Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 29.Pertemuan



Lampu didalam rumah langsung menyala mendengar deru mesin bus antar kota yang ditumpangi Leo dan Sartika berhenti. Kakak pertama Leo bernama Anita membuka pintu dan menyambut kedatangan tamu yang sudah dinanti-nantikan sejak lama oleh keluarga ini.


"Ya Tuhan... Alhamdulillah akhirnya kalian sudah datang. Mama pasti senang... duduk dulu.. Biar kakak ambilkan minum, " kata Anita sambil berlalu namun Leo menahannya.


"Tunggu, Kak. Kenalin ini Sartika, istri aku, " Leo tak sabar mengenalkan istrinya pada Anita.


"Iya.. Kakak udah mengira kalau yang di samping kamu itu Sartika, kan? " Anita menyambut uluran tangan Sartika dan memeluk serta mencium kedua pipi ipar yang baru saja ditemuinya. "Nama saya Anita Rahmadani. Panggil saja Kak Anita. Sulung dari lima bersaudara. Ternyata Sartika lebih cantik daripada photo dihandpone yang sering kamu kekirim ke kakak, " mata Anita beralih kearah Leo. Membuat pria itu tersenyum bangga.


"Mama lagi tidur maklum udah tengah malam. Tapi tak biasanya sih beliau tidur jam segini. Hari-hari sebelumnya suka kebangun tiap malam minta kakinya dipijat, " ujar Anita setelah tamu yang baru datang duduk disofa.


"Memang mama sakit apa, kak? " tanya Sartika .


"Sakit mama sudah komplikasi. Terakhir kalinya terserang reumatik akut hingga susah berjalan. Makanya kami sangat ingin Leo pulang buat jenguk mama, " jawab Anita.


"Sekarang aku udah pulang. Walau separuh perjalanan sangat melelahkan. Tapi kami sudah berusaha memenuhi keinginan mama, " timpal Leo.


"Jangan ngomong seperti terpaksa begitu. Ingat mama sangat menyayangi anaknya tanpa pamrih terutama padamu anak bungsunya. Ya udah kakak kedalam dulu menyiapkan air hangat. Kamu tahu sendiri , kamar kamu dimana. Kakak selalu bersihkan dan rapiin setiap hari. Silahkan taruh tas dan barang kalian kesana kemudian beristirahatlah jika capek"


Sartika terdiam dan termangu melihat percakapan kedua saudara yang sudah lama tidak bertemu itu. Perasaan Sartika jadi tidak enak.


"Kamu jangan ngomong begitu sama kak Anita, " ujar Sartika saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Memangnya kenapa? " Leo heran dengan ucapan Sartika. Baginya tidak ada yang salah antara Ia dan kakaknya tadi.


"Aku rasa kak Anita tidak menyukai kehadiran ku"


"Ahh.. jangan sensitif lagi. Percayalah semua orang di sini pasti akan menyukaimu. Sekarang saatnya rebahan. Jangan mikir yang macam-macam lagi. Besok saja kita bertemu dengan mama. Tapi janji kamu harus tetap bahagia dan senang berada dikampung tempat aku dilahirkan serta dibesarkan ini, " ujar Leo tersenyum sambil mencium kening Sartika cukup lama.


Ketika pagi sudah menjelang. Anita menyediakan sarapan lontong sayur, spesial untuk tamu yang baru saja datang. Menu tersebut dibeli di kedai yang tak jauh dari rumahnya. Tidak ada kesempatan untuk memasak makanan sendiri. Sepanjang hari dihabiskan hanya merawat ibunya. Anita merelakan pindah ke kampung tempat ibunya tinggal. Membawa anak-anaknya dan suami untuk tinggal dirumah mama agar bisa menjaga dan merawat mama yang sakitnya suka kambuh. Padahal sebelumnya Anita tinggal di ibukota kabupaten.


"Mama ini sudah tua renta. Biarkan mama menghabiskan sisa hidup mama di sini, " pinta mamanya saat Anita ingin mengajak ibunya tinggal di rumahnya saja.


"Tapi rumah sakit lebih dekat dari rumah Anita. Kejauhan kalau kita bolak-balik kerumah sakit dari rumah mama, " Jelas Anita.


"Ya udah kalau kamu tidak mau jagain mama nggak apa-apa. Nanti papamu saja yang mengantarkan mama kerumah sakit, " kata mama sambil berjalan menuju kamarnya. Melihat ibunya enggan untuk pindah, Anita mau tidak mau harus mengalah.


****


"Terima kasih , sayang. Sudah mau mendampingiku kemana saja ku pergi. Walau kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi kedepannya nanti, " Gumam Leo sambil melihat wajah istrinya yang sedang tidur.


Leo merapikan pakaian lalu melangkah keluar dari kamar. Tujuannya hanya satu yaitu ingin bertemu dengan mama.


Rumah ini tak asing bagi Leo meski sudah lama Ia tinggalkan. Setiap sudut rumah ada kenangan masa kecil yang sangat indah baginya.


Kali ini Leo melangkah menuju kamar mama. Kamar tersebut adalah kamar utama. Suatu hari mamanya pernah berkata bahwa dikamar inilah tempat semua anaknya dilahirkan dan tentu saja dengan bantuan bidan desa.


"Leo..!!! anakku sudah pulang. Pantas perasaan mama dari semalam bawaannya tenang. Ohh ternyata anak kesayangan mama sudah pulang."


Leo memeluk ibunya dengan erat. Ada rasa rindu yang tak terucap. Bahu yang dulu tempat Ia terlelap masih tetap nyaman untuk bersandar.


"Kapan kamu datang, nak? "


"Semalam saat mama sudah tidur. Kak Anita yang membukakan pintu, katanya mama sudah tidur tak boleh diganggu. Sekarang Leo sudah ada dihadapan mama. Leo senang sekali, ma. Leo juga bawa kejutan buat mama. Bukan satu tapi dua kejutan sekaligus, " kata Leo menatap ibunya tanpa berkedip.


"Ayo mandi dulu. Kakak sudah menyiapkan sarapan. Mandinya dengan air hangat sebab kalau pagi airnya dingin banget. Makanya kakak bikinkan air hangat, takut istrimu tidak terbiasa dan kedinginan"


Anita tiba-tiba muncul memecahkan dan menghamburkan pikiran ibunya yang masih menerka-nerka kejutan apa yang akan diberikan anak bungsunya itu.


Istri? Jadi Leo tidak datang sendirian.


"Yahh kakak.. Udah kasih tau duluan. Nggak jadi deh bikin kejutan buat mama. Ayo, ma.. Leo kenalin sama istri aku, " ujar Leo menarik tangan ibunya keluar kamar dengan semangat.


Namun ibunya menganggapi dengan dingin. Leo seakan tidak menghiraukannya dan tetap mengajak mama duduk di kursi meja makan. Kemudian melangkah cepat menuju kekamar tempat istrinya berada.


Sartika merapikan rambut ketika Leo masuk dan mengajaknya menemui mama yang sedang menunggu di meja makan.


"Tapi aku belum mandi. Pakaianku lusuh belum diganti. Duh.. pasti bau sekali setelah kena muntahan tempo hari, " elak Sartika sambil mencium ketinya kiri kanan.


"Nggak apa-apa. Nanti aja mandinya, sekarang masih pagi banget. Air di sini dingin sekali kalau masih pagi. Aku juga belum mandi, yang. Mama juga belum mandi. Berarti kita semua klop sama-sama belum mandi"


Bersambung