
Hari ini adalah hari pertama Sartika bekerja di tempat yang baru. Bertemu dengan teman keja baru dan tentu saja suasana yang baru.Ia sangat bersyukur diterima bekerja . Sudah beberapa kali lamaran telah Ia kirim pada perusahaan ini namun akhirnya seminggu yang lalu Sartika baru dipanggil oleh pihak personalia.
Perusahaan yang sangat bonafit dan memiliki gedung yang megah. Siapa saja yang bekerja ditempat ini akan merasa bangga dan semakin percaya diri.
Berkenalan dengan beberapa rekan kerja yang satu ruangan dengannya begitu berkesan bagi Sartika.Apalagi ketika bersalaman dengan Leo.
Cowok paling kece dan ramah. Senyumannya begitu menawan membuat jantung Sartika
berdebar tidak karuan. Seringkali matanya curi-curi pandang ke arah Leo hanya sekedar melihat raut wajahnya yang begitu sempurna .Siapa pun wanita pasti akan jatuh hati pada pandangan pertama .
“Ah, orang seganteng itu pasti sudah ada yang punya,”ujar Sartika dalam hati sambil menghapus khayalan tingkat tinggi yang sempat terlintas.
Kebiasan ditempat ini setiap minggu adalah kumpul bareng di sebuah cafe favorit mereka. Sekedar refreshing atau imun booster untuk melanjutkan rutinitas minggu depan.
“ Bagaimana kalau minggu ini kita senang-senang. Sekalian mengenalkan tempat favorit orang-orang disini pada Sartika,”usul Anton yang sudah dianggap ketua rombongan.
Sebagai orang baru Sartika hanya manggut manggut saja. Tak berani bereaksi berlebihan takut nanti malah dibully .
Dalam acara itu mata Sartika tak pernah lepas dari Leo. Hampir satu minggu bersama-sama,tak pernah sekalipun Leo dekat dengan seorang wanita. Dengan sinta, hanya sebatas teman ngobrol. Ketika berdua hanya membicarakan pekerjaan. Tidak ada sesuatu yang special diantara mereka.
Sinta adalah teman satu-satunya wanita dalam ruangan tempat Sartika bekerja. Sinta cukup cantik. Dengan kulit bersih yang sering dipamerkan dengan rok pendeknya.Banyak lelaki yang suka menggodanya.
“Aku setuju kalau Leo itu ganteng tapi untuk jadi pasangan hmm….jauh jauh deh. Bisa makan hati terus”
Sinta paham dengan gelagat Sartika yang sedang menyukai Leo.
“Memangnya kenapa?apa Leo suka mempermainkan wanita gitu…?”Sartika mulai penasaran.
“Sebenarnya…wanita yang suka dipermainkan Leo,”jawab Sinta lugas.
“Eh,,,maksudnya?”Sartika bertambah bingung. Dia melihat selama bekerja Leo tidak menunjukan sikap yang aneh. Leo tipe laki-laki yang baik dan sopan. Karena itulah Sartika makin terpesona.
“Udahlah nggak usah ngomongin Leo. Dia sudah ada yang punya. Dengar-dengar sih Leo dekat dengan sekretaris bos”
Sartika belum pernah bertemu dengan pimpinan pusat. Sebab kebetulan yang menerima Dia bekerja disini adalah wakil pimpinan sedangkan pimpinan dan sekretarisnya lagi ada urusan diluar daerah.
Sartika langsung patah hati mendengar penuturan Sinta tentang Leo yang ternyata sudah memiliki seorang kekasih.Pupus harapan untuk memiliki Leo seperti khayalannya selama ini.
Tapi setiap hari bekerja dalam satu ruangan membuat Sartika tidak bisa menghilangkan perasaan suka pada Leo. Setiap gerakan dan ucapan pria itu membuat hati Sartika meleleh. Sudah lama rasanya Sartika tidak memiliki seorang kekasih lagi setelah enam bulan putus dari Dodi tunanganya. Begitu cepat perasaan Sartika berpindah karena seorang Leo.
Sekarang Leo adalah motivasi bagi Sartika. Gadis itu selalu bangun pagi dengan semangat menggebu. Dan paling awal tiba di kantor.
“Saya sudah kirim email buat form yang kamu minta, jadi tinggal copy paste lalu key in deh datanya,”Leo meghampiri Sartika pagi itu dimejanya.
“Cie…cie …ehm…ehm”
Terdengar suara Anton yang baru saja datang. Sartika langsung salah tingkah dan menghidupkan layar computer di hadapannya.
“Okey,,,terimakasih,”ucap Sartika dengan senyum mengembang.Berharap Leo sedikit menjauh sebab jantungnya berdegup tak teratur jika berada di dekat cowok itu.
“Sama-sama,kalau ada masalah bilang aja ,”Leo melangkah kemejanya.
Sartika reflek mengagguk walau Ia tahu Leo tidak melihatnya. Perasaan bahagia seakan menjalar di seluruh pembuluh darah memberi
suatu energy besar membuatnya menyelesaikan pekerjaan sebelum waktunya.
“Tidak perlu buru-buru sebab masih ada waktumu belajar lebih teliti lagi,”kata Pak Wijaya ketika membaca laporan yag baru saja diserahkan Sartika.
“Ba…baik Pak. Nanti saya perbaiki lagi,”Ujar Sartika gagap tak menyangka kesalahan yang baru saja dibuatnya. Sartika menyesal kenapa tidak membaca ulang laporan itu sebelum di serahkan.
Sartika kembali ke meja dengan kecewa.”Kenapa aku sebodoh itu huh…”
“Hati-hati…hari ini Pak wijaya lagi baik, biasanya kalau marah suka lempar barang,”Sinta datang mendekat. Mendengar itu air mata Sartika langsung meluncur keluar.
Sinta mengambil beberapa tisu milikya kemudian diberikan pada Sartika.
“Tenang aja….dengan wanita beliau lebih lembut apalagi kalau seksi, Pak Wijaya nggak berkutik bawaannya pasti iya,iya melulu hahaha”
Tangisan Sartika semakin keras hingga Leo dan Anton ikut mendekat.
“Nggak usah dengerin omongan Sinta. Sebenarnya Pak wijaya orangnya baik banget,suka kasih kita bonus,”ujar Anton menghibur.
Tangisan Sartika tetiba mereda ,”Aku nggak apa-apa koq”
“Nah gitu dong tetap semangat nanti juga terbiasa .Anggap aja kalau Pak Wijaya itu orang tua kita yang sedang melatih anaknya menjadi lebih baik lagi,”kata Anton sambil menepuk pundak Sartika pelan.
Bersambung