Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 34. Panggilan



"Yess.Kita berhasil. Akhirnya mereka menyetujui proposal kita, " kata Anton setelah keluar dari ruangan meeting.


"Itu berkat presentasimu yang alot. Mereka tak bergeming sedikitpun hingga akhir, " kata Sinta tak kalah senangnya.


Sinta tak menyangka pekerjaan di sini dapat berjalan dengan lancar dan mulus tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan Ia sendiri sebagai asisten Anton tak perlu turun tangan.


"Tadi benar-benar hebat. Data yang kamu input sangat membantu. Aku jadi lancar dalam penyampaian, " kata Anton dengan mata berbinar menatap Sinta.


"Kita mesti merayakannya, " Sinta tersenyum bangga.


"Sayang hanya kita berdua. Jika dikantor pasti akan rame dan lebih menyenangkan, " kata Anton lirih. Ia tak ingin terperangkap lagi berdua hingga bermain api bersama Sinta.


"Ya.Apalagi kalau ada Indah, " kata Sinta seakan meledek Anton yang mulai merindukan kekasihnya.


"Ayo ditelepon sana ayangnya biar Dia nggak khawatir kamu dengan cewek lain"


"Hehehe sekarang Indah sedang berada di kampung bersama orang tuanya, " kata Anton.


"Kamu yakin Dia dengan orang tuanya? " Sinta mendelikkan mata keatas. Hanya Tuhan yang tahu dimana dan dengan siapa Indah saat ini.


Anton pun terprovokasi dengan ucapan Sinta. Tak tunggu lama, Ia sudah tersambung melalui telepon seluler bersama Indah.


"Hallo sayang"


Sinta senang Anton termakan triknya. Dan Ia menjauh untuk memberi ruang buat Anton agar lebih leluasa menelpon orang yang paling disayangnya itu. Tak diragukan sama sekali kekuatan cinta Anton pada Indah. Walau berada di tepi jurang sekalipun Anton tetap mengingatnya.


"Mas Indra kemana aja. Udah dua hari nggak kasih kabar? "


"Kan mas udah bilang kalau lagi meeting keluar Kota"


"Sendiri atau berdua? "


"Ya ampun sayang. Mas juga udah bilang kalau pergi dengan teman satu kantor"


"Ya udah. Indah kangen sama mas Anton. Sejak mas Anton tak kasih kabar, kok perasaan Indah tiba-tiba nggak enak. Kalau Indah yang telepon duluan takut mengganggu kerjaan mas Anton."


"Eh.. Oh pokoknya kamu tenang aja disana. Nanti kalau mas Anton balik bakal bawa oleh-oleh buat Indah"


"Oleh-oleh apa, mas? Indah tak minta apa-apa. Terpenting saat ini mas Anton sehat dan kita ketemu lagi"


Indah tak ingin dibeliin sesuatu tanpa ada disisinya sebab beberapa bulan lalu Anton membelikan baju mahal dan bermerek tapi Indah tidak suka dengan warnanya. Jadi baju tersebut hanya tersimpan di dalam lemari.


"Pokoknya sesuatu yang spesial. Indah tunggu aja yah"


"Kapan mas Anton kembali? "


Besok Indah harus kembali ke kota dan Ia harap Anton juga sudah ada disana.


"Tinggal satu pertemuan lagi. Berarti lusa kita sudah bisa bertemu"


"Yahhh.. "Indah kecewa membayangkan tiba nanti, satu hari akan menjadi sepi.


" Sabar dong sayang "


"Oke deh. Tapi mas Anton harus janji nggak boleh macam-macam selama di sana"


"Tentu saja, sayang. Mas Anton hanya cinta sama Indah seorang"


"Indah juga sayang banget"


"Sama mas Anton lah hehehe"


Sejak itu handphone tak pernah lepas dalam genggaman Anton. Seakan tak ingin berpisah dengan suara Indah.


Sinta hanya bisa tersenyum dan menyaksikan Anton. Hingga tengah malam, temannya itu tetap setia menelpon Indah.Entah apa yang mereka bicarakan. Kadang terdengar suara tawa Anton yang bikin gaduh membuat tidurnya terganggu.


Akibatnya esok hari Anton jadi telat bangun.


"Kenapa tidak membangunkanku" Anton terkejut melihat jam dinding dikamar. Setengah jam lagi mereka harus berada diruang meeting.


"Aku juga telat, " jawab Sinta merapikan rias wajah dicermin.


"Sebaiknya kamu ke ruang meeting lebih dulu. Persiapkan segala sesuatunya jadi saat aku tiba disana langsung tinggal landas."


"Masih bisa bercanda pada saat seperti ini. Baiklah aku akan segera kesana. Tapi jangan sampai telat, key? "


Anton menutup rapat dengan baik seperti hari kemarin.Hari ini adalah hari terakhir pertemuan kerja sama perusahaan. Selanjutnya akan ada sebuah proyek promosi penjualan yang diambil alih perusahaan Indra dan Sinta.


"Hufff... Selesai juga perjuangan kita disini. Aku sudah menelpon kantor. Mereka senang kita berhasil dan pulang tidak dengan tangan kosong, " ujar Anton pada Sinta.


"Sebelum kembali ke rutinitas esok hari. Masih ada sisa waktu buat refresing dikota ini, " kata Sinta mulai membayangkan tas yang sudah lama diinginkannya.


"Kamu pasti akan berbelanja di mall. Kalau begitu aku ikut. Aku mau beli hadiah spesial buat Indah"


"Kamu akan membeli apa buat Indah? " tanya Sinta penasaran.


"Aku akan melamar Indah. Jadi aku membutuhkan cincin. Maukah kau membantuku mencari cincin yang bagus dan cocok untuk melamar seorang gadis? "


"Benarkah? Nah itu baru lelaki sejati. Berani melamar anak orang. Tak baik menggantung cinta terlalu lama.Jangan berikan celah sedikitpun pada suatu hal yang akan merusak hubungan kalian, " ujar Sinta lalu terdiam. Sinta tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya pada Anton setelah kejadian malam pertama tiba dihotel ini.


"Ehm.. Aku harus kekamar dulu buat ganti pakaian, " kata Sinta segera berlalu dari hadapan Anton.


"Aku akan menunggumu di lobi, " kata Anton tersenyum simpul.


****


"Apakah disini jual cincin untuk lamaran? "tanya Sinta pada seorang penjual outlet perhiasan di mall.


" Ada, . Ini cocok sekali untuk kalian berdua, "kata sang penjual sambil memperlihatkan beberapa perhiasan cincin dalam kotak.


" Bukan buat aku, " kata Sinta.


"Tapi buat Bapak ini dengan kekasihnya, " jelas Sinta menunjuk Anton yang duduk disamping.


"Anggap saja begitu. Aku percaya pilihanmu pasti sama dengan pilihan Indah, " kata Anton.


Lima menit kemudian Sinta menemukan sepasang cincin lamaran yang sangat menawan hati. Dan Anton juga menyukainya.


Setelah itu mereka melanjutkan belanja tas yang diinginkan Sinta.


"Sudah tiga kali putaran di mall ini namun tas yang kamu inginkan belum juga di dapat. Ck... Ck.. Ck.. " keluh Anton yang kakinya mulai terasa pegal.


"Aku juga heran mall sebesar ini tapi tak ada yang menjual tas merek L*.Kalau gitu ayo kita pulang, " ujar Sinta gusar.


Bersambung