
Setelah makan siang, Sinta terkejut melihat sebuah amplop panjang dimeja kerjanya. Sinta tak langsung membuka amplop tersebut sebab masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat.
"Kau tahu Indah sudah kembali, " kata Anton tiba-tiba.
"Benarkah? Aku bilang juga apa. Indah pasti akan kembali. Saat Ia mulai menyadari kekeliruannya"
Sinta mengedipkan mata berusaha untuk melupakan kekhilafan yang pernah terjadi antara Dia dan Anton.
"Aku dapat kabar dari tetangga kontrakan Indah bahwa Indah baru saja datang, " kata Anton bahagia.
"Aku akan menemuinya nanti setelah pulang kerja, " tambah Anton tak sabar melihat gerakan jam yang terasa lambat berputar.
Anton pulang semenit kurang dari jam kerjanya. Menemui Indah adalah sesuatu yang diinginkannya dari tadi. Ibarat makan obat, Anton membutuhkan Indah saat ini untuk mengobati kerinduannya. Pekerjaan jadi terganggu karena seringkali Anton melihat jam ditangan kiri.
Setelah sampai, Anton langsung pergi ke rumah kontrakan Indah tapi rumah itu kelihatan sepi dan terkunci persis seperti keadaan yang Ia jumpai kemarin.
Anton melangkah kerumah tetangga yang memberi kabar kalau Indah sudah kembali.
"Assalamu'alaikum, buk Ar, " ucap Anton memanggil tetangganya itu dari luar.
"Waalaikumsalam, eh nak Anton ada apa? "
"Indah benar sudah balik ke kos ya, Bu? "
"Iya.Tadi pagi setelah nak Anton pergi kerja, si Indah pulang ke kosannya. Tapi cuma sebentar trus pergi lagi"
"Kira-kira pergi kemana anak itu? " tanya Anton pelan pada dirinya sendiri.
"Sepertinya si Indah mau pindah. Sebab Ibu liat Indah bawa barang banyak sekali. Lalu Ia juga memberikan kunci pada Bu Eni pemilik kos, " ujar Bu Ar.
"Ibu nggak berani nanya mau pindah kemana sebab wajahnya kelihatan sedih begitu. Matanya bengkak kayak habis nangis. Memang kalian sedang ada masalah, ya? "
"Iya nih, Bu. Ada kesalah pahaman antara kami, " Anton kembali merasa putus asa. Harapannya seketika lenyap. Kemana lagi Ia akan mencari Indah.
"Coba cari kekampunya aja? " kata Bu Ar.
Kasihan melihat keadaan hubungan asmara para tetangganya itu.
"Iya, Bu. Sekarang saya coba cari kesana dulu, ya. Terimakasih atas perhatian dan waktunya, " kata Anton setuju dengan usul Bu Ar yang satu pemikiran dengannya.
Anton melajukan mobil dengan pelan menuju kampus Indah yang tak terlalu jauh dari rumah kontrakan. Kemudian duduk menunggu di dalam mobil sambil melihat keberadaan Indah.
Satu jam hingga hampir dua jam Anton menunggu namun Indah tak pernah ada. Di gerbang atau dikantin kampus tak ada yang melihat Indah.
"Apapun yang terjadi aku harus menemui Indah, " tekad Anton dalam hati.
Ia menyusuri koridor kampus tempat jurusan Indah berada. Menanyakan kepada seseorang yang mungkin mengenalnya.
"Oh, Indah anak semester empat, ya? Kalau nggak salah Indah baru saja mengajukan surat cuti kuliah di akademik"
"Makasih atas informasinya, " ucap Anton lalu kembali ke mobil dengan beribu tanda tanya di kepala.
Kemana lagi Ia harus mencari Indah. Ingin sekali Anton menanyakan penyebab Indah mengajukan cuti. Tapi pertanyaan tersebut terpaksa ditahannya di kepala. Anton ingin menanyakan langsung kepada Indah. Ia ingin mendengar dari mulut Indah sendiri. Ah, betapa rindunya Anton pada gadis itu. Mendengar suara dan perhatiannya sudah lama tak dirasakan Anton lagi.
"Kamu harus kuat Anton. Masa depanmu masih panjang. Boleh saja mencintai tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan saat cintamu pergi, " ucap Sinta dikantor memenangkan Anton yang galau.
