Not Be Mine

Not Be Mine
Episode 17.Lebaran



Tak terasa lebaran akan tiba. Setelah satu bulan lamanya menunaikan ibadah puasa. Sartika berencana lebaran tahun ini akan mudik kekampung halaman. Menemui keluaganya yang sudah sangat dirindukan. Belum lengkap


rasanya jika belum bertatap muka dengan mereka. Sartika bersyukur ternyata cutinya disetujui atasan. Dan dengan sigap Sartika jauh-jauh hari memesan tiket kapal agar tidak kehabisan saat lebaran nanti.Biasanya selalu ludes di beli penumpang lain yang juga ingin mudik pas waktu sehari sebelum lebaran.


Ternyata hanya Dia seoang dalam ruangan yang ingin cuti pulang kampung. Teman-teman yang keluaganya tidak ada dikota ini mengurungkan niat untuk lebaran tahun ini di kampung. Rasa segan  menepa diri Sartika.


Dirinya yang masih tergolong masih baru sudah lancang mengajukan cuti pulang kampung.


“Tidak apa-apa. Kenapa mesti malu begitu. Wajarlah kalau baru merantau memang rasanya pingin pulang kampung melulu. Tapi kalau sudah lama merantau malah disini serasa dikampung. Pingin balik lagi,”kata Anton melegakan hati Sartika.


“Yahhh…bilang aja kalau yayangnya juga disini jadi betah deh,”Kata sinta ikut nimbrung.Anton hanya senyum-senyum dan pura-pura tidak mendengarkan apa yang diucapkan Sinta yang ada benarnya.


Melihat Anton salah tingkah  membuat Sinta dan orang lain yang melihat jadi tertawa.Anton senang saat tahu Indah juga tidak pulang kampung pada lebaran tahun ini. Sidang skripsinya akan diadakan dalam waktu dekat.Begitu juga dengan Anton tidak pulang kampung karena biasanya ia pulang kampung dua tahun sekali.Dan kebetulan tahun kemarin Anton sudah mudik.


“Jangan lupa oleh-oleh khas kampung kamu jika sudah balik lagi kesini. Biar kita tahu makanan khas daerah sana,”kata sinta penasaran.


“Tenang aja  nanti aku bawa sekarung oleh-oleh buat kalian semua. Awas tidak dihabiskan,”Sartika senang banget dan ingin cepat-cepat berada dikampung bersama keluarganya.


“Kamu gimana Leo?lebaran tahun ini rencananya ngapain. Apa mau meresmikan hubungan atau ketemu calon mertua disini. Biasanya kalau orang kaya waktu lebaran selalu open house,”Anton mengalihkan perhatian pada Leo yang dari tadi hanya duduk diam sambil mendengarkan sesuatu dari headset yang terpasang ditelinga.


Sadar melihat Anton menatap kepadanya seperti menanyakan sesuatu. Leo membuka telinga dan menyuruh Anton mengulangi pertanyaanya.


“Kamu tidak pulang kampung?”tanya Anton sedikit kesal.


“Tahun ini nggak ada rencana,”jawab Leo dan memasang headsetnya kembali.


Sartika diam saja mendengar sesuatu tentang Leo. Sejak ultimatum Sinta tempo hari, Sartika mulai membatasi sikapnya pada Leo. Sartika nyaris tidak pernah bicara lagi dengan Leo bahkan cenderung selalu menghindar.


Tapi hari ini adalah hari terakhir sartika bekerja sebelum lebaran tiba. Tak salah rasanya Sartika mengucapkan kata selamat berhari raya kepada rekan kerjanya. Satu persatu Sartika menyalami mereka termasuk pada Leo.


“Selamat lebaran mohon maaf lahir dan bathin”ucap Sartika pada Leo sambil menjulurkan tangan dan mengajak bersalaman.


“Iya aku juga. Titip salam buat keluarga dikampung. Mereka pasti sangat bahagia karena kehadiran kamu. Berbeda sama aku tak bisa lebaran di kampung. Disini pasti akan sepi saat lebaran karena semua orang pada pulang


kampung atau liburan keluar kota,”ucap Leo dengan nada sedih. Tahun ini memang tak ada rencana kemana-mana.Paling saat liburan Leo tidur di rumah. Untuk pulang kampungnya yang jauh membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Leo sudah  memberitahu orang tua kalau tahun ini tidak bisa lebaran di kampung. Mereka


juga mengerti dengan kondisi Leo dan tak memaksa anaknya harus mudik.


