
“Akhirnya selesai juga. Nih,tolong kasih sama nyonya besar ,”Sinta memberikan lembaran kertas yang ada didalam map.
“Kenapa tidak diserahkan sendiri,”Sartika ingin melihat reaksi Sinta bila lebih lama dikantor. Hari yang sudah mulai gelap memaksa Sartika untuk bertahan.
“Alaaaah ,pasti ujung-ujungnya aku disuruh pulang duluan. Lagian tadi cuma bilang sama kamu, jadi titip aja sekalian sama kamu ya,plisss,’”Sinta memelas.
“Ya,udah,”Sartika tersenyum,berhasil juga ngerjain Sinta.Seingat Sartika bu Siska meminta hasil kerja Sinta lewat Dia. Terkadang beruntung banget diposisi Sinta . Sinta tak harus selalu berhubungan langsung dengan Siska.Terasa ribet banget saat berhadapan dengan atasan.
“Belum balik?”tanya Sartika saat melewati Leo.
“Sebentar lagi. Ada yang perlu kukerjakan ,”Balas leo.
“Ck ..sejak kedatangan wanita itu kita terpaksa kerja lembur. Luar biasa,”keluh Sinta sambil berlalu pergi meninggalkan kantor.
Sartika berlalu meninggalkan Leo seorang diri dikantor yang tidak ada penghuninya lagi.Sartika mulai curiga Leo yang belum pulang. Apa Leo akan pulang besama Siska atau menunggunya. Sartika menarik nafas dan membiarkan pikiran itu hilang. Masuk keruangan Siska dengan perasaan tak menentu. Ia ingin segala pekerjaan yang telah dilakukan selesai hari ini juga tanpa ada revisi.
Siska membolak balikkan lembaran kertas yang tadi diserahkan Sartika.
“Saya belum selesai membacanya secara menyeluruh. Mungkin besok saya beri tahu hasilnya”
Sartika mengangguk pelan. Mengerti dengan keputusan yang diucapkan Siska.Bagaimana pun Sartika merasa cukup lega ,akhirnya hari ini bisa pulang dengan tenang. Membuang perasaan khawatir akan esok hari. Sekarang untuk sekarang dan besok untuk besok.
“Sebenarnya saya ingin bicara dengan kamu empat mata. Kamu harus jujur dan tidak ada yng disembunyikan dari saya,”Sinta berdiri tepat didepan Sartika. Mereka hanya berjarak satu meter.
“Kamu mengerti?”tanya Siska mebuat Sartika tersadar dan mengangguk cepat.
“Baik,Bu”
“Kamu tahu hubungan saya dengan Leo. Kami sudah sangat dekat. Saya tak mau seorang pun menganggu hubungan kami.Tapi hari ini saya merasakan sesuatu yang berbeda dari Leo. Dia sedikit berubah,sudah mulai berani menolak saya. Saya curiga ada seorang wanita dibalik perubahan Leo”
Dibalik ketakutan Sartika mendengar Siska bicara ada terselip rasa senang. Ternyata Leo mencoba untuk menjauhi Sinta dan lebih memilih bersamanya.
“Kira-kira kamu tahu siapa wanita tersebut?”
“Sa..ya…tidak tahu,Bu,”entah bagaimana lagi menghadapi situasi yang sulit saat ini selain berbohong demi kebaikan.
“Baiklah.Jika kamu melihat sesuatu atau mendengar selentingan dengan siapa Leo dekat saat ini.Tugas kamu adalah memberitahu saya,”Siska menghentikan pembicaraan yang tidak ada hasil. Rasa kasihan melihat
wajah Sartika yang pucat membuat siska membiarkan wanita itu pulang ke rumah.
Hari yang sudah terlanjur malam memaksa Siska juga untuk kembali.Tak ada waktu istirahat baginya hari ini.
Sartika melihat Leo masih duduk dikursi mejanya.Melihat wajah Sartika yang pucat,leo segera menghampiri.
“Bagaimana pekerjaannya sudah selesai?kita sudah bisa pulang ,”tanya Leo cemas. Khawatir Siska dengan kekuasan yang dimilikinya berhasil menekan perasaan Sartika.
Leo hanya mencemaskan sesuatu buruk akan terjadi pada diri Sartika. Bisa saja tadi Siska menyerangnya habis-habisan. Ternyata Sartika keluar masih dalam keadaan baik-baik saja.Leo pun merasa lega semua tidak
seperti bayangannya tadi. Dia sengaja menunggu Sartika untuk melindungi dari amukan Siska.
