Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 40. Mencair



“Ma,pembicaraan ini sebaiknya segera dihentikan”


Leo datang setelah mendengar teriakan Sartika.


“Ini bukan sebuah pembicaraan tapi sebuah keputusan.Selama ini Mama tidak pernah minta apa-apa darimu.Sekarang mama hanya minta kamu menikah dengan KarinApa itu begitu sulit bagimu?Bagaimana dengan Sartika?Ingat !Sartika juga merenggutmu dari mama.Jadi jika kamu menikah dengan Karin maka itu baru disebut adil,”kata Susi.air matanya tumapah ruah melepaskan sesak didada yang selama ini dirasakan saat melihat Leo bersanding dengan Sartika.


“Mama tidak rela…hik…hik…”


Sartika merasakan perut bagian bawahnya kram.


“Aduh,”Sartika meringis kesakitan memegang perutnya.


“Kamu kenapa?Ayo aku antar kekamar,”Leo membantu Sartika berjalan.


“Sebainya kamu rebahan,”Leo merebahkan istrinya ditempat tidur.


“Kamu tidak usah memikirkan ucapan mama,”Leo mengelus pipi Sartika yang penuh peluh kemudian mengelap wajah itu dengan tisu.


“Sebaiknya aku pulang ketempatku sebab disini bukan tempatku ,Leo”


“Ssstt…tempatmu adalah tempatku.Sekarang istirahatlah”


Sedangkan diruang tamu Susi tak henti menangis.Sungguh tak rela hatinya saat Leo lebih memilih menemani Sartika daripada bersamanya.


“Ada apa,Ma.Apa Sartika membuat mama menangis?”


Anita datang menghampiri ibunya dan meninggalkan pekerjaaan dapur yang masih terbengkalai.Anita jadi sedih melihat keadaan ibunya saat ini.Ia tak ingin penyakit ibunya kambuh dan harus dilarikan kerumah sakit.Anita juga menyayangkan sikap Leo dan Sartika yang tak bisa menjaga perasaan mamanya.


Anita mengajak Susi beristirahat dikamar kemudian memberikan obat yang telah diberikan dokter, walau agak terpaksa Susi tetap meminum obat tersebut.Saat Susi sudah mulai tenang dan terlelap,Anita pun dapat bernafas dengan lega dan melanjutkan pekerjaannya didapur.


****


Satu minggu berlalu tanpa pembicara tentang pernikahan Leo dengan Karin.Hari-hari berjalan dengan damai sampai suatu hari Karin tiba-tiba muncul di depan pintu rumah Susi.


“Assalamu’alaikum,”Karin masuk melalui pintu depan yang kebetulan terbuka lebar.


“Waalaikumsalam,Karin apa kabar?”kata Susi menyambut Karin dengan wajah sumringah.


“Alhamdullilah baik.Tante apa kabar?”balas Karin sambil memeluk tante yang sudah diangggap ibu keduanya itu.


“Sudah lama nggak datang kesini,anak cantik,”Susi sengaja mencium kedua pipi Karin ketika melihat Sartika keluar dari kamar.


“Bumil apa kabar?”perhatian Karin beralih pada Sartika.


Susi merasa kurang senang kalau Karin akrab dengan Sartika.


“Bagaimana jika bumil kita ajak jalan-jalan.Daripada dirumah terus pasti suntuk,”kata Karin tanpa menghiraukan tatapan sinis tante Susi.


“Tentu saja istri boleh jalan-jalan asal dengan suaminya,”celutuk Leo yang baru bergabung.


“Yap…tunggu apa lagi.Ayo kita berangkat"


Sartika bergegas berganti pakaian .Daster kucelnya serasa tidak pantas untuk dibawa jalan-jalan.


Karin pergi menghampiri kamar Susi untuk berpamitan.


“Tante…apa Tante benar tidak sakit.Kenapa tante kelihatan lesu sekali?”tanya Karin.


Susi duduk diatas kasur dan bersandar pada kepala dipan.Karin memberikan gelas yang berisi air putih diatas meja kecil disamping tempat tidur.


“Apa Karin menyayangi Tante?”


