
Perjalanan yang dilewati Leo dan Sartika memakan waktu yang cukup lama. Agar sampai dikampung, Leo memilih jalur udara dan darat. Untuk menuju kesana mereka menggunakan kendaraan umum selama lima jam dari bandara.
Sartika yang sedang berbadan dua sangat merasakan perjalanan saat ini begitu melelahkan. Kadangkala bagian pinggulnya terasa kram karena kelamaan duduk. Belum lagi rasa mual menyerang. Leo mencoba membantu istrinya dengan penuh kelembutan.
"Tarik nafas lebih dalam terus hembuskan perlahan"
"Huff..Haah... Huek... Huek.., aduh tambah sakit, " Sartika menahan rasa mual hingga membuat kepalanya berkunang-kunang.
"Aku bacanya di gool* begitu. Kalau istri sedang kontraksi yah.. Begitu caranya. Tarik nafas dalam kemudian hembuskan", Leo mulai panik sambil membuka telepon genggam.
" Ini bukan kontraksi, sayang. Tapi lagi hamil muda. Kamu do'ain aku lahirannya sekarang, "Sartika histeris sampai menepuk pundak Leo berulang kali.
" Aduh.. , " Leo meringis kesakitan namun Ia rela jika Sartika memukulnya berulang kali, bila itu bisa meredakan sakit yang kini dirasakannya.
Ditengah perjalanan, rasa mual yang dari tadi ditahan, akhirnya jebol juga. Sartika memuntahkan semua makanan hingga mengenai pakaiannya. Begitu juga dengan Leo yang duduk disamping ikut terkena jipratan muntahan Sartika.
"Stop.. Stop.. Tolong berhenti pak. Istri saya lagi hamil"
Sopir bus yang mereka tumpangi langsung berhenti mendadak. Sehingga semua penumpang terkejut dan menoleh kearah Leo.
"Kenapa..? Mau ngelahirin ya? " tanya salah satu penumpang paruh baya.
"Belum bu... Masih hamil muda jadi lagi mabok berat, " jelas Leo sambil menuntun istrinya turun dari mobil.
Sartika mengeluarkan muntahan yang masih tersisa dikerongkongan. Sedangkan Leo membersihkan bajunya dan baju Sartika dengan handuk basah.
Leo kemudian membersihkan wajah Sartika termasuk mata dan hidungnya. Sartika seperti kehabisan tenaga, muntah sampai mengeluarkan air mata dan cairan di hidungnya.
"Kayaknya aku harus ganti baju deh, baunya melekat bikin aku mual lagi, " Sartika kembali merengek. Tak biasanya Dia begitu. Mungkin bawaan orang hamil, pikir Leo.
" Nanti kalau pak sopirnya nggak mau berhenti, bagaimana? Aku bisa pingsan, nggak tahan sama baunya... Hueee kk.. "
"Kenapa? Masih mual ya?" tetiba ibu yang tadi bertanya ikut turun mendekati Sartika.
"Ingin ganti baju yang kotor karena tadi sempat kena mutahan, " ujar Leo senang dengan kedatangan ibu itu. Setidaknya ada juga yang bisa diajak berfikir mencari solusi atas kepanikan yang kini dirasakannya bersama Sartika.
"Oh, ganti aja di dalam bus nanti saya minta bantu penumpang yang lain nutupin kamu saat ganti baju, "ujar si ibu.
Sartika mengangguk perlahan dan tersenyum. Senang rasanya mendapatkan perhatian dari orang disekitarnya. Dan Leo juga tak kalah bahagia melihat Sartika tersenyum lebar begitu.
" Makasih, bu, "ucap Sartika terharu.
Ibu-ibu yang berada didalam bus tidak hanya membantu Sartika berganti pakaian namun memberikan obat penghilang rasa mual.
" Harusnya kalau lagi hamil muda jangan bepergian jauh. Apalagi ini anak pertama, "celutuk salah satu ibu yang duduk dikursi depan.
Sartika langsung melirik Leo dan memintanya menanggapi pertanyaan ibu tersebut.
Namun Leo hanya geleng-geleng kepala saja. Mengisyaratkan untuk tidak membalas.
" Kalau dijelasin nggak bakal kelar sampai besok, "bisik Leo ditelinga Sartika.
Perjalanan kembali dilanjutkan tanpa harus berhenti kecuali memang waktunya shalat. Kondisi Sartika juga sudah mulai tenang. Membuat Leo akhirnya bisa bernafas lega.
Mereka sampai di kampung tepat dihalaman rumah orang tua Leo ketika malam telah sangat larut.
Bersambung