Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 32.Perkenalan



"Itu papa sudah datang, " Sartika menunjuk pada sosok paruh baya yang sedang berjalan tergesa di Koridor rumah sakit.


"Oh, iya. Ayo kita kesana"


"Kita langsung pulang saja, " pinta Sartika dalam hati.


Sampai didalam kamar tempat mama Susi dirawat. Sartika berusaha tidak menampakkan dirinya dan berdiri dibelakang tubuh Leo.


"Papa tadi naik apa kesini. Leo lupa harus jemput papa, " kata Leo sambil garuk-garuk kepala.


"Ah, kamu papa tungguin tapi nggak muncul-muncul. Untung ada ojek Pak Kirman lewat rumah kita jadi papa naik ojek Dia aja kesini," balas Pak Ahmadi sedikit kesal menunggu jemputan Leo yang tak kunjung datang padahal Ahmadi risau memikirkan kondisi istrinya.


"Maafkan Leo, Pa, " kata Leo .


Kemudian Ahmadi menyuapi roti yang baru saja dibeli pada Susi. Saat semua orang sibuk memperhatikan Susi, Sartika terkejut ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.


Dengan bahasa isyarat Karin mengajak Sartika keluar kamar.


"Aku Karin. Kamu pasti Sartika. Kalau ada waktu aku akan mengajakmu keliling kota. Walaupun, ini kota kecil tapi banyak tempat wisata budaya, " kata Karin pada Sartika.


"Tentu saja aku mau, " Sartika senang seakan secercah cahaya memberinya harapan untuk diterima dalam keluarga Leo.


Karin mengulurkan tangan dan disambut Sartika dengan penuh kebahagiaan.


"Terima kasih Karin. Sudah membuka hatimu untukku, " ujar Sartika dalam hati. Walau yang dirasakannya hanya basa-basi Karin semata.


"Ahh... Kalian disini rupanya, " Tiba-tiba Leo muncul.


"Hahahaha aku curi istrimu sebentar. Habis dari tadi tidak sempat untuk menyapanya"


"Karin ingin mengajakku ketempat wisata, " kata Sartika pada Leo.


"Oh.ya...Kalau mama sudah sembuh kita akan pergi kemana saja kamu mau, " ujar Leo sambil memeluk tubuh Sartika dengan mesra.


"Karin tersenyum kecut melihat kemesraan Leo dan Sartika. Jelas sekali rona cemburu tersirat diwajah Karin.


" Jangan sedih.. Aku juga akan mengajakmu.


Tapi dengan syarat kamu juga bawa pasangan , "ujar Leo pada Karin.


"Aku tidak punya pasangan, " ujar Karin lalu mengatupkan bibirnya dengan rapat.


"Hadeh... beneran? " tanya Leo tak percaya.


Karin membalasnya dengan anggukan namun dalam hatinya berkata, "Aku tak pernah membuka hatiku untuk orang lain selain sama kamu Leo. Telah lama aku mengharapkanmu kembali bersama seperti dulu lagi. Tapi semuanya sia.-sia.Yang tersisa saat ini hanya harapan semu belaka. Kau tak akan pernah menjadi milikku"


"No.. No aku nggak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar barusan.


Apa yang membelenggumu hingga tak punya kekasih. Tak mungkin nggak ada yang mau mendekati kamu untuk jadi kekasih"


Leo tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Karin yang cantik, pintar, menarik serta mudah bergaul dengan siapa saja. Pasti semua pria normal ingin bersanding dengannya. Jadi apa gerangan yang membuat Karin masih sendiri?


"Jadi nggak boleh nih aku ikut kalian? " mata Karin melotot persis kelakuannya saat masih kecil ketika ditinggal Leo bermain.


"Hahaha yaiyalah. Nanti kalau kamu ikut bakal jadi nyamuk antara kita berdua, " ujar Leo sambil mencowel hidung Karin yang bangir.


Sartika melihat kesedihan Karin menjadi tidak tega, "Ikut saja tidak apa-apa kok. Memang kita mau bulan madu, sayang? Harus selalu berdua, " Sartika menggelengkan kepala kearah Leo.


"Disini sudah banyak yang berubah. Nanti kalian tersesat kalau tak ada pemandu yang bebar-benar tahu daerah sini, " kata Karin sambil melipat tangan di dada.


"Eh.. Aku juga putra asli kampung ini. Masa sih kamu lupa, " Leo semakin menggoda Karin yang mengemaskan. Ingin sekali Leo menggendong Karin diatas punggungnya seperti dulu saat Karin mulai merajuk tak mau jalan.


"Kata siapa kamu lahir disini. Bukannya kamu pendatang baru week, " ledek Karin mulai merasa kangen masa-masa bersama Leo.


Karin selalu suka berada di dekat Leo. Dengan Leo lah Karin bisa bermanja-manja. Karena Karin terlahir sebagai anak bungsu dan kakaknya perempuan semua. Ayah Karin adalah seorang saudagar kaya. Hanya satu kali seminggu pulang kerumah mamanya Karin, selebihnya tinggal dengan istri pertama.


Sartika juga ikut tertawa melihat sikap Karin yang lucu.


"Kalau begitu kita saja yang pergi jalan-jalan. Sebab aku tidak mau tersesat loh, " Sartika berpindah kekubu Karin.


"Baiklah.Kalau begitu kita bertiga akan ikut. Aku, Sartika dan pemandu wisata hahaha, " tawa Leo sambil mengucek-ngucek rambut Karin.


Mendengar itu Karin menjadi lega walau kesal dianggap Leo hanya sebagian pemandu wisata.


Bersambung