“Hahahha…anak pinter,”gelak Susi mendengar ucapan kocak Karin.


Karin merebahkan tubuhnya pada pangkuan wanita yang begitu disayanginya.Wanita yang menjadi tempat paling nyaman bagi Karin selain Ibunya yang suka bepergian untuk berdagang.


“Kalau kamu benar-benar sayang sama Tante maka jadilah anak tante yang sesungguhnya”


“Aku sudah jadi anak tante sejak dulu,,,percayahlah tante”


“Kalau gitu kamu harus panggil mama dong”


“Okay…muai saat ini Karin akan panggil tante Susi dengan mama Susi”


“Tidak begitu konsepnya.Bagaimana kalau kamu secara resmi menjadi bagian keluarga ini dengan menjadi istri Leo”


“Hah…maksud tante susi ,aku harus bersedia menjadi istri kedua”


Susi mengangguk cepat sambil menatap wajah pucat Karin yag gelisah karena kebingungan.


“Tan…te eh..mama Susi sedang bercanda kan haha…haha… selamat mama Susi sudah berhasil membuat jantungku hampir copot.Kalau begitu Karin mau berangkat dulu.Leo sama Sartika pasti sudah lama menunggu"


Karin bergegas meninggalkan Susi didalam kamar.Susi merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata berusaha untuk tidur dan melupakan semua masalah dalam pikirannya.


****


Mereka tak bicara saat diperjalanan hingga tiba pada sebuah museum kuno yang mereka kunjungi sepi.


“Apakah kamu butuh teman bicara?”tanya Karin pada Sartika.


Namun Sartika membalas pertanyaan itu dengan tangisan.


“Sebenarnya aku sudah tak sanggup lagi,”kata Sartika sesegukkan.


Karin melihat sekeliling mencari keberadaan Leo.


“Maafkan jika aku ada salah?”


Sartika menangis sambil mengelengkan kepala,”Mama ingin menikahkanmu dengan Leo”


“Sejujurnya menikah dengan Leo adalah impianku begitu juga dengan tante Susi.Aku mencintainya seperti kamu mencintai Leo .Mungkin lebih…,”pandangan Karin tertumpu pada sebuah lukisan gunung dan jalan yang tanpa ujung.


“Aku tahu,”ujar Sartika lirih.Sebagai perempuan Dia juga melihat sikap Karin pada Leo.


“Tapi apa pantas kamu bersanding dengan pria seperti Leo.Wanita yang memiliki segalanya.Cantik dan seorang calon dokter”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut,Sartika buru-buru meninggalkan Karin untuk ke toilet.Ia ingin membasuh wajah agar Leo serta siapaun tidak bisa melihat airmatanya yang jatuh tak terbendung.


Mereka pulang lebih cepat dari rencana semula.Leo heran dengan sikap dua wanita yang dicintainya dengan cara berbeda.Padahal Ia sengaja tadi meninggalkan mereka berdua agar bisa bicara dari hati ke hati.


Sesampai dirumah Karin menarik tangan Sartika dan Leo kekamar mama Susi.Kebetulan wanita paruh baya itu sedang duduk menyisir rambut yang kian memutih.


“Mama,Leo dan Sartika.Hari ini aku akan mengumumkan sesuatu bahwa aku tidak mau menikah dengan Leo sebab Karin punya pilihan sendiri”


“Karin tetap akan menjadi anak mama Susi walau tanpa menikah dengan Leo. Karin akan selalu menyayangi dan menjaga serta merawat mama .Bahkan jika perlu Karin tidak keberatan untuk tinggal disini bersama mama.Jadi Karin mohon jangan minta Karin untuk menikah dengan Leo,”kata Karin dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa menangis begitu?cup…cup…baiklah kalau Karin maunya begitu,”Susi membelai rambut Karin dengan lembut.


Leo merasa lega menyaksikan kebekuan hati mamanya seakan mencair dengan kasih sayang yang telah diberikan karin.Akhirnya Leo dan Sartika dapat melangkah kedepan untuk menyusun sebuah keluarga bahagia.


Tamat