Ingin sekali Sartika bertanya apakah pada saa lebaran nanti Leo akan berkunjung ke rumah Siska dan bertemu dengan kedua orang tuanya seperti yang Anton bilang. Tapi pertanyaan itu dibiarkan menguap ke udara. Sartika


memilih untuk tersenyum membalas semua perkataan yang meluncur dari mulut pria itu. Andai semua itu terjadi dan setelah saling bertemu keluarga Siska tak ada yang tak mungkin hubungan mereka akan semakin erat atau bahkan akan bertunangan atau menikah.


melepaskan genggaman .


“Udah jangan seperti mau berpisah dan tak bertemu lagi. Aku jadi ikut sedih,”Sinta melepaskan genggaman tangan Leo dan sartika. Sinta heran melihat mereka bersalaman cukup lama.


“Aku juga mau ngucapin selamat lebaran teruntuk teman kerjaku yang paling bawel dan ngeselin tapi ngangenin,”Sartika memeluk Sinta.


“Jangan lama-lama pelukannya. Aku kan jadi pengen dipeluk juga” Anton tiba- tiba merangkul mereka dari belakang.


“Apa-apan sih .Bukan muhrim tau!”Sinta melepaskan pelukan dan segera menjauh.


Semua orang tertawa bahagia dengan lelucon yang dilakukan Anton  dan Sinta. Kalau melihat kelakuan mereka seharusnya mereka sudah menjadi sepasang kekasih.Sebab kekonyolan mereka satu frekuensi.


Setelah pulang kerja Sinta menemani Sartika berbelanja buat membeli baju lebaran untuk anggota keluarganya dikampung. Sartika membeli baju yang pantas untuk mereka. Baju yang tidak berkesan mewah tapi  berkualitas agar awet memakainya.Sartika juga membeli sandal buat ayahnya jika pergi ke sawah dan kain sarung panjang kegemaran ibunya. Dan membeli beberapa kue dan coklat untuk lebaran nanti saat menerima sanak saudara jika ada yang ingin bertamu kerumah.


“Senang banget ya kalau lebaran nanti semua keluarga pada kumpul,”kata sinta melihat Sartika membeli begitu banyak cemilan.


“Iya bener. Saudara ibu atau ayah pasti datang ke rumah membawa anak serta cucu mereka masing-masing. Rumah bakalan rame. Mereka pasti ingin bertemu denganku yang baru kembali dari rantau,”jawab sartika senang


membayangkan jika semua itu terjadi.


“Bagaimana dengan lebaran disini?”Sartika ingin juga mendengar lebaran versi keluarga sinta.


“Huuh lebaran sebenarnya menyenangkan tapi kalau tante ku pada datang pasti nanyain kapan menikah.Aku benci kalau ditanyain itu melulu. Memang menikah itu gampang.Sampai ada yang pakai jodohin segala lalu kasih


nomor handphone orang yang tidak dikenal,”kata Sinta


“Aku jadi kamu juga kesel banget. Mudah-mudahan  saat lebaran dikampung nanti  nggak ada acara jodoh-jodohan segala,”kata Sartika yang mulai cemas jika itu sampai terjadi padanya.


Sinta tersenyum kecut mendengar kegelisahan sartika . Dibanding Sartika tentu saja kekhawatiran keluarganya beralasan. Telah lama Sinta bekerja namun penghasilannya habis tidak tahu kemana. Tidak salah kalau


keluarganya menuntut Sinta agar segera menikah. Mau kemana arah hidup sinta yang semakin tak menentu padahal umur juga semakin hari semakin bertambah.


“Kadang kalau sudah terlalu muak dengan pertanyaan mereka tentang kapan menikah. Aku suruh mereka saja yang menikah.Prinsip aku menikah itu adalah privasi seseorang yang tak pantas di invansi oleh pihak manapun,ya nggak?”


“Kali ini aku setuju sama kamu,”jawab Sartika cepat .Perkataan Sinta ada benarnya.Bisa sakit hati tujuh hari tujuh malam mendengar pertanyaan orang lain tentang kapan menikah. Seperti tidak laku saja.


Bersambung