“Ayo kita pulang. Aku antar sampai ke rumah. Hari sudah malam takut tidak ada angkutan umum yang lewat”
“Tidak apa-apa. Aku pulang sendiri saja. Aku masih bisa memesan ojek online.Aku tak mau berurusan lagi dengan Siska gara-gara kamu selalu mendekati aku. Dia mulai mencium hubungan kita. Walau kita hanya sebatas
teman,aku percaya Siska tidak suka kalau kita dekat.Pergilah!”Sartika mendorong tubuh Leo agar menjauh. Ia mengambil tas dan melangkah dengan cepat meninggalkan Leo seorang diri.
Leo mengejar sampai keluar dan tetap mengikuti Sartika yang terus berjalan. Leo mengambil sepeda motor
dilapangan parkir dan mengiringnya mengikuti kemana Sartika pergi.
“Ayolah naik saja biar aku antar . jalanan sudah sepi,tak mungkin aku meninggalkanmu sendiri,”kata Leo dari atas motor setelah berhasil berada disisi Sartika.
“Cukup Leo. Pergilah dari sini. Kalau Siska melihat kita bisa berabe urusannya. Apa kamu mau dipecat!”teriak sartika pada Leo.Menumpahkan kekesalannya hingga sengaja berhenti dan memandang Leo yang
kesusahan menarik motor.
“Biar saja dipecat. Aku mau cari pekerjaan baru saja agar memiliki kebebasan memiliki kamu”
“Jadi menurut kamu kalau kamu pergi dan mencari pekerjaaan ditempat lain apa semua masalah akan selesai. Siska sangat mencintai kamu Leo, terima saja agar masalah ini cepat selesai. Terus terang aku tidak suka
mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Jadi cukup sudah hubungan kita . lebih baik kita jaga jarak”
“Apa kamu rela aku bersama dengan Siska. Baiklah kalau itu maumu.Aku akan bersama Dia lalu menjalin hubungan yang serius hingga siap menjadi tunangannya. Tapi biarkan malam ini aku mengantarmu pulang”
Air mata sartika tumpah. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Bagaimana mungkin ia rela jika Leo bersanding dengan Siska. Membayangkannya saja telah menyakiti hatinya apalagi kalau itu menjadi kenyataan.
Leo meninggalkan motor yang tegak ditengah jalan sepi dan menarik Sartika untuk ikut bersamanya.Sartika menuruti Leo untuk ikut bersamanya. Mereka tidak langsung pulang kerumah tapi berhenti disebuah tempat minuman bandrek yang berjualan ditepi jalan.Leo membeli minuman tersebut agar tubuh Dia dan Sartika lebih hangat. Pasti udara dingin telah memasuki tubuh yang dari tadi bekerja keras.
Mereka hanya diam sambil menikmati minuman. Mata sembab Sartika tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sartika merasa inilah saat–saat harus berpisah dengan leo. Dua minggu yang lalu dan hari ini akan menjadi kenangan yang tak mungkin dilupakannya bersama Leo.
“Aku ingin kita berhubungan sebatas teman biasa. Aku akan menganggapmu hanya rekan kerja dikantor. Begitu juga denganmu,bersikaplah pada ku seperti biasa. Siska lebih mencintai kamu dari pada aku,”Sartika memalingkan wajahnya kearah jalan. Dia berbohong pada leo maupun pada diri sendiri.
“Baiklah. Kalau itu jalan yang terbaik aku akan memperbaiki hubunganku dengan Siska. Tapi kamu janji padaku kalau kamu akan menjadi lebih baik atau bahagia dai sekarang. Aku tidak mau kamu menangis lagi,”Leo mengulurkan tangannya kewajah Sartika untuk menghapus air mata yang ada disana. Sartika membiarkan tangan leo menyentuhnya dan membiarkan air mata tiba-tiba jatuh lagi di pipi.
“Jangan pedulikan aku lagi. Bahagia atau tidak bahagia bukan urusan kamu ,”Leo serta merta menarik tangannya. Sartika berdiri dan hendak cepat pulang. Ia ingin cepat sampai di rumah dan istirahat.Ingat,besok masih harus kembali bekerja. Bersiap menerima kejutan lain yang akan diciptakan oleh Siska.
Leo mengantar sampai Sartika sampai di rumah. Mereka berpisah tanpa sepatah kata.
Bersambung