
Sinta tiba di tempat Sartika sebelum senja. Betapa senang Sartika dengan kedatangan Sinta. Lepas semua letih dibadan dalam mempersiapkan segala sesuatu tentang pernikahan yang akan dilaksanakan esok hari. Baju pengantin sudah di pesan hanya riasan membuat Sartika sedikit panik.Dihari pernikahan nanti Sartika ingin tampil cantik dan berbeda dengan hari biasa. Sartika yakin Sinta adalah orang yang tepat untuk mendadaninya dibanding di dandani oleh orang lain.
“Kamu hebat karena memiliki prinsip,berani memilih sesuatu yang tepat dalam hidup kamu. Nah, lihat aku?Umur segini masih belum siap untuk berumah tangga,”ujar sinta sambil merangkai bunga yang akan menghiasi kepala
Sartika.
“Pilihan orang berbeda-beda.Hidup sendiri bukan sesuatu yang salah,”kata Sartika sambil mengusap kepala yang terasa sakit terkena tusuk jepitan sanggul.Akad nikah akan berlangsung tiga jam lagi. Pakaian pengantin tergeletak di ranjang.
“Jujur nih ya,,sebenarnya itu bukan pilihan. Aku belum bertemu dengan orang yang betul-betul serius denganku. Huh,,memangnya aku tak pantas untuk diajak menikah?”kata Sinta mengunakan hair spray pada rambut
Sartika biar terlihat lebih rapi.
“Mungkin kamu terlalu memilih pasangan yang pas.Ah,sudahlah . Jangan buat pernikahanku menjadi duka nestapa bagimu. Percayalah suatu hari nanti kamu akan menemukan seseorang yang mengerti tentang kamu,”Sartika jadi tidak enak hati mendengar keluhan Sinta.
“Okey, kita ubah topik pembicaraan. Kamu tahu, kenapa aku begitu semangat menghadiri pernikahan ini?Sebab aku ikut senang kalau kamu memenangkan hati Leo yang telah mencampakkan Siska begitu saja. Baru tahu rasa Dia.Memang semua orang bisa dibeli dengan mudah “
Sekali lagi Sartika menarik napas panjang. Sinta telah meriasnya dengan fantastis tapi membuat kepalanya terasa nyut-nyutan.Memikirkan Siska menambah berat sanggul serta aksesoris dikepala semakin bertambah berat.
“Huhuhu…Andai saja tidak ada Siska di kantor ,pasti hidup kita akan tentram lahir dan batin,ya nggak,”ujar Sinta sambil berjalan kesamping lalu mengecek penampilan sartika dari tempat Ia berdiri.Ia menyesal tadi tidak
membawa peralatan make up miliknya.Memakai make up yang ada sudah namun berapa kali polesan tidak juga
melekat pada kulit Sartika.
Sinta mengulangi menaruh bedak di pipi Sartika dengan spoon.Dia berharap kali ini berhasil mengubah tampilan wajah Sartika semakin cantik berkat tangannya.
“Yup aku setuju.Aku akan bekerja lebih rajin jika Siska benar-benar tidak ada,”Sartika menanggapi dengan semangat agar tidak ada lagi omongan tentang Siska.Mengingat wanita itu ,Sartika jadi dilema. Sebenarnya Siska adalah wanita yang baik tapi kenapa harus terlibat cinta lokasi dengan bawahannya. Dan itu lah yang membuat momok Siska menjadi negative.
“Assalamu'alaiku,”terdengar suara yang tak asing lagi bagi kuping Sartika,Leo dan sinta.Adik Sartika segera membuka pintu. Anton masuk dan menyalami tuan rumah satu persatu. Sartika belum bisa keluar dari kamarnya dan terpaksa diwakilkan oleh Sinta untuk menyambut tamu yang sudah dinantikan. Anton bersama Indah merasa senang akhirnya sampai ditujuan dengan selamat. Alamat yang diberikan Leo kurang begitu jelas bagi Anton.Dari mulai pelabuhan sampai ke rumah ini,Anton bertanya –tanya pada setiap orang yang lewat. syukurlah,jarak antara pelabuhan dan rumah Sartika tidak terlalu jauh sehingga memudahkan Anton . Tak hampir setengah jam Dia dan Indah sampai di rumah yang akan mengadakan perhelatan ini.
