
Anton,Mario ,Mark dan Leo berkumpul pada malam sabtu. Mereka akan membicarakan rencana akhir pekan besok di tempat biasanya mereka sering nongkrong yakni di café D’prizo.
“Aku lihat Sartika sering melirik sama kamu,”ujar anton pada Leo.
“Iya, aku juga melihat tatapan Sartika yang tajam ke arahmu,”Mario ikut nimbrung.
“Itu kan hanya perasaan kalian saja,”Leo menekan joy stick yang sedang Ia pegang. Leo sedang kosentrasi dengan permainannya .
“Benaran kamu tidak peka. Jujur aja. Aku sebenarnya pingin dekatin Sartika tapi…,”Mark memainkan dawai gitar yang sedang Ia petik.
Leo mengangkat kedua bahu. Baginya sartika teman kerja yang cantik dan ayu. Senyumannya cukup manis untuk membuat semua mata tak ingin beralih menatapnya.
“Menurut aku Leo cocok sama Sartika. Tunggu apa lagi sih Leo. Langsung aja diembat dari pada keduluan Mark kan bisa berabe. Dona di
kemanain . Kasihan anak orang sudah dihamili ditinggal begitu aja,”kata Mario yang sibuk dengan handponenya.
“Hei…!jangan ikut campur lah. Kenapa nggak lo sendiri yang jadian sama tu cewek,"ujar Mark sengit. Ia tak suka dipatahkan langsung hatinya.
“Gue bukannya ikut campur. Gue hanya kasih jalan sama Leo yang jomblo ditinggal terus sama Siska. Dari pada sama Siska kan mendingan sama Sartika. Jelas kelihatan belangnya setiap hari. Coba kalau Siska. Kita kan nggak tahu kalau Dia lagi cemceman
dengan bos. Lagian kalau gua jadian ama Sartika, Tuti pacar gue mau dikemanain.
Gue jelasin lagi ya Sartika itu sukanya ama Leo,”kata Mario panjang lebar pada Mark. Keduanya mulai emosi.
Leo tidak memepedulikan ucapan Mario barusan.Leo dan Siska belum pernah jadian. Hanya dalam tahap pendekatan. Tak lebih dari itu. Memang jika setiap Siska berada dalam kota, cewek itu selalu mengajak Leo jalan-jalan kemana aja Siska ingin pergi. Tapi Leo tak pernah menganggap Siska menjadi kekasihnya.
Hari itu Sartika mengenakan pakaian yang feminim. Membuat Sinta tak hentinya berdecak kagum.
“Kalau dandan begini kelihatan kalau kamu itu cantik banget,Tika. Aku aja pangling bagaimana dengan para lelaki itu ya hihihi,”Sinta berputar mengelilingi Sartika yang berdiri sambil bergaya bak model.
“ Ayo kita berangkat. Aku nggak sabar melihat tanggapan orang-orang kantor itu nanti,”Sinta menarik tangan Sartika memasuki mobilnya yang sedang diparkir di halaman rumah Sartika.
Sampainya ditempat yang telah disepakati . Sartika dan Siska menghampiri meja tempat yang telah ditunjuk resepsionis tadi. Di sana sudah ada rekan kerja mereka duduk menanti pesanan.
“Aku bertaruh satu juta kalau Sartika akan menerima Leo jadi pacarnya,”kata Anton yang tidak menyadari kehadiran Sartika dan sinta.
“ Aku ikut,” Mario mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi.
“ Kamu gimana Leo berani bertaruh nggak ?bisa dapatkan sartika hahahha”
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu kehadiran Sartika yang berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah dan malu sekaligus.
“Apa-apan sih kalian!!!” Sartika teriak sebelum Leo menaggapi ucapan teman-temannya. Sartika melihat gelagat Leo yang seakan ikut
menikmati permainan ini. Sartika langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Hatinya benar-benar kecewa. Semua orang yang telah dianggapnya teman seakan berkhianat.
Esok hari Sartika tetap masuk kerja . Tak ada alasan baginya minta pengajuan cuti apalagi mengundurkan diri . Ia ingat begitu susah mendapatkan pekerjaan apalagi ditempat ini. Dengan wajah semberaut karena semalam tidak tidur memikirkan yang dialaminya. Jelas saja Ia kecewa dan juga frustasi. Ternyata orang yang Ia anggap baik telah
menyakitinya. Untuk apa mereka memasang taruhan kalau tidak untuk mempermainkannya. Sartika membanting peralatan make up ke lantai dengan keras.Hingga berserakan di lantai.
Dengan langkah gontai Sartika memasuki ruangan tempatnya bekerja. Ia tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang tertuju padanya.Anggap saja mereka lalat yang sedang mengerumuni makanannya. Itulah balasan bagi mereka yang telah dengan curang menjadikannya sebuah taruhan. Kata Sartika dalam hati.
Satu hari ruangan sunyi senyap dan sepi tak ada yang bersuara. Keheningan ini adalah bentuk penyesalan. Tak ada yang bersuara,bahkan Sinta si biang heboh juga ikutan diam seribu bahasa. Sampai saat jam kerja usai Mario,Mark,Leo , Anton dan Sinta berbaris di depan pintu. Mereka menunggu Sartika yang sedang berkemas-kemas merapikan meja kerja.
