaran kamu ada hati sama Leo,”tanya Sartika tak percaya kalau Sinta terlanjur mengungkapkan perasaannya.


“Sudah aku bilang kalau Leo itu seperti magnet yang bisa menarik siapa saja yang didekatnya.Masih ingatkan prinsip medan magnet,pelajaran esempe kalau nggak salah,”kata Sinta sambil mengunyah permen


mint.


“Trus kenapa perasaan  ‘magnet’ itu bisa hilang begitu saja?”tanya Sartika penasaran dan berniat melakukan hal yang serupa.


“Aku lebih memilih yang pasti-pasti saja. Saat itu pacar aku yang dulu bernama dody bersedia menjadi pelarian. Yah gitu deh lambat laun seperti angin lalu dan rasa itu lenyap begitu saja,”Sinta melambaikan tangannya


jauh kebelakang.


“Dia dimutasi keluar kota dan mendapatkan penggantiku disana.katanya nggak enak sendirian,”mata Sinta terlihat berkaca-kaca.


“Nah loh,,,sakitkan”


“Itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Itu sudah takdir kami tak bisa bersama.Dia akan menikah bulan depan dengan kekasih barunya dikota ini karena keluarganya kan ada disini,”Sinta menghapus air diujung mata dengan jari telunjuk.


“Sudahlah nggak usah diingat lagi.Oh ya lusa Leo mau mentraktirku.Apakah kamu mau ikut?”


“Wowwowowow ada apa ini sebenarnya antara Leo dengan Sartika. Apakah sedang terjadi sesuatu pada magnet  batangan atau magnet bumi,”ujar Sinta melambaikan tangan dan berjalan menuju mejanya. Saat itu Leo baru kembali dari ruangan Siska.


“Awas ya,”Sartika mengepalkan tangannya membalas ledekan Sinta.


Wajah Leo terlihat kesal dan mulai fokus dilayar computer tanpa mempedulikan keadaan sekeliling hingga waktu istirahat tiba Ia tetap pada pekerjaannya.


“Tidak makan siang.Atau mau aku belikan sesuatu ?”Sartika menghampiri Leo. Ia pikir pasti tadi Siska menambah pekerjaan pada Leo sehingga enggan untuk makan siang.


“Leo hanya menggeleng,sebentar lagi aku ke kantin ada sesuatu yang harus kukerjakan,”ujar Leo dengan nada sedikit lemas tak bersemangat.


“Ahhh paling nungguin nyonya besar.Tadi pasti pesannya gini,Leo nanti makan siang bareng ya,”kata Sinta menarik tangan sartika.


“Aku cuma mau bilang ,terserah didengar atau tidak. Jangan terlalu dekat dengan Leo ,kamu tahu sendiri akibatnya,lebih baik cari yang lain.Aku ada kenalan cowok kantor sebelah.kalau ada waktu kukenalin,dekat aja dulu siapa tahu cocok,”ujar Sinta menyeruput minuman es jeruk.


“iya ..iya aku dengerin kok,,,tapi masak kita jauhan sih padahal satu tempat kerja pasti saling terhubung.Apa aku harus  teriak-teriak mau minta data sama kalian karena harus jaga jarak”


“Bukan gitu.Kalau soal kerjaan sok atuh monggo tapi jangan dekat dengan maksud yang lain”


“Jangan-jangan kamu cemburu dan masih suka sama Leo,”Sartika sengaja membuat Sinta kesal sebab temannya itu sudah masuk keranah pribadi walau tujuannya baik. Sinta membalas dengan gelengan kepala berulangkali.Mereka pun berhenti bicara ketika Leo dan Siska masuk kekantin dan duduk dihadapan mereka.Kebetulan Sartika dan Sinta baru selesai makan siang.Lagi-lagi Sinta menarik tangan Sartika untuk berlalu dari hadapan Leo dan Siska.


“Kenapa kalian buru-buru.Waktu istirahat masih lama,”Siska melihat jam tangan dilengan kiri dan lanjut memesan makanan.


“Maaf ,kami harus kembali ada yang mau dikerjakan,”kata Sartika berbasa basi.Sebenarnya memang sengaja menghindar.Tidak mau bergabung dengan  urusan  mereka walau setiap saat hubungan mereka menjadi bahan gunjingan seisi orang dikantor. Begitulah kalau dalam lingkungan yang dipenuhi banyak orang. Jika ada sesuatu yang mencolok  pasti dibicarakan sampai tuntas .


Sartika melangkah pergi meninggalkan Leo bersama Siska,seperti meninggalkan sepotong hatinya. Tak rela melihat mereka bersanding di meja makan milik kantin. Ada rasa cemburu merayap menyisakan garis pilu


diwajah yang  tak bisa Ia sembunyikan.Dan Sinta melihat kesedihan itu dimata Sartika.Susah juga kalau sudah terlanjur jatuh cinta  apalagi  dalam satu ruangan.


Saat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Leo menghampiri Sartika yang telah duduk dimejanya.Leo memberikan sepotong coklat dengan tulisan kecil menempel pada bungkusan.


Aku minta maaf karena sabtu depan tidak bisa menemani akhir pekanmu


Sartika membaca sambil melihat kearah Leo yang juga sedang memperhatikannya.Menunggu sebuah tanggapan. Sartika tersenyum dan mengangguk tanda mengerti dan memaafkan.Leo lega melihat senyum terukir di bibir Sartika. Ternyata lelaki itu romantis juga pikir Sartika. Tapi ia tidak ingin larut terlalu dalam terhadap sikap Leo.


Anggap saja segala perlakuan manis pria itu  adalah sebagai ungkapan biasa dari seorang teman yang telah terlanjur berjanji  namun karena satu alasan tidak bisa menepati.


Bersambung