Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 30. Terjatuh



Dengan langkah berat, Sartika mengikuti Leo menuju ruang tengah, disana ada meja makan berbentuk persegi panjang dikelilingi enam kursi kayu. Kursi tersebut terlihat aesthetic dan menawan. Diukir halus dengan corak tumbuhan. Sudah sangat jarang ditemukan didaerah perkotaan.


"Pantesan lama baru pulang ke kampung halaman. Ternyata diikat oleh gadis rantau ini"


Belum sempat Sartika menyalami tapi ibu mertua telah menyambut dengan kata-kata pedas yang membuat telinga merah dan panas.


Namun Sartika tidak ingin kehilangan momen dengan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan pria yang sangat dicintainya.


Sartika mengambil tangan kanan mama Leo diatas meja kemudian menciumnya.


Tangan tersebut dicium Sartika lalu secepat kilat diambil sangat empunya.


"Sartika, " kata Sartika pelan.


"Baiklah.Sekarang kamu mandi lalu berpakaian setelah itu kita sarapan, " Leo mengapit tubuh Sartika dan membawanya kebelakang.


****


Sartika berdiri disisi bak kamar mandi. Uap air melayang di permukaan. Kehangatan mulai dirasakan pada permukaan kulitnya.


Sekejap tubuh Sartika terasa tenang dan mulai berusaha melupakan kejadian dimeja makan tadi.


Hati siapa yang tak remuk diperlakukan tidak baik oleh ibu mertua yang sudah dianggap ibu kandungnya sendiri. Setetes airmata tak sengaja keluar diujung mata Sartika.


Sedangkan dimeja makan Leo masih bersama menemani ibunya. Ingin berbagi cerita satu sama lain setelah berpisah cukup lama.


"Katanya kamu punya dua kejutan buat mama"


"Iya... Kejutan yang satu lagi biar nanti Leo bilang kalau Sartika selesai berpakaian"


"Kejutan apalagi, nak. Jangan bikin mama pusing"


"Nggak... Mama tenang aja"


Bagi mama Leo kedatangan Sartika saja sudah membuatnya pusing. Karena tidak seperti harapan mama yang ingin Leo tetap bujangan alias belum menikah agar sampai di kampung bisa dijodohkan dengan anak gadis yang masih saudara jauh keluarga Ahmadi. Gadis itu bukan gadis sembarangan. Ia adalah salah satu bidan didesa yang sangat terkenal. Selain cantik, anaknya baik, tutur katanya sopan dan sekarang sedang melanjutkan pendidikan dalam bidang kesehatan. Siapa yang tak ingin memiliki menantu seperti itu.


"Nah... Ini Dia sudah selesai berpakaian, " Leo senang melihat Sartika datang. Mereka sarapan bersama. Saat sedang makan, mata Mama Leo tak pernah lepas menatap Sartika yang juga sedang makan. Mata itu menatap dengan sinis. Terpancar jelas rasa tak suka dan benci terhadap Sartika.


Ketika tengah menyantap makanan, anggota keluarga satu persatu berdatangan. Papa Leo yang bernama Ahmadi baru saja pulang dari sawah setelah dua hari menginap di pondok tengah sawah. Maklum sebentar lagi padi yang telah ditanam sudah bisa dipanen. Agar aman dari serangan hama Ahmadi harus tetap waspada menjaganya.


Leo menyalami Ahmadi dan begitu juga dengan Sartika.


"Kenalkan, Pa. Ini Sartika, istri Leo"


"Alhamdulillah papa senang kamu berdua sudah pulang. Papa sampai lelah dan pusing menenangkan mamamu. Setiap hari menangis karena rindu sama anak bungsunya"


"Maafkan Leo, pa. Bukan keinginan seperti itu, tapi kondisi lah yang membuat Leo tidak bisa pulang. Bahkan saat ini pun kami nekat pulang demi mama"


Anita geram melihat tingkah laku Leo yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain terutama orangtuanya.


"Sartika lagi hamil, kak. Sebagai sesama wanita coba bayangin apa yang dialami Sartika saat dalam perjalanan kesini, " Jawab Leo cukup keras agar bisa mengimbangi suara kak Anita.


"Huh.... " Kak Anita hanya membuang nafas.


Begitu juga dengan mama Leo yang memalingkan wajahnya seakan tak peduli.


"Tidak apa-apa, Leo. Aku baik-baik saja. Setiap orang hamil muda memang begitu, mual dan muntah. jadi bukan masalah besar, " Sartika tambah tidak enak hati, Leo selalu saja menjadikannya tameng dalam perselisihan keluarga yang baru saja dikenalnya.


"Iya. Aku tahu, sayang. Aku cuma ingin mereka mengerti keadaan kita, " Kata Leo membuat Sartika menggigit bibirnya menahan rasa cemas.


"Kamu dari dulu memang selalu ingin dimengerti, " Kata Anita ketus.


Mama Leo berdiri dan membalikkan badannya kemudian melangkah kebelakang.


"Mama mau kemana? " tanya Anita.


"Mau kebelakang. Dari tadi perut mama mules. Mungkin lontongnya kepedasan"


"Tapi itu lontong si Uli yang biasa kita beli, " balas Anita.


"Bukan lontongnya yang pedas tapi mulut kak Anita yang bikin semua orang disini kepanasan, " Celutuk Leo kesal pada kakaknya itu. Kata-kata Kak Anita selalu bertolak belakang dengan Leo.


"Leo, " delik Sartika pada Leo agar berhenti melawan kakaknya.


"Mulai sekarang kamu tinggal disini saja sama mama. Siapa tahu dengan keberadaan kalian berdua penyakit mama akan sembuh. Bukankah gara-gara kelakuan kamu berdua dirantau dan tidak pulang yang bikin mama sakit, " kata Anita masih dengan intonasi ketus. Anita merasa saat ini dialah yang paling dituakan. Begitu banyak pengorbanan yang telah Ia berikan untuk orang tua serta adik-adiknya. Dengan mengabaikan keadaan keluarganya sendiri. Jadi sepantasnyalah Leo menuruti jalan pikiran yang ada dikepala Anita.


"Entahlah.. Aku belum tahu pasti. Kak Anita kan tahu sendiri, sebentar lagi aku akan memiliki seorang anak. Aku harus cari pekerjaan untuk menghidupi istri dan anakku nanti"


"Harusnya kamu pikirkan itu dulu sebelum menikah. Ini malah meninggalkan pekerjaan. Kalau disini kamu kan bisa bantu papa disawah"


"Dari dulu minat ku bukan bertani, kak".


" Ah, sudahlah.. terserah kamu saja, "geram Anita sembari melangkah kebelakang. Anita curiga mamanya lama sekali buang air.


Setiba dikamar mandi Anita teriak panik, " Mama!!! " Anita melihat ibunya sudah tergeletak dengan posisi hampir telentang. Tangan kanan masih erat menggengam gangang pintu sehingga kepala tidak sampai menyentuh lantai.


Semua orang berhamburan datang ke kamar mandi.


"Mama tidak apa-apa? Kenapa mama tadi tidak panggil Anita"


Mama Leo masih sadarkan diri tapi bagian bawah tubuhnya terasa sakit sekali.


Bersambung