“Atas nama semua rekan di sini saya mewakili untuk minta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan kami yang kurang menyenangkan. Tapi percayalah semua itu kami lakukan hanya sekedar canda gurau. Jika itu telah
menyakitimu, sekali lagi kami minta maaf,”Anton berbicara dengan lantang ,tepat di depan Sartika.
memaafkan diri kalian sendiri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,”Sartika kemudian melangkah pergi dengan menerobos tubuh Leo yang menghalangi jalannya.
Esok hari dan seterusnya Sartika menjaga jarak dengan teman-teman kerjanya termasuk Sinta. Hanya bicara seadanya jika kondisi memaksa untuk bicara dengan mereka.
“Kamu karyawan baru itu ya,,,perkenalkan aku Siska sekretaris utama di kantor ini. Bos ingin kamu membuat laporan tentang proyek baru nya secara keseluruhan .Kamu bisa ambil data dari Anton atau Leo. Serahkan itu secepatnya”
“Baik Buk,”balas Sartika mengambil beberapa dokumen dari tangan Siska. Baru kali ini Sartika bertemu dengan pimpinan dan sekretarisnya. Ternyata Siska benar-benar cantik mempesona bak artis papan atas.
“Eits,,,,tapi jangan coba-coba menggoda Leo,”Siska mengcekram tangan Sartika yang akan melangkah pergi.
“Nggak usah cemas Buk. Leo bukan tipe saya. Kalau begitu saya permisi dulu”
Sartika merasa heran dengan siska yang mempunyai kepercayaan diri tingkat tinggi masih saja cemburu padanya. Lagipula ia tidak tertarik dengan Leo yang tidak punya empati pada wanita. Sartika sudah mati rasa dengan Leo.
“Kalau yang ini sih kerjaannya Leo. Nanti aku tambahin bagian yang ini,”Anton membaca dokumen yang tadi diserahin Siska. Sartika sengaja mengundang Anton dan Leo untuk rapat darurat.
“Oh ini mah gampang .Tapi berhubung kerjaanku masih numpuk bagaimana
kita follow up di rumah Anton. Agar tidak berantakan gara-gara kerjaan yang
satu ini aja”
“Hmmm apa kita perlu ajuin lembur saja. Please yah bantuin aku,”Sartika memohon pada Anton dan Leo. Sakit hatinya lenyap dan berganti dengan perasaan gelisah jika pekerjaan ini tidak rampung.
Untung saja Leo menerima dengan senang hati. Dia fikir dengan membantu pekerjaan Sartika adalah jalan yang terbaik untuk meminta maaf pada wanita itu. Leo merasa bersalah sekali pada wanita yang tak tahu apa-apa malah dijadikan sasaran sebuah taruhan .Bagaimana kalau itu menimpa pada adik perempuannya.
“Ini semua rencana gila kamu,Nton,”ujar Leo saat mereka kepergok oleh Sartika sedang memasang taruhan . Leo mengerti kalau Sartika sangat marah diperlakukan seperti sebuah objek permainan oleh teman-temannya.
“Tujuan aku kan baek,,,pingin menghubungkan benang merah antara kalian berdua. Kalau soal
taruhan kan hanya sebuah selingan,”balas Anton.
“Hey…maksudnya selingan apaan?Wanita manapun tidak akan suka diperlakukan dan dikatakan selingan begitu. Kalian memang keterlaluan. Lihat sekarang karena ulah kalian Sartika juga ikut-ikut membenci aku. Masak aku harus menanggung dosa kalian padahal aku tak ikut taruhan sedikitpun,”dumel Sinta sambil pergi menjauh.
Leo dan Sartika bekerja bersama hingga larut malam. Siska yang kebetulan lewat dan melihat mereka saling berdekatan membuat Siska mulai gusar.
Pernah satu hari Siska ikut menemani mereka dalam bekerja. Alih-alih ingin memeriksa pekerjaan yang telah dibuat Sartika dan Leo. Sebenarnya Siska hanya ingin berdekatan dengan Leo. Alhasil bukannya pekerjaan cepat selesai malah banyak kesalahan disana-sini disebabkan Leo tak bisa berkosentrasi.
Akhirnya Sartika mengambil keputusan kalau pekerjaan dilanjutkan di rumah Anton. Dengan berat hati Sartika menerima ajakan Anton yang sudah tidak dipercayainya sebagai teman.
Pekerjaan ini harus selesai sesuai jadwal. Sebab inilah kesempatan sartika untuk mendapat perhatian dari pimpinan.
“Kalian mau makan apa?Aku beliin dulu diluar. Sebab hari ini aku tak punya stock mie atau kue buat dimakan”
“Tak usah …tadi sebelum kesini aku sudah makan malam koq,”Sartika langsung menahan Anton yang hendak menuju pintu. Ia tak ingin
berduaan saja dengan Leo didalam rumah kontrakan Anton.
“Kamu sih udah makan .... lah kita bisa masuk angin . Kamu lapar juga kan Leo?”tanya Anton yang langsung dijawab Leo dengan anggukkan kepala.
“Nggak usah takut aku nggak makan manusia apalagi manusianya gadis secantik kamu,”rayu Leo mencairkan suasana.
“Iya ,,,nggak tahu ya kalau sedang lapar biasanya lebih buas ,”timpal Anton cengengesan.
Leo melempar pulpen pada Anton merasa kelakar sahabatnya itu sudah kelewatan. Namun Anton berhasil meghindar dan melarikan diri sebelum Leo semakin beringas.
Bersambung