"Andai Tuhan memberikan satu kali lagi untuk bertemu Indah. Mengizinkan kami bicara dari hati kehati"
"Maukah kamu menemaniku kerumah Indah dikampung. Kemungkinan besar pasti Dia berada disana"
Ide tersebut terlintas saja di kepala Anton.
"Baiklah.Kalau itu maumu, " jawab Sinta menganggukkan kepala.
"Akhir pekan ini kita berangkat"
****
Dalam perjalanan menuju kerumah Indah. Anton dan Sinta menyusun siasat agar nanti setiba mereka disana tidak ada penolakan atau pengusiran dari Indah dan keluarganya.
"Kamu lebih dulu mendatangi rumahnya sedangkan aku menunggu di perempatan jalan. Dengan begitu mereka tak perlu lari jika melihatmu, " terang Anton.
Sinta mengangguk kepala tanda mengerti. Misi ini terlalu mudah bagi Sinta. Bertemu dengan Indah lalu menjelaskan semua yang terjadi adalah tujuan utamanya. Sinta akan melakukannya dengan baik dan sedetail mungkin. Membuat Indah kembali pada Anton merupakan suatu tantangan yang harus diselesaikan secara cepat dan cermat. Agar Anton dapat bekerja dengan maksimal seperti dulu lagi.
Sinta mengetuk pintu rumah Indah. Terdengar langkah kaki di dalamnya.
"Permisi, Bu. Apakah benar Indah tinggal di sini?
" sapa Sinta ketika pintu dibuka.
"Sebentar saya panggilkan, " kata Ibu tersebut lalu mempersilahkan Sinta duduk di kursi teras rumah. Beliau pasti Ibunya Indah sebab wanita paruh baya itu berparas cantik seperti Indah.
Keluarga Indah pasti keluarga terpandang dikampung ini. Satu-satunya rumah yang ditempati keluarga Indah dibangun cukup mewah dibanding rumah yang ada disekitarnya.
"Rupanya kamu . Ada apa jauh-jauh datang kesini, " kata Indah ketus dan berkacak pinggang.
"Dengarkan dulu penjelasanku, Indah. Perlu di garis bawahi kalau semua yang kamu lihat dikamar hotel tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu bisa cek lagi ke hotel itu. Aku dengan Anton sama sekali tidak ada hubungan. Kami hanya sebatas teman kerja. Percayalah, Anton hanya mencintaimu. Nyawaku sebagai taruhannya, "Sinta bersyukur Indah tidak memotong pembicaraan sama sekali.
" Sudah cukup. Tak ada hal yang lebih penting, "ucap Indah meremehkan.
Sinta terdiam dan pikirannya mulai buntu. Poin apalagi yang harus disampaikan agar Indah membuka hati nya kembali pada Anton.
" Anton pasti menyuruhmu datang kesini. Bilang padanya kalau kedatanganmu tidak akan merubah keadaan. Sejak dihotel itu aku sudah menghapus Anton dalam hidupku, "kata Indah menatap nanar ke arah depan.
" Sebaiknya kamu pikirkan dengan kepala dan hati yang jernih. Jangan hanya masalah sepele akan menghancurkan hidup kalian berdua, "kata Sinta dengan suara sedikit tegas.
" Kamu bisa ngomong apa saja. Tapi tak akan merubah keputusan ku, "balas Indah tak kalah tegasnya.
Ibunya Indah datang membawa dua buah cangkir dan ada secarik kartu undangan diatas nampan. Ibu Indah menaruh cangkir-cangkir tersebut diatas meja dan memberikan kartu undangan itu kepada Sinta.
INDAH & INDRA
Mata Sinta terbelalak membaca nama yang tertera pada kartu undangan pernikahan.
"Sudah jelas semuanya. Bilang pada Anton, aku akan menikah dengan Indra. Kalian tak perlu datang jika kalian berdua tidak berkenan"
"Ba... baiklah kalau begitu aku pulang dulu, " kata Sinta buru-buru pergi dengan membawa kartu undangan.
"Tehnya tak diminum? " tanya Ibu Indah namun Sinta terus berlalu dari sana dengan rasa malu.
Bersambung