Leo menyambut Anton serta kekasihnya dengan sangat antusias.Akhirnya pendamping laki-laki sudah hadir. Bagi Leo hanya Anton teman terdekat yang diundang. Bahkan keluarganya di kampung berhalangan hadir. Mama Leo yang mulai sakit-sakitan bertambah parah sakitnya setelah mendengar Leo akan menikah di negeri orang. Padahal orang tua Leo sudah menjodohkan dengan gadis satu kampung. Berat hati orangtua itu untuk pergi melihat pernikahan anaknya dengan gadis rantau yang tak pernah tahu asal usulnya itu . Kalau di kampung, semua orang
sudah tahu baik buruk calon yang akan disandingkan dengan Leo.Begitu pikiran orang tua Leo.
“Mama tidak setuju dan tidak akan datang!!.Memang yang menikah itu kamu bukan mama atau papa tapi kamu itu anak mama. Mama lah yang lebih tahu apa yang terbaik buat kamu,”kata mamanya Leo dikampung saat ditelepon oleh Leo tadi malam.
“Maaf pak, orang tua saya tidak bisa datang karena mama saya kebetulan sedang sakit,”kata Leo pada ayah Sartika.
“Jangan panggil bapak begitu.Panggil ayah saja seperti Sartika. Kamu sebentar lagi sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Itu berarti kamu sudah menjadi anak ayah”
“Terima kasih ayah atas pengertiannya,”kata Leo memeluk tubuh kurus yang baik hati itu.Ayah memang sudah tua renta termakan kerasnya kehidupan. Padahal umur ayah baru saja menginjak kepala lima.
Anton tak menyangka akan diundang kekeluarga yang begitu sederhana namun begitu ramah terhadap tamu yang
baru saja datang.
“Kenapa pernikahannya terkesan buru-buru. Jangan…jangan …Sartika??”tanya Anton saat Dia berdua saja dengan Leo. Sedangkan Indah ikut ke kamar pengantin wanita yang belum selesai berdandan sejak dini hari tadi.
Leo sudah lengkap dengan setelan jas menunggu penghulu datang. Dia tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Anton.
“Tekadku sudah bulat. Dan ini bukan sesuatu yang buru-buru. Aku sudah memikirkannya cukup lama. Aku begitu mencintai Sartika dan ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya,”jawab Leo dengan tenang tapi pasti.Anton menjadi lega,ternyata yang dipikirkannya tidak benar.
“Trus apa yang akan kamu lakukan setelah menikah. Kamu akan kembali bekerja dikantor kan?”tanya Anton lagi. Masih banyak yang harus Anton bicarakan dengan Leo. Bagaimanapun sebagai teman, Anton ingin yang terbaik untuk Leo.
“Untuk sementara waktu aku ingin hidup di kampung bersama Sartika.Sampai suatu saat nanti aku siap kembali mengadu nasib di kota,”balas Leo dengan menundukkan kepala. Anton melihat sisi lain dari diri Leo yang
sekarang.Seperti orang yang sedang putus asa.Anton menepuk bahu Leo untuk memberi dukungan
Satu persatu tamu datang menghadiri akad nikah yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Sartika juga sudah siap dan duduk menunggu penghulu yang belum datang. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh sesuai janji penghulu tempo hari.
Sebuah mobil memasuki perkarangan rumah dan penghulu yangdinantikan muncul dengan beberapa rekannya.Ijab Kabul telah siap dilaksanakan. Sartika dengan penampilan yang sangat cantik keluar dari kamar lalu duduk
disamping Leo.Ijab Kabul dilakukan dengan suasana penuh keharuan. Ibu Sartika tak hentinya sesegukan menahan air mata .Ada juga beberapa tamu yang merupakan teman Sartika semasa sekolah ikut mengeluarkan air mata karena menghayati begitu sakral acara tersebut.
Setelah semua proses akad nikah dilakukan,acara dilanjutkan dengan resepsi sampai malam. Suasana sangat meriah dengan adanya panggung hiburan serta makanan yang disediakan begitu banyak untuk para tamu.
Sartika dan Leo terlihat sangat bahagia duduk dipelaminan. Begitu juga dengan tamu jauh mereka yang ikut memeriahkan pesta. Sinta menyumbangkan satu buah lagu lawas yang dipersembahkan untuk kedua pembelai.Ternyata suara Sinta begitu merdu. Semua orang terhanyut akan euphoria.
Bersambung